Notes On The Tides Of Technology In Turbulent Times

Judul     : Notes On The Tides Of Technology In Turbulent Times

Penulis  : Jusman Syafii Djamal

Diandra & LKPS @2018

 

Teknologi Menari Membentuk Ombak

Buku ini ditulis sebagai kumpulan catatan harian dalam jaringan Facebook. Setiap jam 05.00 setelah shalat subuh, ataupun sebelum tidur, saya selalu menyempatkan diri menulis apa yang ada dalam fikiran. Lebih dari 450 catatan pendek tersimpan sebagai notes. Telah tiga buku yang diterbitkan untuk catatan tersebut. Pertama, buku Notes on Leadership. Kedua, Notes on Strategy, dan ketiga adalah Notes on the Economic of Innovation. Kini saya menerbitkan buku yang berjudul Notes on A Tide of Technology in Turbulent Times.

Mengapa saya pilih judul catatan tetralogi seperti begitu? Saya mengamati fenomena menarik akhir-akhir ini. Sejak tahun 1973, saya menekuni bidang keahlian teknologi penerbangan. Kini, usia pengalaman tersebut mencapai 45 tahun. Saya mengamati bahwa tidak ada yang abadi dalam hidup ini. Teknologi telah menunjukkan kepada kita semua tentang ketidakabadian lansekap serta ekosistem bisnis dan ekonomi politik di sekitar kita. Kemajuan teknologi sebagai solusi problema yang dihadapi oleh masyarakat berjalan dalam dialektika. Teknologi sebagai solusi pada satu masa akan menjadi problema baru pada masa berikutnya, yang menjadi lahan subur bagi tumbuhnya benih teknologi baru sebagai solusi. Teknologi berjalan beriringan seperti ombak. Teknologi sebagai mesin pertumbuhan ekonomi di suatu era, menjadi penggerak perubahan dan ombak pertumbuhan teknologi baru. A tide of technology in turbulence times. Whatsapp telah membunuh BBM dari Blackberry. Mereka yang semula bercengkrama dan chatting online melalui aplikasi BBM, kini berganti Whatsapp dan Telegram. Kita yang terbiasa menonton video melalui DVD, kini memanfaatkan YouTube untuk mengunggah dan menyaksikan segala jenis tayangan. Internet bahkan menggantikan gedung perpustakaan umum dan sekolah. Google menggantikan fungsi kamus untuk menemukan kata yang kita cari. No condition is permanent in this world.

Ketidakabadian ini mengingatkan saya akan keindahan bercengkrama di pinggir pantai. Kita dapat meloncat-loncat, mengimbangi gerak ombak laut yang datang dan pergi. Kita dapat pula memanfaatkan keahlian bersilancar untuk menikmati puncak gelombang yang datang silih berganti. Meloncat-loncat dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan papan silancar di atas gelombang memerlukan keahlian dan keterampilan manusia bersumber daya iptek. Profesionalisme yang ditekuni dan dilatih bertahun-tahun.

Pengalaman selama 45 tahun mengajarkan saya sebuah hukum besi dalam penguasaan keterampilan, keahlian berteknologi. Untuk menjadi jagoan, sebagaimana dilakukan oleh maestro bulutangkis Rudi Hartono, atlit sepakbola Lionel Messi, Ronaldo, dan pegolf Tiger Wood, diperlukan passion atau hasrat yang menyala, kegigihan, dedikasi, dan spirit pantang menyerah. Mereka bekerja “24/7”, tujuh hari dalam seminggu dan 24 jam dalam sehari tanpa henti. Keahlian tak mungkin muncul secara tiba-tiba dari langit tanpa kerja keras.

Kemajuan teknologi itu pada awalnya bergerak seperti ombak yang kecil merambat ke pantai. Ada pasang surut ombak perubahan teknologi yang merubah tingkat efisiensi dan produktivitas bagi mereka yang mampu memanfaatkan dalam proses nilai tambah yang ditekuninya. Kemajuan teknologi yang berjalan jauh lebih cepat melampui clock speed-nya, akan berubah menjadi gelombang perubahan lansekap bisnis dan tata kelola. Ia menjadi kekuatan disrupsi. Ombak dan gelombang pasang surut kemajuan teknologi tumbuh merangkak dan berlari menggerakkan cara-cara baru dalam memproduksi barang. Ia terus-menerus melahirkan proses kerja yang jauh lebih efisien dan produktif. Gerakan ombak kemajuan teknologi harus dikuasai oleh suatu bangsa untuk menuju puncak kejayaan, seiring kekuatan investasi masa depan yang jauh lebih baik.

Pada mulanya, teknologi ditemukan sebagai solusi atas problema yang dihadapi. Pada tahun 1771, muncul masalah peningkatan permintaan akan baju, kain, dan penutup badan, serta barang menjelang perubahan musim di Eropa. Mesin pintal, mesin perajut benang, dan mesin tenun pun ditemukan untuk melahirkan solusi. Lahirlah industri dan produk tekstil. Teknologi bahan baku juga berkembang. Dari mula kapas, katun, dan ulat sutera, lantas menuju kain sutera dan rayon nilon. Semua jenis teknologi itu mengikuti bentuk huruf S. Ada embrio dan valley of death yang dihadapi oleh setiap teknologi baru. Setiap hurup S yang lama akan mengalami tingkat kejenuhan dan kekadaluarsaan.

Solusi teknologi sering juga melahirkan problema baru, muncul teknologi yang lebih baru menggantikan yang lama. Arahnya selalu pada dua ujung tombak, yakni peningkatan produktivitas dan efisiensi. Kurva berbentuk hurup S dari pertumbuhan kemajuan teknologi, berjalan sejak revolusi industri pertama kala mesin uap ditemukan oleh James Watt. Pada tahun 1771, hadir embrio mesin tekstil bertenaga uap yang mampu memintal benang menjadi kain. Hal ini membuat industri manual pemintalan benang rumahan  berangsur lenyap. Kurva S industri dan produk tekstil menjadi  penggerak roda ekonomi sejak tahun 1771 hingga 1853. Kurva S teknologi tekstil ini bermula sejak dalam benih atau embrionik, tumbuh sebagai balita produktif, kemudian menjadi tua. Mesin uap juga mendorong tumbuhnya teknologi perkeretapian dari posisi embrionik di tahun 1825, hingga meningkat matang dewasa dan produktif pada tahun 1913. Begitu juga ombak kemajuan teknologi otomotif dan pesawat terbang.

Pergeseran ombak teknologi atau The tides of technology, yang saya sajikan dalam slide di atas, mewarnai perubahan paradigma bisnis hingga kini. Ombak pergeseran teknologi yang dapat memiliki dampak, seperti pergeseran lempeng tektonik Euroasia, sebagaimana ditulis oleh Lester Thurow dalam buku Head to Head Competition, menyebabkan lansekap bisnis terus berubah. Semua itu memerlukan proses adaptasi dan mitigasi agar bisnis dan pekerjaan yang kita tekuni tak lenyap tertelan ombak perubahan yang berlangsung setiap detik. Senang atau tidak, mampu atau tidak, ombak itu terus berjalan.

Teknologi digital kini menjadi game changer. Dunia maya kini berkelindan dengan dunia nyata. Ada konvergensi antara cyber space dengan physical space. Itu semua mengubah tingkah laku pergaulan masyarakat. Di sini kita amati kegamangan para politisi dalam mencermati perilaku konstituennya. Akibatnya, kita menyaksikan proses tarik ulur, tarian poco-poco politik mundur maju dalam menentukan langkah kuda dan ujung tombak yang perlu ditonjolkan untuk memenangkan pertarungan jangka pendek dan jangka panjang.

Buku ini menjadi mudah dibaca karena saya ditemani oleh seorang sahabat, sdr. Hurri, sarjana ilmu sejarah dari Universitas Indonesia. Saya meminta Hurri menjadi editor dari kumpulan catatan ini. Ia bekerja dengan sepenuh hati untuk menyisir kata-kata yang keliru, kalimat yang kurang tepat, dan paragraf yang terlihat kurang smooth. Ia membuat catatan saya mengalami pasang surut dalam irama kata dan bahasa yang jauh lebih baik, agar mudah dibaca oleh para pembaca.

Mudah mudahan bermanfaat. Salam

 

 

You may also like...