
Guru Mahmud Romli diapit anak dan cucu
(foto: Yopi Burhan Arif)
Tidak banyak dari kita yang tahu bahwa pada era kolonial Belanda di Batavia (kini bernama Jakarta), pernah hidup seorang ulama pendekar yang rendah hati dan jarang bicara. Dia bernama Kyai Haji Mahmud Romli, biasa disapa sebagai Guru Mahmud. Semasa masih remaja, Guru Mahmud berangkat ke tanah suci dan tinggal bersama orang tua serta ketiga saudaranya. Guru Mahmud berangkat ke Mekkah pada usia 11 tahun, Ia banyak melakukan pengembaraan di Jazirah Arabia seorang diri selama hampir 17 tahun, sebagai upayanya mendalami agama Islam. Untuk mempertahankan hidup, Guru Mahmud bekerja sebagai anggota satuan pengamanan kafilah dagang yang melintas gurun-gurun Saudi.
Setelah menginjak usia 28 tahun, kakaknya meminta Guru Mahmud untuk pulang ke Indonesia dan menikah dengan sepupunya. Yang dimaksud “sepupu” tersebut adalah Rogayah. Pesan itu dilaksanakan dengan baik oleh Guru Mahmud. Setelah pulang dari Arab, Guru Mahmud menikah dengan Rogayah tanpa menjalani masa pacaran terlebih dahulu. Karena dibesarkan di Arab, jadilah Guru Mahmud hanya bisa berbahasa Arab. Di Batavia mulailah dia belajar kembali bahasa Indonesia/bahasa Melayu. Pasangan itu kemudian dikaruniai satu orang anak perempuan, yang dinamai Ramlah. Ramlah kemudian dinikahkan dengan KH. Abdullah Muhrim dan memiliki sembilan anak.
Karena pindah ke Batavia, Guru Mahmud harus banting setir dalam upayanya mencari nafkah. Ia adalah sosok yang tidak banyak bicara. Guru kemudian juga berdagang burung dan batu-batuan. Meskipun terbuka kesempatan menjadi penghulu, sebagaimana tawaran pekerjaan dari pemerintah kolonial Belanda, Guru Mahmud menolak dan hanya mengharapkan “gaji dari Tuhan saja.” Guru Mahmud mengatakan, “Saya bisa nyari duit sendiri, kagak usah digaji pemerintah Belanda”. Sikap keras itu mungkin karena lamanya pengembaraan di padang pasir Saudi.
Guru Mahmud kemudian menjadi ulama yang terkenal mumpuni, baik dari segi ilmu, sikap, maupun kejawaraannya. Ia terkenal sampai ke Malaysia. Selama masa pengabdian di Batavia, Guru Mahmud berteman baik dengan Guru Mansur, sebuah persahabatan yang terjalin sejak masih tinggal di Arab Saudi.
Orang-orang mengenalnya sebagai ulama. Tetapi mereka pun mengenal Guru Mahmud sebagai seorang pendekar ahli silat. Keahlian silat itu tidak digunakan oleh Guru Mahmud secara semena-mena, namun demi menunjang dakwahnya saja. Hal itu ditunjukkan saat seorang maling masuk ke rumahnya. Bukannya mendapat barang berharga, saat masuk tubuhnya malah berubah jadi kaku. Oleh Guru Mahmud, maling itu tidak digebuki tetapi justru diajak sholat dan mengaji. Pendekatan tanpa kekerasan itu membuat si maling insyaf dan kembali ke jalan yang benar.
Guru Mahmud melihat semua orang dianggapnya sama sebagai mahluk Allah. Kata Guru Mahmud, yang selalu diingat jelas oleh para keturunannya adalah: “Surga bukan milik kita doang” Itu sebabnya banyak yang masuk Islam lewat pendekatan Guru Mahmud. Ia selalu mengedepankan sikap yang humanis.
Guru Mahmud seorang pendekar. Ia ahli silat. Ia juga secara spiritual dan secara fisik menentang penjajahan. Kependekaran Guru Mahmud ditunjang oleh postur tubuhnya yang besar dan pemberani. Karena itulah bila seorang tentara Belanda lewat di ujung jalan Menteng Sukabumi, ia kadang turun dari kudanya karena segan dengan Guru Mahmud
Karena Guru Mahmud merupakan ulama dan jagoan yang tak mau bekerjasama dengan Jepang, ia dan istrinya pernah hendak dijahati oleh pemerintah pendudukan, Ada satu kejadian yang bahkan mengancam nyawa Guru. Pada masa itu kyai yang tak mau bekerjasama memang dimusuhi oleh Jepang. Suatu hari mereka diundang datang ke sebuah acara dimana di suatu jalan sudah dibuat lubang yang dalam. Guru Mahmud diharapkan terjebak. Tujuannya, ia akan dibunuh secara kecelakaan. Tapi, nyatanya ia selamat tak kejeblos lubang. Setelah kejadian tersebut, beberapa kali hidupnya hendak dihabisi namun selalu lolos.
Hingga usia lanjut, Guru Mahmud mengajar berbagai ilmu Islam kepada murid-muridnya. Di antara muridnya yang kemudian menjadi ulama terkenal adalah KH Abdullah Syafi`i. Ia menimba ilmu fikih Bujairimi dan ilmu tasawuf Ihya `Ulumiddin. Sejak tahun 1950 hingga jelang wafatnya Guru Mahmud pada tahun 1959, ia juga mengajarkan berbagai ilmu dan ilmu tafsir kepada KH. Syafi’i Hadzami (lahir 1917), KH. Thabrani Paseban, KH. Abdul Hadi Pisangan, KH Muhammad dari Cakung, ulama Syafrie dari Kemayoran KH. Fathullah Harun, dan lain-lain.
Usia yang telah masuk 93 tahun merupakan usia yang amat lanjut bagi Guru Mahmud. Ia pun kemudian dipanggil untuk menghadap Allah SWT. Ketika Guru Mahmud wafat, salah satu muridnya sedang melakukan ibadah umroh. Begitu mendapat kabar tersebut, entah bagaimana caranya, ia tiba-tiba bisa datang melayat. Guru Mahmud wafat pada 27 Ramadhan atau sekitar tahun 1959 M. Semula ia dimakamkan di Karet kemudian dipindah ke TPU Jagakarsa, Jakarta Selatan oleh putranya, H. Mawardi.
Sumber: Hurri Junisar & Yunadi Ramlan, 2016, Guru Mahmud Romli: Membangun Kampung Santri, Jakarta, LKPS
