
Judul : Notes On Strategy and Techno Economy
Penulis : Jusman Syafii Djamal
LKPS 2015
Pada awalnya strategi bermakna ketika perang perebutan teritori terjadi. Perang melahirkan apa yang disebut oleh Claustwitz sebagai “a fog of war”, kabut yang menutupi realitas medan peperangan. Perang selalu berbenturan dengan “animosity“, ketidakpastian yang dapat menjurus pada kekacauan. Apa-apa yang diprediksi ternyata keliru. Muncul rangkaian kejutan. Dalam suasana yang tidak pasti, strategi menjadi punya makna.
Strategi muncul sebagai fenomena dan seni tatakelola untuk memilih jalan tercepat tanpa kendala menuju tujuan. Seni untuk memisahkan mana bahaya jangka pendek, mana resiko jangka panjang, dan segala alternatif mitigasi resikonya. Ada ritme tindakan untuk meneropong problema yang jauh di bawah kendali dan mengambil jarak pada bahaya di depan mata. “In strategy it is important to see distant things as if they were close and to take a distanced view of close things,” begitu kata Miyamoto Musashi, legendary Japanese swordsman.
Musuh tak kasat mata setiap pemimpin adalah ketidakpastian. Suasana tak pasti melahirkan kebimbangan. Sesuatu yang tak mampu diprediksi memunculkan “randomness solution” yang bersifat seketika atau “adhoc”. Situasi acakadut dapat melahirkan tindakan tanpa arah dan penuh resiko. Akan tetapi ketidakpastian juga melahirkan oportunitas. Kesempatan, celah yang terbuka untuk melepaskan diri dari belenggu masa lalu.
John F Kennedy pernah bilang begini: Kata krisis dalam aksara China ditulis dalam dua sapuan kuas kaligrafi. Kuas pertama menunjukkan makna kata “challenge”, tantangan ketidakpastian dan kuas kedua berarti “opportunity”, kesempatan baru terbuka. Ketika saya dulu menjadi Direktur Sistem Senjata di IPTN tahun 1996, ada kata yang menarik yakni ”Danger is my business”, bahaya adalah sumber revenue saya.
Dalam pasar saham, istilah krisis dalam aksara China bisa jadi pegangan para spekulan. Krisis memunculkan suasana ketidakpastian dan melahirkan persepsi. Tiap persepsi pasar dapat digoreng ke sana ke mari untuk aksi ambil untung dan buang resiko. Begitu juga dalam dunia kasino atau arena perjudian. Memilih angka buah dadu yang sedang berputar di mesin roullete bisa melahirkan uang melimpah atau kebangkrutan. Pasar saham kadangkala juga dianalogikan sebagai penggerak utama casino economy. Dimana tingkah laku ekonomi ditentukan oleh spekulasi. Hal ini yang menyebabkan dalam ilmu matematika dikenal teori dan model simulasi Monte Carlo.
Semua proses transformasi memerlukan visi tentang masa depan, dan visi bukanlah mimpi. Mimpi merupakan bunga tidur, yang ketika terbangun semua menjadi fatamorgana. Realitas tetap tak berubah. Visi berkebalikan dari mimpi, ia merupakan bayangan konfigurasi masa depan yang dibayangkan akan terjadi. Suatu gambaran riil dari tujuan yang hendak dicapai.
Visi pemimpin memerlukan perencanaan strategis, langkah sistematis berkesinambungan untuk mentransformasikan situasi masa kini yang tidak pasti dan tidak mudah diprediksi, serta seolah ada chaotic situation, menjadi suatu bentuk keteraturan dengan pola teratur dan dapat diprediksi. From chaotic transform into disorder and changing into orderly situation.
Pentingnya memahami makna ketidakpastian dan peranan strategi dalam kehidupan sehari-hari, membuat saya tergerak untuk menulis catatan yang saya kumpulkan dalam facebook perihal ini. Karenanya buku ini ditulis. Judul Notes on Strategy and Techno Economy dipilih karena saya teringat pada seorang ekonom yang memiliki background teknologi yakni Schumpeter yang terkenal dengan teorinya tentang Creative Destruction dan Innovation.
Dalam kerangka olah fikir Schumacher ketidakpastian merupakan benih dari kesempatan bagi mereka yang berjiwa entrepreneur, yang selalu berorientasi pada inovasi. Ketidakpastian melahirkan kebutuhan akan solusi baru, proses baru dan produk baru. Sistem, Struktur dan Mekanisme baru menggantikan yang lama akan lahir jika kepastian dipandang sebagai challenges atau Tantangan Baru. Ketidakpastian dapat melahirkan teknologi baru, atau sebaliknya kejenuhan teknologi dan munculnya teknologi pengganti sebagai kekuatan transformasi dapat melahirkan ketidakpastian. Tiap teknologi melahirkan kondisi dan situasi kehidupan ekonomi yang baru. Techno ekonomi menjadi kata kunci kemajuan.
Buku ini merupakan catatan pengalaman masa lalu yang menjadi inspirasi ketika menulis catatan dalam facebook saya. Catatan yang dibuat dari dialog batin saya dengan pengalaman yang saya temui. Lebih dari 20 tahun saya bekerja pada satu bidang keahlian, sebagai seorang insinyur perancang pesawat terbang yang menekuni bidang keahlian aerodinamika dan new product development. Saya sering diminta membuat feasibility study tentang produk unggulan masa depan.
Boleh dikata saya punya kesempatan memiliki pengalaman lebih dari sepuluh ribu jam terbang. Saya juga ber-travelling ke pelosok dunia lain dengan pesawat terbang, yang juga lebih dari sepuluh ribu jam terbang. Batas kriteria sebagai seorang ahli boleh dibilang saya lalui dengan baik. Hobi saya salah satunya adalah membaca buku, sampai-sampai isteri dan anak-anak menjuluki saya kutu huruf karena saya selalu baca semua tulisan. Saya punya pengalaman hampir tujuh tahun tanpa henti bepergian dengan pesawat terbang ke pelbagai Negara. Perjalanan 14 jam non stop, atau perjalanan dengan transit di sana sini saat bepergian di tahun 1982 hingga 1990 menyebabkan saya membunuh waktu luang dengan membaca.
Salah satu jenis buku yang saya senangi adalah Sun Tzu dengan buku klasik berjudul The Art of War. Ada juga Jomini, atau Claustwitz dalam buku dengan judul yang sama, yakni Seni Perang. Dalam buku ini saya bertemu dengan apa yang mereka sebut sebagai “Fog of War“, kabut yang menyelimuti pandangan dan perspektif strategis dari seorang jenderal.
Setiap perang melahirkan “fog of war“, ketidakpastian posisi kekuatan dan kelemahan lawan, dimana selalu lahir kejutan atas potensi keunggulan lawan yang tadinya diperkirakan amat lemah. Selalu ada fenomena perubahan medan tempur karena perubahan lingkungan yang melingkupinya. Ketidakpastian yang bisa hadir secara tiba tiba. Karenanya dalam ilmu matematika lahir ilmu yang dikenal sebagai “chaos theory”, usaha sistematis untuk mengenali tingkah laku setiap elemen dari sebuah fungsi relasi sebab akibat, dan relasi lainnya yang bisa melahirkan diskontinuitas, ketidakberaturan. Dalam situasi chaos, sebuah tindakan kecil dapat memiliki dampak yang luas.
Dalam buku tentang Chaos Theory, saya bertemu istilah butterfly effect. Yang mengatakan bahwa kepak sayap kupu-kupu di hutan Amazon secara terus-menerus dalam jumlah ribuan akan merubah tingkah laku cuaca dan melahirkan badai di belahan dunia lain seperti “weather storm” di Amerika Utara. Fenomena efek kepak sayap kupu-kupu ini hanya ingin menjelaskan bahwa dalam suatu model system dynamics, kita tak boleh abai pada rincian dan hal-hal sepele. Sebab suatu kejutan kecil akan menimbulkan resonansi, perambatan getaran yang dampaknya akan mempengaruhi keseimbangan sistem secara keseluruhan.
Oleh karenanya dalam situasi tak menentu, proses pengambilan keputusan perlu difikirkan dengan matang dan penuh kehati-hatian. Keputusan cepat harus segera diambil, tapi bukan keputusan yang terburu-buru dan tanpa hitungan resiko. Ambil contoh seorang presiden yang memiliki tekad untuk tidak mengimpor beras. Jika isu tersebut digaungkan terus-menerus, akan muncul dua persepsi dalam masyarakat.
Persepsi pertama, ada kepastian bahwa petani dalam negeri akan lebih sejahtera dan pasokan dalam negeri mencukupi. Tetapi persepsi positif ini dapat digunakan sebagai trigger awal oleh pedagang spekulasi untuk berupaya “menggoreng” persepsi publik ke sana ke mari. Karena Indonesia begitu luas dari Sabang hingga Merauke, para pedagang yang menguasai jalur distribusi mampu memainkan volume pasokan di satu titik tertentu. Kekurangan pasokan di satu titik menyebabkan demand lebih besar dari supply, membuat harga naik di titik tersebut. Melalui pelbagai cara untuk memainkan volume arus beras, dapat tercipta kesenjangan supply and demand di pelbagai titik. Akhirnya ada kecenderungan harga naik terus dan muncul spekulasi di semua titik dan seluruh wilayah Republik Indonesia.
Langkah operasi pasar seketika akan dilakukan. Jika tanpa perencanaan, operasi pasar yang tak terkendali akan melahirkan kekurangan cadangan stok beras secara nasional. Akhirnya impor harus dilakukan. Jika imej positif tentang kepastian tidak dikelola dengan baik, akan dapat di-twist dan dirombak ke sebaliknya. Tekad untuk tidak mengimpor beras akan bisa “digoreng” ke sana ke mari oleh persatuan kelompok pedagang yang selalu mendapatkan keuntungan lewat program impor, untuk melahirkan kebijakan ad hoc impor beras.
Ketika belajar menjadi ahli aerodinamika dan perancangan pesawat terbang, fenomena ketidakpastian dan skenario tentang “worst case” atau kondisi terburuk sering jadi pusat perhatian. Begitu juga ketika menjadi salah satu asisten utama Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie dari tahun 1989 hingga 1998, saya sering diajak membantu membuat pelbagai skenario kemungkinan masa depan melalui pembuatan model simulasi numeric dan model dinamis dari realitas sehari-hari. Ditambah lagi ketika diangkat menjadi Ketua Tim Implementasi Restrukturisasi, Direktur SDM IPTN, saya mendapat kesempatan menata ulang struktur, menghilangkan layer organisasi, dan mengurangi jumlah karyawan dari 16 ribu menjadi 9 ribu orang dalam tempo dua tahun. Ketika tahun 2007-2009 saya diangkat Presiden SBY menjadi Menteri Perhubungan Kabinet Indonesia Bersatu pertama, banyak kecelakaan transportasi terjadi. Saya diminta menjalankan program Roadmap to Zero Accident dan mereformat lima Undang-Undang Transportasi. Ini menjadi pengalaman untuk menemukan batas gerak maju dari sebuah tindakan dalam merubah situasi.
Dari pengalaman, saya bertemu dengan banyak kasus dimana siklus hidup atau life cycle yang dijalani dalam kehidupan seseorang juga berlaku pada kehidupan perekonomian suatu kelompok, perusahaan atau bangsa. Ada masa embryonics, balita yang tumbuh berkembang menjadi remaja, produktif, tua, dan jenuh. Dikenal istilah growth, expansion, saturated dan stagnation. Tiap transisi dari satu fase ke fase lain menimbulkan fenomena ketidakpastian. Demikian pula hal-hal yang tidak mudah diprediksi atau tidak pasti, juga bisa muncul jika terjadi accident, baik kereta api, kapal, kendaraan angkutan darat, maupun pesawat terbang. Kecelakaan melahirkan rasa panik, baik bagi yang mengalaminya secara langsung maupun bagi sanak saudaranya. Ada rasa ketidakpastian menyelimuti setiap accident yang terjadi.
Saya sadar, pastilah banyak kekurangan dalam catatan pengalaman yang ditulis dalam buku ini. Akan tetapi catatan keseharian penulis yang pernah direkam dalam pelbagai catatan facebook ini mudah-mudahan dapat dinikmati sebagai upaya sharing pengetahuan.
Dalam menulis catatan ini menjadi sebuah buku, saya meminta bantuan dan dukungan seorang ahli sejarah lulusan Universitas Indonesia yang kebetulan saya kenal ketika ia mewawancarai saya dalam upayanya menelusuri sejarah gerakan mahasiswa ITB tahun 1978. Buku yang ditulisnya berjudul Golak Ganesha.
Saya mengenal Hurri, begitulah ia bisa dipanggil sejak lama, dan senang dengan caranya menulis. Saya meminta dia untuk membaca tulisan-tulisan saya dalam Facebook, mengeritiknya dan mengkompilasi serta memilah-milah mana yang jadi awal mana yang diletakkan di tengah dan mana akhirnya. Profesionalismenya dalam menulis dan latar belakang pengetahuannya tentang sejarah menyebabkan Hurri menarik diajak berkolaborasi sebagai teman dialog.
Hurri membaca tulisan saya. Kesalahan ketik dan kalimat atau kata-kata yang digunakan ia perbaiki. Jika keningnya berkerut ia minta saya menambahkan sedikit rincian untuk menjelaskan apa yang dimaksud. Karenanya, buku ini meski merupakan kumpulan tulisan di facebook saya, di sana sini sudah mengalami revisi dan perbaikan. Jadi otentisitas tulisan kurang dijaga.
Tapi saya berusaha keras untuk menjaga otentisitas fikiran dan substansi tulisan yang ada di Facebook. Sebab saya tahu, ketika menulis, pastilah ada dorongan jiwa dan sesuatu yang ingin saya sampaikan ketika itu. Ada originalitas ide dalam setiap tulisan saya.
Originalitas itu muncul karena saya membaca buku atau karena saya berdialog dengan seseorang, atau karena saya mengunjungi suatu tempat. Semua rekaman yang membuat tangan saya bergerak untuk menulis. Meski saya tahu apa yang ada dalam Facebook seperti “fingerprint” sidik jari yang akan terus ada dalam memori server-nya facebook dan tidak akan hilang selamanya. Saya juga sertakan komentar teman-teman pembaca Facebook saya untuk mengamati jejak dialog yang terjadi.
Buku ini diawali dengan catatan ketika di masa krisis ekonomi tahun 1998 mendapatkan assignment atau tugas untuk menjadi Ketua Tim Transformasi IPTN. Perusahaan BUMN Industri Pesawat terbang yang didirikan tahun 1976 itu mencapai puncaknya di tahun 1995 dengan menerbangkan pesawat hasil rekayasa dan rancang bangun putra-putri terbaik Indonesia, lantas oleng dihantam krisis ekonomi tahun 1997. IPTN terpaksa melakukan penghematan besar-besaran dengan me-layoff kurang lebih 7.000 karyawan dalam dua tahun. Inilah pengalaman dari seorang yang mendapatkan kesempatan menjadi captain pilot, ketika sebuah pesawat terbang terjebak dalam awan Cumulonimbus. Sebuah Survival Model.
Dalam kesempatan ini izinkan saya mengucapkan terimakasih pada isteri saya, Arita Matthias Aroef yang selalu sabar melihat kegelisahan saya dan membiarkan saya bangun malam-malam untuk mengetik di kamar kerja. Saya juga ingin menyatakan rasa sayang saya pada Arita, yang telah hidup bersama saya sejak tahun 1990. Menaiki bahtera hidup dalam gelombang suka dan duka. Bersamanya saya diamanahkan tiga orang putra putri yang kami rawat bersama dengan penuh kasih sayang. Dari mereka, kadangkala saya mendapatkan inspirasi untuk menulis. Tanpa mereka saya sukar memiliki kegembiraan.
Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Sdr. Hurri dan kawan- kawannya yang telah dengan teliti bekerja cermat melakukan editing, merancang layout dan membuat buku ini dapat naik cetak. Semoga Allah membalas kebaikan mereka.
