Jejak Sejarah di Kota Depok

Jejak Sejarah di Kota Depok

Prolog

Di kawasan Depok Lama, banyak bangunan tua yang tersisa telah mengalami alih fungsi. Warisan sejarah Kota Depok berpotensi untuk dijadikan objek wisata. Upaya tersebut perlu dilakukan agar masyarakat dapat menikmati warisan sejarah melalui objek wisata di Kota Depok

Obyek Sejarah Alam dan Wilayah

  1. Studio alam TVRI

Tempat ini biasa digunakan sebagai lokasi pengambilan gambar beberapa program TVRI dan televisi lain, beralamat di Jalan Raden Saleh, Kecamatan Sukmajaya, Depok. Studi Alam TVRI Depok dibangun pada masa Dr. Ishadi Soetopo Kartosapoetro menjabat sebagai direktur stasiun televisi nasional. Tokoh jurnalistik yang dikenal dengan nama Ishadi SK itu kemudian dikenal sebagai pendiri studio alam. Sebagai tempat wisata alam tentu saja Studio Alam TVRI Depok memiliki banyak pepohonan rindang. Tempat wisata seluas 30 hektar ini juga memiliki 19 rumah adat yang mulanya digunakn untuk kepentingan pengembilan gambar. Terdapat rumah joglo, rumah tradisional daerah Sumatra, rumah panggung Kalimantan, dan sebagainya. Di sini pengunjung juga dapat menumpai lapangan tenis yang belakangan dimanfaatkan sebagai lapangan tembak.

  1. Taman Hutan Raya (Tahura) Pancoran Mas

Tahura Pancoran Mas merupakan bagian dari ruang terbuka hijau (RTH) atau hutan kota milik Pemerintah Kota Depok yang berfungsi untuk menekan pencemaran udara, perubahan iklim, dan penampung cadangan air bersih. Menurut Undang-Undang nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, tahura merupakan kawasan pelestarian alam atau konservasi dengan ciri khas tersendiri dan ekosistem asli atau masih utuh. Tahura dikelola pemerintah untuk tujuan pelestarian berbagai macam flora dan fauna, baik endemik tahura atau bukan endemik. Di samping itu, tahura dimanfaatkan bagi kepentingan umum sebagai tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, dan pendidikan. Selain juga, untuk tujuan budaya, pariwisata, dan rekreasi.

Masyarakat setempat lebih mengenal hutan Kota Depok itu sebagai Cagar Alam Pancoran Mas. Sebutan itu tak salah karena sebenarnya selama 200 tahun daerah itu merupakan kawasan pelestarian alam sebelum statusnya diubah menjadi tahura pada 1999. Tahura semula memiliki luas 150 ha dan merupakan hibah dari Cornelis Chastelein, yang ia tuliskan dalam sepucuk surat wasiat bertanggal 13 Maret 1714. Ia menuliskan bahwa lahan hutan di Pancoran Mas dengan kontur berbukit-bukit itu tidak boleh dipindahtangankan dan harus dikelola sebagai sebuah cagar alam atau natuurreservaat karena keindahan alamnya.

  1. Citayam Land

Keberadaan pabrik kapur di Land Tjitajam terdeteksi pada tahun 1875. Kapur dari Tjitajam ini sebagai bagian dari komoditas yang diangkut kereta api untuk dikirim ke Batavia dan Buitenzorg. Pengusahaan pembuatan kapur di Land Tjitajam diduga sudah muncul sejak lama dan berkembang pesat setelah adanya angkutan kereta api Batavia-Buitenzorg yang salah satu halte (stasion) terdapat di Land Tjitajam. Pabrik kapur (kalkbranderij) Tjitajam berada di Kampong Boelak Koelon, area yang dibatasi sungai Pesanggrahan dan berseberangan dengan Kampong Pasir Poetih di Land Sawangan.

Dalam perkembangannya, untuk meningkatkan volume perdagangan kapur di Buitenzorg dan Batavia, antara Kalkbranderij Tjitajam dengan Stasion Tjitajam dibangun rel kereta lori. Jalur kereta lori ini dari Boelak Koelon ke pertigaan jalan Pitara dengan jalan Rawadenok, kemudian menuju Hek dan lalu melalui Kampong Lio (sisi selatan Situ Tjitajam) dan selanjutnya ke Stasion Tjitajam. Jalur kereta lori ini dalm Peta 1901 belum ada tetapi dalam Peta 1926 sudah eksis. Besar dugaan rel lori ini dibangun bersamaan dengan peningkatan halte Tjitajam menjadi stasion pada tahun 1920.

Pabrik pembuatan kapur Tjitajam diduga beroperasi cukup lama hingga akhirnya berhenti berproduksi karena kehabisan bahan baku. Pabrik kapur berikutnya yang kemudian dikenal terdapat di Land Tapos. Namun, kini situs pabrik kapur yang beroperasi hampir satu abad hanya tinggal kenangan. Tragisnya, di tempat dimana pabrik itu berada kini menjadi tempat pembuangan sampah (TPA Cipayung).

  1. Cagar Gong Si Bolong

Tempat ini adalah situs cagar budaya tempat ditemukannya Gong Si Bolong yang merupakan icon tugu tanah baru dan Icon kesenian kota depok.

Obyek Sejarah Bangunan dan Fisik

  1. Rumah Sakit Harapan Depok

Berlokasi di kawasan Jalan Pemuda, dahulunya bangunan ini adalah bangunan kantor dari Cornelis Chastellain yang merupakan pusat pemerintahan kotapraja Depok dimasa lampau. Diperkirakan bangunan tersebut dibangun pada tahun 1880. Semasa hidup, Cornelis Chastelein telah mendidik para pekerjanya dengan berbagai pengetahuan praktis untuk mengelola dan menata desa, pertanian, serta perpajakan. Dia juga mengajarkan bagaimana mencari nafkah, kaidah-kaidah rohani, dan kaidah-kaidah rumah tangga.

Sejak wasiat Chastelein berlaku, ke-12 pewarisnya mulai mengelola sendiri tanahnya dengan aturan bagi hasil yang diawasi oleh Gemeente Bestuur (Kotapraja) Depok yang mereka bentuk sendiri. Bekas bangunan kantor Gemeente Bestuur saat ini telah beralih fungsi menjadi Rumah Sakit Harapan, di Jalan Pemuda. Bangunan Rumah Sakit Harapan masih tetap mempertahankan bentuk asli dari kantor Kotapraja Depok itu. Makam keluarga 12 marga bekas budak petinggi VOC Cornelis Chastelein ada di belakang RS Hermina Depok.

  1. SDN Pancoran Mas 2

Bangunan sekolah dasar ini dahulunya merupakan satu areal dengan bangunan RS Harapan Depok. Di masa lalu, Cornelis Chastellain menggunakan bangunan ini sebagai tempat ia mengajar kepada para budak pekerjanya.

  1. Bangunan Gereja Immanuel

Bangunan gereja ini dibangun pada tahun 1714. Awalnya bernama Gereja Jemaat Masehi dan kemudian berganti nama menjadi GPIB Immanuel. Gereja Immanuel dibangun pada tahun 1714, bertepatan dengan tahun meninggalnya Cornelis Chastelein. Sebelum wafat, Cornelis Chastelein sempat meresmikan bangunan peribadatan itu. Mulanya, gereja ini dibangun dengan material kayu dan bambu, kemudian mengalami beberapa kali renovasi. Pada tahun 1792, material kayu diganti dengan batu agar tahan gempa. Di tembok depan GPIB Immanuel tertulis ‘Didirikan 1854 Jemaat Masehi Depok’, merujuk pada tahun dibukanya kembali gereja setelah sempat roboh akibat gempa. Gereja itu memiliki 12 pintu yang masing-masing diberi nama ke-12 marga orang Depok.

  1. Jembatan Panus

Jembatan yang dibangun pada tahun 1917 oleh Stefanus Leander ini, pada masa lalu merupakan jalan penghubung utama antara Depok dengan Bogor. Jembatan Panus menghubungkan Jalan Siliwangi dengan Jalan Tole Iskandar. Jembatan ini tidak lebar (sekitar 4 meter) dan hanya dapat dilalui satu kendaraan. Karena itu, bila ada dua kendaraan yang akan lewat dari dua arah yang berbeda, harus dilakukan secara bergantian. Yang menarik, pada tiang-tiang beton penyangga jembatan ini terdapat garis ukur untuk mengukur ketinggian air sungai Ciliwung yang ada di bawahnya. Ketinggian air sungai Ciliwung yang berada di bawah Jembatan Panus ini juga menjadi indikator atau barometer debit air sungai Ciliwung setelah bendungan Katulampa di Bogor untuk kewaspadaan terhadap banjir di Jakarta.

Kini jembatan ini hanya digunakan untuk akses ke sebuah kawasan perumahan dan sekitarnya, karena telah dibuatkan sebuah jembatan pengganti (dibangun pada tahun 1992) yang lebih lebar di sisi jembatan Panus. Walau demikian, jembatan pengganti ini disebut dengan Jembatan Panus Baru, dan jembatan sebelumnya disebut Jembatan Panus Lama.

Jembatan Panus dibangun pada tahun 1917 oleh seorang insinyur bernama Andre Laurens.

Julukan Jembatan Panus diberikan berdasarkan nama Stevanus Leander. Stevanus Leander  adalah seorang warga yang tinggal di samping jembatan tersebut. Namun untuk memudahkan lafal, nama itu disingkat menjadi ‘Panus’.

  1. Rumah Cimanggis

Rumah ini dahulunya adalah tempat tinggal dari istri Gubernur Jendral VOC Robertus Van Der Parra. Kondisi bangunan yang dibangun selama 3 tahun tersebut 1775-1778, kini dalam keadaan rusak. Lokasi rumah ini berada di lahan RRI Radar Cimanggis, Depok.  Rumah Cimanggis adalah bangunan cagar budaya yang terletak di Jalan Raya Bogor, Kompleks RRI, Cimanggis, Kota Depok. Rumah Cimanggis dibangun oleh Gubernur Jenderal Petrus Albertus Van der Parra pada tahun 1775 sebagai landhuis atau rumah peristirahatan (vila).

Namun, sebelum bangunan selesai dibangunan, Van der Parra keburu meninggal dunia. Bangunan dan lahan itu lalu dia wariskan kepada jandanya, Johanna Bake.

Sebelumnya, Rumah Cimanggis dibangun di atas lahan perkebunan karet dengan jalan amat buruk. Saat Van der Parra membangun Rumah Cimanggis, dia juga turut membangun jalan menjadi sangat modern (sekarang Jalan Raya Bogor). Karena jalan bagus, lokasi itu pun menjadi ramai dan menjadi salah satu titik transit dan tempat pergantian transportasi kuda.

Pada kemudian hari, Gubernur Jenderal Daendels menjadikan jalan yang dibangun Van der Parra sebagai standar atau acuan dalam membangun Jalan Raya Pos sepanjang Anyer-Panarukan. Pembangunan jalan yang dilakukan Daendels itu untuk membangun kota modern ke arah selatan Batavia.

Walaupun telah mendapatkan rekomendasi dari Tim Ahli Cagar Budaya agar Rumah Cimanggis ini menjadi Benda Cagar Budaya namun khabar terakhir yang beredar menyebutkan bahwa di areal tersebut akan dibangun sebuah kampus besar bernama Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII).

  1. Rumah Pitung/Rumah Kapiten Cina

Rumah Tua Pondok Cina dibangun pada tahun 1841. Didirikan dan dimiliki seorang arsitek Belanda, tapi pada pertengahan abad ke-19 dibeli oleh saudagar Tionghoa, Lauw Tek Lok dan kemudian diwariskan kepada putranya bernama Kapitan Der Chineezen Lauw Tjeng Shiang. Salah satunya adalah Rumah Pondok Cina yang berada di Jalan Margonda Raya, tepatnya di bagian depan Margo City. Rumah itu dibeli saudagar keturunan Tionghoa bernama Lauw Tek Lock pada abad ke-19. Kemudian, rumah itu diwariskan kepada putranya yang bernama Kapiten Der Cinezeen, Lauw Tjeng Shiang.

Ada yang menyebut bahwa rumah tersebut adalah rumah singgah Pitung, jawara dan pahlawan Betawi. Ada pula yang menyebutnya sebagai Rumah Kapiten Cina, karena berada di kawasan pecinan Depok yaitu Pondok Cina. Sisa bangunan peninggalan bersejarah ini berada di dalam area perbelanjaan Margo City yang berada di Jalan Margonda, Pondok Cina, Depok. Sekarang bangunan tersebut dijadikan sebuah cafe di luar bangunan utama Margo City.

  1. Rumah Presiden Depok

Setelah membentuk Gemeente Bestuur, masyarakat Depok selanjutnya dipimpin oleh seorang presiden (ketua) yang dipilih bergantian, tiap tiga tahun. Tugas Gemeente Depok pada saat itu adalah untuk mengatur perpajakan dan pengelolaan otonomi daerah Depok demi kesejahteraan masyarakatnya. Gemeente menarik tjoeke (pajak) 1/10 bagian dari hasil panen, yang diserahkan secara suka rela oleh masyarakat. Selain hasil bumi tjoeke juga didapat dari produksi tembikar, genteng, dan bata. Semua dikumpulkan dan dijual, hasilnya untuk membiayai Gemeente. Masyarakat Depok hidup dengan aturan Gemeente yang adil, hingga kotapraja ini berakhir tahun 1950.

Rumah Presiden Depok terakhir berada persis di seberang kantor Gemeente Bestuur (kini RS Harapan). Berbeda dengan “istana” presiden pada umumnya, rumah presiden Depok hanya berupa bangunan tempat tinggal biasa, tak ubahnya seperti rumah tinggal lainnya.

Obyek Sejarah Tugu

  1. Monumen Cornelis Chastellain

Monumen ini sekarang berada di halaman depan dalam areal Rumah Sakit Harapan Depok, rumah sakit pertama yang berdiri di Depok. Monumen ini didirikan pertama kali pada tahun 1914 masih di zaman pemerintahan kolonial Belanda dan merupakan tugu pertama yang ada di Depok ketika itu. Pada tahun 1960, tugu ini dihancurkan. Tidak ada yang tahu pasti kenapa tugu tersebut dihancurkan. Pada tahun 2002, Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC) merencanakan pembangunan kembali tugu tersebut namun belum mendapatkan izin dari pemerintah dengan alasan bahwa Cornelis Chastelein bukanlah seorang pejuang atau pahlawan dan sebuah tulisan kalimat pada tugu yang dianggap berbau SARA. Baru pada tahun 2014 tugu ini baru dibangun kembali setelah mendapat ijin serta dihilangkannya tulisan yang dianggap berbau SARA.

Letak Monumen/Tugu Cornelis Chastellain berada di jalan Pemuda, Kel. Depok, Kecamatan Pancoran Mas, Depok. Berjarak kurang lebih 2 km dari Gedung Walikota Depok, Jl. Margonda. Kini tugu tersebut dianggap sebagai Titik Nol Km Depok

  1. Tugu Batu

Tugu yang dibuat pada tahun 1979 dan lokasinya berada di Jalan Muchtar Sawangan ini merupakan simbol untuk mengingat perjuangan masyarakat sekitar bersama TKR melawan tentara Nica Belanda yang coba memasuki wilayah Sawangan pada tahun 1949. TUGU batu hitam yang tegak berdiri di tepi Jalan Muchtar Raya, Kota Depok itu memiliki kisah tentang perjuangan rakyat Sawangan melawan tentara Belanda. Pada tugu tersebut tertera tulisan tentang peristiwa yang terjadi di masa perjuangan kemerdekaan 1945. “Di sini tentara NICA (Belanda) pada bulan November 1945 pernah dihancurkan oleh TKR para pemuda pejuang berserta rakyat wilayah Sawangan dalam perang kemerdekaan,”

Tugu batu itu diresmikan pada 29 Desember 1979 oleh Bupati Bogor H Ayip Rughby. Kota Depok di masa peresmian tugu memang masih bergabung dan menjadi bagian dari Kabupaten Bogor.

  1. Tugu Gong Bolong

Tugu yang terletak di perempatan Jalan Tanah Baru ini di atas tugu terdapat sebuah replika Gong Bolong. Replika tersebut diambil dari cerita legenda masyaraka Tanah Baru mengenai Gong Bolong yang konon pada masa lalu di daerah Curug Agung, Tanah Baru, sering terdengar bunyi-bunyian musik yang berasal dari gamelan. Setelah ditemukan, ternyata bunyi dari gamelan tersebut tidak ada yang memainkan. Ketika seorang tokoh ingin mengangkat seluruh perangkat gamelan tersebut, tidak sanggup dilakukan sendirian dan hanya gong bolong dan alat pukulnya, gendang, serta bende, yang mampu diangkatnya. Setelah kembali ingin mengangkat perangkat gamelan lainnya, ternyata telah raib atau hilang.

Obyek Sejarah Religi, Makam, dan Petilasan

  1. Masjid Jami Riyadussolihin

Masjid yang terletak di Kampung Cikambangan, Kel. Kalimulya, Kec. Cilodong ini adalah masjid tertua yang ada di Depok. Dari bentuk fisik bangunan, masjid ini tidak memiliki kubah sebagaimana masjid-masjid saat ini. Konon masjid ini dibangun oleh Sunan Kalijaga saat melakukan penyebaran agama Islam di Depok. Ada juga yang memperkirakan bahwa masjid ini sudah ada sejak jaman Kerajaan Muara Beres periode tahun 1567-1579. Masyarakat setempat mengenal masjid ini dengan nama Masjid Jublegan. Masjid yang terletak di Kampung Cikambangan, Kel. Kalimulya, Kec. Cilodong ini adalah masjid tertua yang ada di Depok. Dari bentuk fisik bangunan, masjid ini tidak memiliki kubah sebagaimana masjid-masjid saat ini. Konon masjid ini dibangun oleh Sunan Kalijaga saat melakukan penyebaran agama Islam di Depok. Ada juga yang memperkirakan bahwa masjid ini sudah ada sejak jaman Kerajaan Muara Beres periode tahun 1567-1579. Masyarakat setempat mengenal masjid ini dengan nama Masjid Jublegan.

Di Kampung Cikambangan ini juga ada peninggalan Kerajaan Muara Beres, seperti Jembatan Kuning yang diperkirakan berusia ratusan tahun, sumur air busuk penyubur rambut, dan cadas putih tempat pemandian sang raja. Konon air sumur berbau busuk ini bisa menyuburkan dan menumbuhkan rambut dengan cepat. Konon. Keberadaan sumur itu terjadi dari bekas tongkat salah satu Wali Songo. Kepercayaan warga akan mujarabnya air bau busuk itu sudah menyebar ke sejumlah daerah di luar Jawa. Awal penemuan sumur di pinggir Sungai Ciliwung terjadi pada tahun 1948.

  1. Makam Keramat Beji

Makam atau Petilasan Mbah Raden Wujud Beji, merupakan bukti sejarah kehadiran tentara Islam yang banyak ditemukan di banyak tempat di Depok. Makam Keramat Beji atau Petilasan ini terletak di Jalan Kemiri Muka, Desa Kramat (Kramat Jaya), Kecamatan Beji, Depok. Makam Keramat Beji dapat merupakan salah satu bukti sejarah penyebaran agama Islam di daerah Depok dan sekitarnya yang tetap diapresiasikan hingga sekarang, dijaga oleh juru kunci, dikeramatkan dan tidak sembarang waktu dapat dikunjungi. Masyarakat datang berkunjung di samping untuk wisata ziarah diharapkan akan dapat mengetahui mengenai tokoh Islam dan peranannya dalam penyebaran Islam di Kota Depok.

Selain Makam atau Petilasan Mbah Raden Wujud Beji, di dalam sebuah bangunan yang dinaungi oleh kerimbunan pohon beringin, tersimpan peninggalan beberapa jenis senjata tentara Islam (Banten). Koleksi senjata tersebut tersusun rapi di samping Petilasan Mbah Raden Wujud Beji. Pada dinding di dalam bangunan makam tersebut tergantung beberapa untaian kata berisikan nasihat yang pernah diucapkan oleh Mbah Raden Wujud Beji. Pada tanggal 14, bulan Maulud, bangunan makam ini ramai dikunjungi para peziarah dari berbagai daerah, seperti dari Banten dan Cirebon.

Ritual tertentu juga masih dijalankan oleh beberapa pengunjung yang sangat percaya dengan keberkahan tempat ini. Mandi di tujuh sumur yang tersebar di daerah sekitarnya merupakan ritual khas yang dijalankan beberapa peziarah. Sumur tujuh, sumur-sumur yang termasuk dalam tujuh sumur keramat, sebenarnya merupakan sebuah kolam mata air. Lima sumur di antaranya berada di bawah kerimbunan pohon beringin. Masyarakat sekitar mengenalnya dengan nama sumur tujuh, namun kuncen penjaga sumur-sumur keramat, dan para peziarah, menyebut sumur keramat tersebut dengan nama “Sumur Tujuh Beringin Kurung”. Mungkin semula merupakan patirthan yang artinya dikeramatkan, di dekatnya pernah bermukim para ajar dan kaum pertapa. Cerita rakyat tentang cai kahuripan, air yang bersinar seperti emas, air yang dapat menyembuhkan orang sakit sampai sekarang masih dipercaya, oleh karena itu banyak orang datang berkunjung ke sumur-sumur keramat itu, bahkan dari luar Depok sekali pun, selain untuk berziarah ke makam kramat tersebut.

Pemerintah Kota Depok memberikan perhatian pada tempat tersebut dengan memasukkannya ke dalam peta wisata Kota Depok, dan melakukan pemagaran terhadap sumur tersebut sebagai upaya pemeliharaan.

3. Sumur Bandung

Kisah Sumur Bandung di Depok dimulai dari cerita-cerita turun temurun masyarakat sekitar mengenai sebuah mata air yang berada pada sela-sela akar pohon besar. Sebelum menjadi tempat cagar budaya seperti sekarang, Sumur Bandung Depok diselimuti aura mistik semisal, penampakan munculnya seekor bulus pada mata air yang konon merupakan penunggu sumur bandung depok sampai peziarah yang datang untuk melakukan ritual tertentu.

Sejarah Sumur Bandung Depok sendiri terdiri dari dua versi berbeda, menurut Hamzah yang membeli lahan Sumur Bandung pada tahun 2012 dan memberikan sebagian tanahnya kepada Pemkot untuk dijadikan cagar budaya, sejarah Sumur Bandung mulanya merupakan hutan belantara dan ladang persawahan. Soal penamaan Sumur Bandung, ditengarai mulai muncul pada saat ada seorang pengusaha dari Bandung yang ingin membeli tanah itu pada tahun 1983, berdasar kota asal pembeli tersebutlah nama kobakan taman berubah menjadi Sumur Bandung yang akhirnya dikenal luas oleh masyarakat sekitar. Lebih lanjut, nama Sumur Bandung juga bermuasal dari istilah air yang dibendung.

Versi lain sejarah Sumur Bandung dituturkan Toyim sebagai juru kunci Sumur Bandung Depok. Menurutnya, penamaan Sumur Bandung diberikan oleh seorang peziarah dari Cirebon sekitar tahun 1985. Toyim kala itu merasa bingung karena si peziarah menanyakan lokasi Sumur Bandung di daerah Cipayung Depok, sementara tentang sebab musabab munculnya mata air konon lokasi Sumur Bandung yang sekarang adalah bekas kubangan kerbau masa lalu. Pada suatu ketika ada seekor kerbau yang terperosok kedalam kubangan yang kemudian menciptakan mata air yang akhirnya disebut Sumur Bandung Depok.

Hal yang hampir senada juga disebutkan oleh sejarawan dan beberapa literatur sejarah bahwa, Sumur Bandung Cipayung Depok pada masa lalu merupakan lokasi petirtaan atau pemandian para dewa-dewa serta orang sakti mandraguna. Keberadaan Sumur Bandung Cipayung Depok sekaligus berhubungan dengan beberapa lokasi sumur maupun mata air keramat yang ditemukan di seputaran Depok. Seperti Sumur Gondang Cimanggis, Sumur Kurung 7 Beji serta Situ Pancoran Mas.

4. Sumur Gondang Cimanggis

Sejarah Sumur Gondang Cimanggis sebagai salah satu tempat yang dikeramatkan telah tersiar hingga luar Depok. Sumur Gondang Cimanggis terletak di Jl. Sumur Bandung, Cimanggis, Depok. Sumur yang nampak layaknya kolam besar berukuran kurang lebih 10 meter dengan air jernih ini diyakini warga sekitar merupakan peninggalan kerajaan Padjajaran. Meski begitu, sisi historis mendalam dari Sumur Gondang Cimanggis masih berkaitan dengan beberapa mata air yang dikeramatkan di wilayah Depok. Di Sumur Gondang Cimanggis ini rutin dilakukan ritual sedekah bumi tiap tahunnya. Warga sekitar yang berada di dekat lokasi pun tak segan untuk mencuci muka sampai meminum langsung air dari dalam kolam yang menurut penelitian layak konsumsi. Bahkan peziarah biasa menyempatkan diri untuk mandi di kolam Sumur Gondang yang berukuran lebih kecil di sebelahnya.

5. Makam Keramat Citayam

Di Citayam ada peninggalan situs keramat yaitu makam keramat. Konon usianya sudah ratusan tahun. Makam keramat tersebut mungkin sudah berusia ratusan tahun. Dari zaman dahulu di sekitar makam keramat ada perkebunan pohon karet dan sebuah gudang tua. Ada pula sebuah pohon asam yang sangat besar dan tidak pernah bisa dipotong atau ditebang.

6. Makam Raden Ayu

Nama Desa “Limo”, diambil dari nama seorang Panglima Mataram yang meninggal dan dikuburkan didaerah tersebut. Di samping kanan gedung UPN Limo, ada satu petak komplek makam, di Gang keramat, dimakam tersebutlah bersemayam seorang panglima Mataram, saat Mataram Islam 1628 dan 1629, dibawah panji kekuasaan Sultan Agung melakukan penyerangan ke Batavia yang saat itu dikuasai VOC (belanda). Dari makam panglima (Panglimo) itulah nama Limo diambil yang kini sudah menjadi kelurahan dan bahkan kecamatan. Bukti lain bahwa memang daerah tersebut dijadikan basecamp dari perjuangan Sultan Agung adalah, di desa Limo itu terdapat daerah yang memiliki nama bernuasa Hindu dan Jawa, yaitu agak ke dalam dari kelurahan Limo ada daerah yang dinamakan Cakra dan Pendowo.

Tak banyak orang yang tahu bahwa di lokasi itu terdapat salah satu situs sejarah. Peninggalan bersejarah itu berupa makam keramat Ratu Raden Ayu binti Pangeran Sagiri asal Jatinagara Sodong. Selain itu juga ada makam dua orang kerabat Ratu Raden Ayu yang dimakamkan dalam lokasi yang sama. Keberadaan bangunan makam Ratu Raden Ayu binti Pangeran Sagiri asal Jatinagara Sodong ini sudah ada sejak zaman Belanda. Sosok Ratu Raden Ayu merupakan salah satu keturunan raja yang berkuasa pada zaman pemerintahan Belanda. Saat itu, Ratu Raden Ayu memutuskan untuk meninggalkan keraton lantaran ingin melakoni hidup sebagai rakyat biasa. Secara kebetulan,sang ratu memilih wilayah Limo untuk dijadikan tempat bermukim hingga akhir hayatnya. Dalam bangunan itu selain makam Ratu Raden Ayu, juga terdapat dua makam lainnya yakni makam Djiseng bin Bodong Jiman dan makam Djuriah binti Dulah yang

7. Makam Raden Sungging Citayam

Kisah kepahlawanan Raden Sungging, tokoh kharismatik masyarakat Citayam, Kota Depok tempo dulu. Raden Sungging, menurut cerita dari sesepuh Citayam, memiliki sebuah ajian ilmu di mana membuat gentar kolonial Belanda terhadap dirinya dan juga masyarakat Citayam pada masa itu. Kekejaman kolonial Belanda membuat salah seorang ulama dengan perawakan tubuh kecil, janggut panjang, dengan sorban yang selalu hijau tampil membakar semangat masyarakat Citayam untuk melakukan perlawanan.

8. Makam Tubagus Pangeling

Makam Tubagus Pangeling berlokasi di Jalan Keramat, Kelurahan Leuwinanggung, Kecamatan Tapos. Sosok Tubagus Pangeling merupakan penyebar agama Islam dari Banten yang melakukan syiar Agama Islam di wilayah Leuwinanggung. Sampai saat ini, banyak masyarakat yang datang untuk berziarah

9. Makam Ambu Mayangsari

Ambu Mayangsari merupakan istri dari Pangeran Purbaya yang merupakan putra Sultan Ageng Tirtayasa. Ambu Mayangsari juga masih masuk keturunan Prabu Siliwangi. Ternyata makam Ambu Mayangsari terletak di RT3/16 Kelurahan Cimpaeun, Kecamatan Tapos. Bahwa Ambu Mayangsari ini ikut serta dalam peperangan antara Banten dan VOC. Dalam cerita, Ambu Mayangsari itu yang mengurusi keperluan dan keuangan selama terjadinya perang zaman Belanda. Ambu Mayangsari juga disebut sebagai pejuang perempuan yang begitu tangguh, karena dinilai memiliki peranan yang sangat penting dalam peperangan.

Obyek Sejarah Situ

  1. Situ Pancoran Mas

Pada dahulu kala saat depok mayoritas wilayahnya adalah hutan belantara, seorang budak dari Cornelis Chastelein menemukan sumber mata air di tengah rimbunnya pepohonan. Tempat ini merefleksikan sinar mentari berwarna keemasan melalui jernih airnya sehingga daerah ini pun sekarang dinamakan Pancoran Mas. Beberapa waktu kemudian ditemukan sumur mata air tersebut untuk dipergunakan sebagai areal resapan air. Warga sekitar saat itu kerap menyebutnya “situ”. Situ Pancoran Mas sendiri berlokasi di tengah pemukiman penduduk, tepatnya di Jl. Aula, Pancoran Mas, Depok.

Pada masa jayanya, Situ Pancoran Mas menjadi habitat banyak ikan dan burung-burung yang bebas membuat sarang pada pucuk-pucuk dahan nan rimbun. Sementara sumur mata air jernih yang juga terdapat di lokasi hingga kini masih menyimpan nukilan sejarah. Hal ini terlihat dari masih besarnya animo peziarah yang acap kali datang untuk merapalkan doa-doa sampai melakukan ritus khusus pada area mata air tersebut. Semua sumber mata air keramat di Depok saling terkait satu sama lain, yang kemungkinan bermuara pada zaman kerajaan-kerajaan Hindu-Budha masa silam serta padepokan syiar Islam di nusantara.

Hurri Junisar @LKPS 2020

 

You may also like...