Kusmayanto Kadiman

Kusmayanto Kadiman 

Kus atau KK, sapaan akrab Kusmayanto Kadiman, masuk ITB pada tahun 1973. Pada waktu itu, ITB sedang melakukan percobaan dengan sistem yang baru. Dalam sistem tersebut, mahasiswa tingkat dua diberi tiga kali kesempatan untuk memilih jurusan. Pertama-tama, KK memilih teknik geologi. Ia memang tidak tahu, apa itu teknik fisika sehingga tertarik untuk memilih bidang yang sudah tahu. Kebetulan waktu itu ia tidak mau masuk FMIPA.

KK tidak tahu apa itu bidang teknik fisika. Jadilah hingga sekarang ia merasa “salah jurusan” sejak awalnya. Ia tidak tahu sekarang ini memiliki kualifikasi apa dan fokus pekerjaan di bidang apa pula. Walaupun dahulu berkecimpung di bidang instrumentasi dan kontrol, tetapi itu dilakukan hanya sebentar saja. Namun, KK yakin, apapun jurusan yang dipilihnya waktu itu, tetap saja ia akan merasa “salah jurusan”.

KK kemudian mendapati bahwa bidang teknik fisika adalah yang benar-benar bisa mencapai batas dari bidang engineering. Ia mulai mengerti apa itu teknik fisika, meski sampai sekarang merasa tidak mampu menjadi seorang engineering physicist. Jadi, menurut KK, ilmu-ilmu seperti “instrumentasi dan kontrol” sudah tidak cocok lagi bagi Departemen Teknik Fisika. Bidang teknik fisika seharusnya mempelajari bagaimana membangun lingkungan, mempelajari bagaimana menjadikan lingkungan hidup yang lebih nyaman. That is engineering physics.

Dalam skala yang kecil, misalnya, seorang ahli arsitektur membuat ruangan lebih indah, orang teknik sipil yang membangunnya. Tantangan bagi seorang ahli teknik fisika adalah bagaimana menjadikan bangunan itu sebagai lingkungan hunian yang nyaman Untuk membangun hal tersebut, salah satu aspeknya yaitu bagaimana teknik fisika menjadikan ruangan tersebut lebih dingin dengan penggunaan energi yang hemat. Teknologi freon untuk AC pendingin ruangan sudah berganti dengan prinsip-prinsip magnetik. Na dalam hal ini teknik fisika bisa benar-benar menjadi the forefront/garis terdepan engineering.

Sejak kuliah tingkat tiga, KK sering berdiskusi dengan almarhum Liem Han Gie. Sang dosen diakui menjadi salah seorang figur yang turut membentuknya. Selain Liem, guru sejati di kampus adalah seorang yang bernama Saswinadi Sasmojo. Ia banyak menyerap ilmu dari Saswinadi meski bertemu dengannya baru belakangan saja. KK makin menyenangi ilmu teknik fisika. Buahnya, ia lulus dengan baik dan ditarik oleh departemen untuk mengabdi sebagai dosen.

Berkiprah di Almamater

Sesudah lulus, KK bekerja di laboratorium di bawah arahan Rachmad Mohamad. Orientasi penelitian yang dikembangkan di lab kurang sejalan dengan fokusnya pada permasalahan instrumentasi di dunia industri. KK sempat mengembangkan instrumentasi untuk penelitian geofisika. Di sini, terdapat persoalan dalam menentukan sensor dan parameter-parameter ukur di geologi. Pada waktu itu, KK berkonsentrasi pada instrumentasi untuk mengukur kualitas batubara. Jadi, setelah pengeboran dilakukan, para ahli perlu mengetahui kondisi batubara di bawah tanah.

KK pun mulai mengenal Saswinadi beberapa tahun setelah lulus, yaitu pada 1982. Saswinadi menjabat sebagai Ketua Badan Perencanaan ITB, kini disebut Direktorat Perencanaan. KK direkrut untuk melakukan pengolahan data pendukung perencanaan. Selama tiga bulan, KK bekerja di sana. Suatu ketika, ia ditugaskan untuk menyusun model populasi mahasiswa ITB. Hasil pekerjaan ini kemudian dituliskan dan diserahkan kepada pimpinan. Hari-hari berikutnya, KK kerap berdiskusi cara-cara melakukan perencanaan dan arti penting perencanaan tersebut. Pekerjaan itu melibatkan beragam orang dan disiplin ilmu.  KK makin menyadari bahwa persoalan yang ada bukan sekadar angka dan bilangan, melainkan juga lingkup sosial dan orangnya.

Puncak kulminasi keilmuan bagi KK datang tahun 1988. Pada saat itu, ia betul-betul tergugah untuk bisa menjawab pertanyaan, “apa itu bidang teknik fisika?” Seorang lulusan teknik fisika akan mengeluarkan pertanyaan, “apa sih hal mendasar yang dipelajari?” Saat itu, Saswinadi berulang-ulang mengatakan, “Anda itu mesti mendefinisikan ciri-ciri utama seorang lulusan teknik fisika. Jika itu bidang engineering, salah satu ciri utama dari insinyur adalah melakukan design.” Menurut Pak Sas, kata design inilah yang terletak di jantung kegiatan keinsinyuran. Jadi, seorang lulusan teknik fisika pun harus jelas merancang apa. Bagi mereka di jurusan-jurusan yang konvensional, pertanyaan ini mudah dijawab karena “bangunan” mudah terdefinisikan. KK tidak mampu menjawab dengan baik, meski ia bisa merancang sistem instrumentasi dan kontrol.

Pekerjaan yang memberikan pelajaran berharga baginya adalah tugas untuk merapikan jaringan fisik yang ada di ITB. Jaringan air dan listrik tumpah tindih tak beraturan. KK pun menyodorkan gagasan tentang integrated `gorong-gorong’ kepada Saswinadi. Konsep pertama yang Pak Sas bisa terima adalah ketika hari hujan, seseorang yang masuk ke kampus ITB dari JI. Ganesha bisa mencapai semua ruangan di kampus tanpa kehujanan. Yang belum bisa terhubungkan adalah Gedung PAU dan Perpustakaan Pusat. Integrated gorong-gorong berlanjut. Gorong-gorong besar dibangun untuk infrastruktur listrik dan penyaluran air, sekaligus membuat parit yang agak besar. Jadilah ITB tak lagi memperlukan tiang listrik karena sejak jauh hari sudah dibuat perencanaan secara terpadu.

Ia dan tim pun merancang agar listrik di ITB itu tidak bersumber pada satu supplier saja, tetapi pada beberapa supplier. Bila listrik mati, maka masih terdapat supply dari yang lain. Keterlibatan KK di Bapen ITB memberi pelajaran tentang arti penting data dan dealing with people di dalam kegiatan perencanaan.

KK kemudian memimpin UPT Komputer PIKSI. Visinya adalah membuat unit ini menjadi pusat kekuatan komputer. ITB pun memiliki komputer IBM 3031. Kelemahannya, IBM 3031 hanya bisa dihubungkan ke sesama mesin bermerek IBM dan masih serba mahal. KK lantas bermitra dengan Digital Equipment Corporation (DEC). Ia mencari akal agar ITB bisa membangun jaringan komputer dengan menggunakan mesin dari DEC. Meskipun harus tambal sulam, persoalan bisa terpecahkan.

Untuk kebutuhan software, ketika itu ITB mendapatkan lisensi yang disebut Campus Software Licence Agreement. Semua software bisa dipakai asalkan untuk keperluan kampus. Koneksi pun terbentuk. Visi KK terealisasi, bahwa ITB mempunyai computing center yang bisa diakses oleh orang-orang lain. Target kedua menyusul, membentuk lautan pemrogram. Bermacam-macam program pelatihan dilakukan semurah mungkin kecuali untuk industriawan mesti membayar. Keuntungan yang didapat digunakan untuk melatih sdm di ITB. KK pun berkata, “Haram hukumnya bagi orang-orang ITB itu jika buta komputer”. Melalui berbagai kegiatan, jurusan informatika didorong. Politeknik pun dimunculkan agar mewujudkan the ocean of programmers.

Di tengah semangat pembaruan, muncul hasrat berkiprah di luar kampus pada tahun 1991. Pasalnya, alih-alih memperjuangkan perubahan-perubahan di kampus, KK belum memiliki rumah. Ia masih mengontrak, pindah dari satu rumah ke rumah yang lain. Mulai timbul pertanyaan, “apa yang bisa saya banggakan kepada anak-anak?” Muncullah keinginan punya rumah. Selain itu, KK ingin mengetahui bagaimana rasanya bekerja di dunia industri.

Karena harus membayar uang sebesar 300 juta rupiah jika meninggalkan ikatan kewajiban di ITB, KK menemukan sebuah perusahaan yang mau mempekerjakannya dan bersedia mengembalikan uang 300 juta rupiah itu agar ia bisa bebas dari ikatan 2n+1. Dengan berat hati, Rektor Wiranto akhirnya menyetujui kepergian KK untuk masa tiga tahun. Tetapi, Rektor tidak mengeluarkan surat secara resmi karena akan melanggar amanatnya sebagai rektor.

Dari perjalanan di luar itu, KK belajar banyak hal yang berharga. Dalam tiga bulan pertama, ia diangkat sebagai project manager dari sebuah proyek di industri. Dalam proyek ini, mereka membangun engineering databanks yang menjadi bank data dari peralatan-peralatan kilang di seluruh Indonesia. Pada akhir bulan ke-3, Direktur perusahaan mempercayakan posisi manajer teknik dan memegang divisi. KK pun memegang semua proyek. Belum setahun bekerja, posisinya naik menjadi direktur operasi. Titik terang untuk bisa mempunyai rumah pun muncul deras di depan mata. Selain itu, pengalaman pun mulai terakumulasi dan learning proses terus berjalan. Setelah tiga tahun, pada tanggal 31 Maret 1995, KK kembali ke kampus, dan melapor kedatangannya kepada Rektor Wiranto.

Paradigma bisnis membuat situasi kembali ke kampus memerlukan adaptasi yang jauh lebih sulit dibandingkan dengan ke luar kampus. Kedatangan KK disambut dengan sebuah laboratorium bernama Laboratorium Teori Kontrol, yang secara perlahan menjadi Laboratorium Kontrol atau disingkat Labkon. Ini menjadi salah satu periode terberat dalam hidup KK. Saat keluar dan menuju dunia swasta, ia dianggap sebagai anak dan tindakannya yang nakal. KK merasa terpuruk di kampus setelah memutuskan kembali. Ia hanya sendirian dalam membangun laboratorium. Di awal tahun 1996, KK dibantu oleh Yudi Samyudia yang telah menyelesaikan studi S3 di bidang kontrol proses di Australia. Kegiatan pun perlahan bergulir di tengah benturan dengan peraturan-peraturan yang ada.

KK membangun institusi kembali dari nol. Ia bereksperimen untuk mempraktikkan sebuah gagasan implanting business paradigm in campus. KK memulai dari Labkon, mencoba mengukur kegiatan, peduli dengan biaya, mendefinisikan indikator keberhasilan, dan mulai membicarakan roadmap, hal-hal yang dulu masih asing dilakukan di kampus. Pada 1996, beberapa staf ITB yang kembali dari studi luar negeri diajak bergabung di Labkon. Mereka mencari research grants dan merintis kolaborasi dengan pihak-pihak industri. Neraca pengeluaran dan pendapatan dilakukan secara terbuka.

KK merasa tidak puas dengan keadaan di mana orang-orang terperangkap dalam business as usual. Ia angkat tembok tinggi yang menghalangi kreativitas, mencoba mendefinisikan apa yang namanya mengajar bagus, ukuran untuk mendorong arah yang lebih bagus, dan pentingnya evaluasi. Ia berkata, “Ini ibarat Volvo 850, datang pukul 8 pagi, pulang pukul 5 dan hasilnya 0.” Back to office report diberlakukan, kepedulian pada laporan-laporan dimulai, semua proyek dikerjakan secara jelas dan terukur agar dapat meningkatkan kinerja terus-menerus.

Dalam pengajaran, KK mengkritik keras konsep kurikulum berbasis kompetensi. Sebab, kalau hanya kompetensi yang dikembangkan, bisa membawa bencana. Contohnya, terjadinya banjir bandang dikarenakan orang-orang makin pandai dalam menebangi hutan. Jadi harus ada karakter yang baik. Orang yang memiliki high competence dan good character-lah yang bisa menjadi pembaru di masyarakat.

Menjadi Rektor ITB

Lepas abad milenium, pada awal 2001 sebuah pesta demokrasi digelar di ITB. Posisi rektor ITB diiklankan melalui media massa. Peserta yang tercatat sekitar tiga ratusan, mencakup nama besar seperti Abdurrahman Wahid, B.J. Habibie, di samping sejumlah nama profesor dan tokoh masyarakat yang lain. Secara beberapa tahap seleksi berlangsung, mulai dari makalah, pendapat masyarakat, debat terbatas, hingga pemilihan. Kampus menjadi ramai, berbeda dengan zaman sebelumnya dimana seseorang dipilih menjadi rektor hanya oleh kelompok elite tertentu. Pada 2001 itu, setiap calon rektor dituntut bicara depan khalayak luas. Mendekati tahap akhir seleksi yang berlokasi di Aula Timur, lima calon rektor bertahan menggelar stan masing-masing yang menampilkan poster, leaflet, dan foto-foto. Setiap pertanyaan dapat dilontarkan di situ. Ini menandai awal era baru bagi ITB dan dunia pendidikan tinggi di Indonesia.

Menjelang akhir 2001, seleksi calon rektor ITB mencapai puncaknya. Seorang rektor baru telah terpilih, yaitu Kusmayanto Kadiman. Ia bukan kalangan dosen senior dan bukan pula seorang profesor. Muncullah banyak pertanyaan kenapa Kusmayanto yang terpilih menjadi Rektor. Asumsinya adalah muncul sejumlah aspirasi di masyarakat sehingga dialah yang dipercaya untuk memangku jabatan itu.

Sebagai Rektor, KK menjalin komunikasi dengan banyak pihak. Ia menyadari bahwa komunikasi merupakan protokol bahasa. Ia menyosialisasikan dua nilai lain yang bersamaan dengan nilai academic excellence, yaitu social value dan economic value. Ini sesuai dengan nilai-nilai yang dijunjung tinggi pada awal berdirinya ITB. Salah satu tujuan didirikannya ITB itu adalah untuk mendukung industri dan menopang kesejahteraan masyarakat. KK merevitalisasi nilai-nilai ini.

Salah satu nilai sosial misalnya pihak astronomi yang bisa membantu Muhammadiyah dan NU agar tidak bertengkar tentang penetapan ru’yat. KK menetapkan kata-kata kuncinya, yaitu you listen, you learn, dan you change. Perubahan yang dilakukan pada diri sendiri sampai ke perubahan yang dilakukan terhadap lingkungannya.

Selain menjabat Rektor ITB, KK juga menjadi koordinator ASEA-UNINET. Lembaga tersebut merupakan jejaring perguruan-perguruan tinggi di ASEAN dan di Eropa, atau ASEAN-Europe Academic University Network. ASEA-UNINET berkeinginan agar alur informasi dari Eropa ke ASEAN terjadi secara simetrik. Ini sesuai dengan hukum alam dimana air mengalir mengikuti gaya gravitasi. Lebih mudah air mengalir dari tempat di mana potensinya lebih besar menuju ke tempat yang potensinya lebih kecil. Kalau sebaliknya, harus ada pompa dan ekstra energi. Aliran informasi yang terjadi antara ASEAN dan Eropa secara asimetrik. Dari sana lebih banyak mengalir ke sini salah satunya berlatar finansial. Orang Eropa lebih mudah melakukan travel ke sini daripada orang sini ke sana.

Kiat yang digunakan oleh KK adalah kawan-kawan dari ASEAN ini harus pandai mencari topik atau tema dimana kita lebih tahu dan lebih kaya pengalaman daripada mereka. Jika bermain di teknologi tinggi, pasti kalah terus. Tetapi, bila misalnya bermain topik vulkanologi, kalangan Eropa tidak punya ini. Dengan bicara vulkanologi, orang Eropa datang ke sini karena kebutuhan mereka. Begitu pula bila berbicara tentang Arkeologi, Indonesia punya banyak artefak. Juga keberadaan Indonesia yang strategis di lintang Khatulistiwa.  KK memilih topik-topik di mana Asean lebih punya dan lebih kaya pengalaman dibanding Eropa. Oleh karena itu, mereka mengalirkan tematik ke selatan.

Pada Januari, awal 2003, kepemimpinan Pak KK di ITB memasuki semester ke-3. Saat itu, ada dua isu, yaitu komersialisasi kampus dan peranan sosial ITB yang mencuat dan mendapat sorotan beragam. KK sendiri berprinsip bahwa tahun 2020 ITB mesti menjadi enterpreneurial university dan tahun 2010 sebagai research university. Hingga saat ia terpilih sebagai rektor tahun 2001, ITB masih berlaku sebagai teaching-based uniuersity. Kalaupun ada penelitian, itu berorientasi pada pendidikan dan pengajaran. Dosen pun ketika melakukan riset, umumnya masih berada dalam konteks pelaksanaan tugas pendidikan. Itu yang mulai digeser oleh KK. Pada 2020 mendatang, KK berharap dapat menyaksikan deklarasi pendidikan ITB sebagai pendidikan dalam konteks research dan sebuah sketsa untuk entrepreneurial university terbaik.

KK pun melaksanakan gerakan bersih-bersih kampus. Dalam dua tahun kepemimpinannya, kampus sudah bersih. jalan-jalan rapi, aliran air mulai lancar, dan traffic management-nya mulai benar. Bersih-bersih juga dilakukan pada ruang kuliah dan kamar mandi. Beberapa staf diajak makan ke hotel sekaligus melihat kamar mandinya. Ini supaya para staf tahu apa yang dimaksud oleh KK sebagai “bersih”.

Dalam sistem akademik juga dilakukan bersih-bersih. Sebagai contoh, setiap dosen pasti menggigil ketika menerima SMS dari KK. Tanggal 17 Januari adalah tanggal pemasukan terakhir nilai mahasiswa. Ketetapan itu tidak ada yang menghiraukan. Dosen dianggap orang aneh kalau melakukan dengan tepat waktu. Ada yang terlambat hingga satu tahun. Begitu KK menjadi rektor, mereka yang terlambat sampai enam bulan langsung didesak. Pada 2005, bila dikatakan tanggal 17 Januari, maka tanggal 17 Februari sudah 100% nilai yang masuk. Jadi, ada peningkatan delay dari enam bulan menjadi sebulan. Target ini membuat dosen bekerja serius. Mereka yang belum menyetorkan nilai, dikirimi SMS. Dalam prinsip KK, ia akan bisa mengurus yang besar kalau bisa merapikan hal-hal kecil.

Bersih-bersih kampus merupakan kata-kata sederhana, dimulai dari hal-hal yang sederhana; kampus bersih, PKL rapi, sampah tidak menumpuk, lalu lintas orang untuk  ibadah dan shalat Jumat beres. Dari situ naik ke urusan kuliah, bersih-bersih di sistem pendidikan. Mulai Agustus 2003, KK meminta setiap orang untuk memegang teguh janji. Bila seorang dosen berjanji memberi 14 kali kuliah dalam satu semester, maka harus betul-betul ditepati 14 kali. Kalau berjanji memberi dua kali ujian, betul-betul harus dua kali ujian.

Pada sistem kepegawaian, sampai tahun 2002 tidak diketahui pasti jumlah pegawai ITB. KK lantas membenahi sistem aset, baik aset bergerak, diam, aset fisik, dan aset sosial. Sebelum KK menjabat, nilai aset fisik ITB tidak ada yang berani menjawab. Ketika menjabat rektor, KK menyatakan bahwa nilai aset ITB setara 3 triliun rupiah. Dengan BHMN, bagian pengeluaran dan pemasukan dibenahi. Industrial park atau techno-park dikaji sebagai solusi altematif pembiayaan sendiri.

Dalam pertemuan para rektor kawasan Barat Indonesia di Bukit Tinggi. KK bercerita bahwa secara keseluruhan ITB dibagi menjadi dua bagian. Satu bagian yang menjalankan misi academic excellence, satu lagi sebagai mesin bisnis. Total alumni ITB melebihi 30.000 orang yang tersebar di  pemerintahan dan sektor swasta. Ke depan, lulusan ITB diharapkan menjadi scholarly trepreneurs, Bahkan juga orang-orang di kampus diharapkan mennjadi entrepreneurial scholars. KK menetapkan kebijakan seorang alumni yang memberi layanan di kampus selama lima tahun, di tahun keenam dia harus keluar minimum selama satu tahun.

Di era kepemimpinannya, ITB mendirikan School of Business and Management pada Januari 2004. Sekolah ini berbeda dengan yang lebih dahulu ada di ITB. Sekolah bisnis menjadi pelengkap ITB. KK bersama tim yang dibentuk mendefinisikan teknologi sebagai perpaduan serasi dari science, engineering, art, dan economy. Dalam hal ini, ada keserupaan dengan prinsip yang diadopsi oleh MIT. Kini, semakin berkembang pentingnya studi multidisiplin, lintas-disiplin, bahkan trans-disiplin, untuk memahami gejala-gejala kehidupan modem yang semakin komplek. Bagi ITB, upaya kajian multidisiplin semakin dipandang relevan dan penting. Dalam rumusan Kebijakan Umum Pengembangan ITB 2001-2006 yang dituangkan oleh Senat Akademik, ditegaskan pentingnya ITB untuk mampu meraih academic excelence for new knowledge dan academic excelence for empowerment.

Menjadi Menteri

Susilo Bambang Yudhoyono terpilih sebagai Presiden RI periode 2004-2009. Suatu hari di Jum’at pagi yang cerah pada 15 Oktober 2004, di tengah mengenakan sepatu saat akan berangkat ke kampus, telepon genggam KK berbunyi. Penelepon tak diketahui karena yang muncul adalah private number. Saat diangkat, suara seorang pria memintanya untuk datang ke uji kelaikan dan kepatutan calon menteri di Cikeas pukul 15.30. KK menganggapnya sebagai candaan. Selama ini tak pernah menjalin komunikasi dengan kalangan dan keluarga SBY Cikeas maupun partai yang bersangkutan. Untuk lebih meyakinkan, penelepon tersebut membacakan surat pemanggilan KK untuk mengikuti ujian menteri, karena ia tak punya faksimili.

Setelah membereskan pekerjaan pagi di kampus, KK meluncur ke Cikeas dan tiba pukul 14.45. Dalam dialognya dengan SBY, ia dipercaya menjabat Menteri Riset dan Teknologi. Mereka lantas membicarakan masalah penelitian, infrastruktur, telekomunikasi dan tentang usaha meningkatkan mutu pendidikan Indonesia hingga mampu bersaing di tingkat regional. KK menyatakan kesiapan menjadi menteri sebagai suatu amanah yang lebih besar daripada jabatan rektor. Ia pun melepaskan jabatan Rektor ITB usai dilantik sebagai menteri. Pindah dari Rektor ITB ke Menteri Ristek disyukuri sebagai rahmat Allah, yang ditekadkan untuk tidak menjadi lupa diri.

KK memulai tugas menteri melalui Buku Putih Enam Bidang Prioritas Pembangunan Iptek 2005-2025. Ia memandang riset dan teknologi bukan an sich soal proses, melainkan tujuan yang lebih jauh. Ia selalu mengingatkan bahwa teknologi berperan dalam membentuk Indonesia yang sejahtera. Teknologi memainkan peran dalam kancah pertumbuhan indonesia, dalam perspektif politik, perspektif ekonomi, maupun perspektif sosial.  KK juga menyosialisasikan inovasi ABG sebagai isu utama dalam kebijakan publik. ABG tersebut adalah Akademisi (Academicians), Kalangan Bisnis (Businessmen), dan Pemerintahan (Government). Ia menghendaki agar Inovasi ABG berada pada basis terdepan dalam kontribusi untuk pengembangan suatu masyarakat berpengetahuan, dalam rangka mendukung pembangunan nasional yang berkualitas.

Akademisi merupakan institusi yang melakukan berbagai kegiatan riset yang menjadi input bagi pemerintah sebagai regulator atau pembuat kebijakan. Nantinya kalangan bisnis yang akan memanfaatkan hasil riset ini. Industrial Research and Development Expo pun digelar dengan menampilkan berbagai hasil riset unggulan yang menjadi andalan instansi pemerintah, swasta, perguruan tinggi, dan industri di pusat maupun daerah.

Atas kinerja KK, Kedutaan Besar Australia di Jakarta menyerahkan “Penghargaan Alumni Australia 2008” kepadanya sebagai bagian dari tujuh talenta terbaik Indonesia dalam bidang usaha, pemerintahan, penelitian, seni dan media. Talenta, prestasi dan kontribusi KK, sebagai bagian dari 30 ribu WNI yang pernah bersekolah di negeri kangguru tersebut, diakui oleh Australia lewat penilaian oleh publik Indonesia. Dubes Bill Farmer menyebut penghargaan tahunan itu sebagai cara yang sangat baik untuk merayakan keberhasilan dari mantan pelajar di Australia. Mereka dianggap telah menunjukkan kepemimpinan yang luar biasa dan berhasil meraih prestasi mengagumkan pada masing-masing bidang yang digelutinya. KK merupakan pemenang kategori penelitian dan inovasi atas peran kepemimpinannya dalam pembangunan dan pembentukan kebijakan dan target teknologi serta ilmu pengetahuan nasional. Ia juga dinilai memiliki peran penting dalam meningkatkan hubungan yang lebih erat antara masyarakat ilmiah Indonesia dan internasional. KK mendedikasikan penghargaan itu untuk istrinya,

Di jelang masa akhir jabatannya, KK masih disibukkan dengan pekerjaan. Ia berangkat ke Aceh untuk beruji coba alat deteksi tsunami. Bersama staf, KK pun menyusun Laporan Pelaksaan Tugas 2004-2009 yang kemudian diserahkan kepada Presiden SBY. Selain itu Memo Akhir Jabatan dan usulan Program 100 hari Menristek 2009-2014 juga sudah di siapkan. Pada periode 2009-2014, Menteri Negara Riset dan Teknologi dijabat oleh Suharna Surapranata. Pejabat baru mengatakan bahwa program dari Kusmayanto tetap diteruskan, semisal early warning system.

Kembali ke ITB

Dari jabatan Menteri Ristek, KK pulang ke ITB untuk mengajar. Ia kembali mencetuskan perihal penumbuhan entrepreneurship dan inovasi. Ada cita-cita yang sudah sejak lama ada di hatinya. Di perkampungan sekitar Kebun Kembang, Kebun Binatang, Sekeloa, Tubagus Ismail, dan di sekitar Jalan Dago, KK melihat bahwa 60 persen dari populasi itu adalah anak-anak sekolah. Mereka baru dilihat sebagai populasi yang diakomodasi pondokannya, sampahnya, trafik, makanan, pakaian, dan lain-lainnya. Perhatian memang banyak, namun tercurah pada permasalahan material kehidupan atau aspek hardware. Aspek otak atau software-nya belum terbina baik padahal itu potensi. Sejak zaman KK memimpin PIKSI, ia telah bercita-cita bahwa ITB  kelak menjadi sebuah kendaraan yang mampu membawa insan pada kreativitas, inovasi, dan penciptaan lapangan kerja.

Sejumlah besar orang tersebut dapat ditranformasikan menjadi lautan programmers. Untuk mencapainya, ITB mampu memainkan peran sebagai enabler. ITB membawa pekerjaan besar berupa software development. Pekerjaan besar ini diterjemahkan ke dalam keperluan fungsional, yang kemudian dipilah-pilah pada lingkup kerja yang kecil. Dengan cara demikian, ketika seorang user datang, kebutuhannya dapat dilayani. Dalam kegiatan inovatif seperti itu, rumah-rumah yang ada di sekitar ITB tak lagi terlihat sebagai pondokan, tetapi sebagai production houses.

Bandung paling tepat kota industri jasa. Banyak outlet, restoran, entertaiment center di Bandung yang perlu dioptimalkan peranan the brain-nya. Orang yang begitu banyak tersebut memiliki beragam potensi di kepalanya. Inilah desain soft engineering. KK lantas bertemu pihak Sun Micro untuk menyampaikan gagasannya. Ide membangun competence center tersebut disambut baik. ITB menyediakan sdm dan fasilitas, Sun Micro yang menyediakan alatnya. Menristek pun menyambut konsep technology based entrepreneurship ini. Perjanjian tiga pihak pun ditandatangani dengan disaksikan oleh Menristek. KK bersama Sun Micro membuat Java Competence Center. Gagasan dan pendekatan ini bisa diperluas, agar ke depan 220 juta penduduk Indonesia ini dilihat sebagai sumber potensi dan agen yang mampu menghasilkan karya-karya yang inovatif.

KK juga mendorong Walikota Cimahi untuk bersama membangun International School of ICT. Walikota menyediakan tanah, sementara kompetensi dari tim KK. KK pun mendapatkan calon investor dari Malaysia. Berangkat dari pengalaman merintis School of Business and Management, KK mendirikan sebuah kampus untuk International School of ICT (Information and Communication Technology). Sekolah ini milik ITB tetapi berlokasi di Cimahi. Konsepsi lansekap dan patung didesain oleh Nyoman Nuarta.  Industri jasa dan properti turut dihidupkan sebagai bagian tak terpisah dari kegiatan ekonomis. Kampus I berada di Jalan Ganesha sementara kampus II berada di Cimahi. Makna dari pemberian nama “sekolah”, bukan fakultas, merupakan konotasi kemandirian. Secara legal, sekolah tersebut bersatu dalam ITB. Adapun secara operasional, School of ICT terpisah dari kampus induknya.

Untuk menghadapi masalah ketersediaan air, ia menginginkan area kampus diperluas dari 100 hektar menjadi 120 hektar. Bagian 20 hektar tersebut dibuat waduk dengan kedalaman 10 sampai 15 meter. Jadi, bila masuk musim kemarau, persediaan air masih mencukupi. Di daerah itu memang sangat dimungkinkan untuk menampung air hujan di mana bendungan kecil menjadi solusinya. KK tersenyum menerawang masa depan. Kelak nusantara dipenuhi oleh para ahli informasi, komunikasi dan teknologi yang berasal dari sini. Ia pun senantiasa bergerak demi mendukung Indonesia yang lebih baik.

Hurri Junisar@2018

Foto: Wikipedia

 

 

You may also like...