Semua diawali oleh kedatangan tiga orang pendakwah (mubalig) ke wilayah Kerajaan Gowa. Sekalipun para pedagang muslim sudah berada di Sulawesi Selatan sejak akhir abad XV, tidak diperoleh keterangan yang pasti, baik dari sumber lokal maupun sumber dari luar, tentang terjadinya perpindahan kepercayaan penduduk ke dalam Islam oleh salah seorang raja setempat pada masa itu, sebagaimana yang terjadi pada agama Katolik.
Agaknya, inilah salah satu faktor pendorong para pedagang Melayu mengundang tiga orang mubalig dari Koto Tangah Minangkabau agar datang di Makassar, untuk mengislamkan elit Kerajaan Gowa dan Tallo. Motivasi lain yang mendorong para saudagar Melayu dalam mengambil keputusan mendatangkan mubalig ke Makassar adalah untuk mengimbangi misi Katolik. Para misionaris telah berusaha menyebarkan pengaruhnya ke dalam istana Kerajaan Gowa. Persaingan antara misionaris Katolik dan para pedagang muslim telah lama berlangsung, sebagaimana yang diakui oleh Antonio de Payva, seorang misionaris Katolik yang berlcunjung ke Sulawesi Selatan pada tahun 1542. Payva menulis dalam suratnya sebagai yang dikutip oleh Pelras: “Lawan saya adalah pendatang Melayu Islam… dari Sentana (Ujungtanah), Pao (Pahang) dan Patane (Patani), yang berusaha supaya raja mengubah maksudnya (untuk menerima agama Katolik), karena sudah lima puluh tahun lebih mereka datang berdagang di situ.
Pengakuan Antonio de Payva tersebut juga ditemukan dalam Lontara Wajo yang menceritakan kekurangsenangan orang-orang Melayu setelah melihat sejumlah orang Makassar dan Bugis sudah terpengaruh agama Kristen Katolik yang dibawa oleh para misionaris Portugis. Inisiarif untuk mendatangkan mubalig khusus ke Makassar sudah ada sejak Anakkoda Bonang berada di Gowa pada pertengahan abad XVI, tetapi baru berhasil setelah memasuki awal abad XVII dengan kehadiran tiga orang datuk dari Minangkabau.
Kehadiran tiga datuk yang dilatarbelakangi persaingan antara misionaris dan para pedagang muslim sebagaimana tersebut di atas, telah memperkuat tesis Schrieke yang memandang bahwa intensitas penyebaran Islam adalah sebagai tandingan terhadap misi Kristen yang agresif. Lontara Wajo menyebutkan bahwa ketiga datuk itu datang pada permulaan abad XVII dari Koto Tangah, Minangkabau. Mereka dikenal dengan nama datuk tellue (Bugis) atau datuk tallua (Makassar), yaitu:
- Abdul Makmur, Khatib Tunggal, yang lebih populer dengan nama Datuk ri Bandang.
- Sulaiman, Khatib Sulung, yang Iebih populer dengan nama Datuk Patimang.
- Abdul Jawad, Khatib Bungsu, yang lebih dikenal dengan nama Datuk ri Tiro.
Sumber lain menyebutkan bahwa ketiga datuk itu adalah utusan dari Kerajaan Aceh. Mereka diutus atas permintaan Karaeng Matoaya, Raja Tallo yang juga menjabat sebagai tonzabicara butta atau mangkubumi Kerajaan Gowa. Kedua sumber tersebut tidaklah bertentangan, karena sekalipun ketiga datuk itu berasal dari Minangkabau, kemungkinan saja mereka adalah utusan dari Aceh, mengingat Minangkabau pada awal abad XVII berada dalam pengaruh Kerajaan Aceh.
Sumber: Ahmad Sewang, 2005, Islamisasi Kerajaan Gowa: abad XVI sampai abad XVII
LKPS
Lembaga Kajian dan Peminatan Sejarah
