Sejarah Komputer di Universitas Indonesia

Sejarah Komputer di Universitas Indonesia

Sebagai perguruan tinggi negeri tertua di Indonesia, UI memulai pengembangan komputer pada masa pemerintahan Presiden Sukarno. Kegiatan Teknik Elektro di UI dimulai tahun 1964. Pada tahun tersebut, Jos Luhukay adalah salah seorang mahasiswa yang aktif mengembangkan teknologi digital komputer di kampus. Saat itu, menurut Jos Luhukay komputer adalah “sastra”-nya saja, karena sebagai teknologi, komputer yang dipelajari tersebut belum ada barangnya, tetapi hanya berupa teori saja. Berbagai teori dasar elektronika yang berhubungan dengan teknologi silikon berkembang. Berbagai bahasa pemrograman juga dipelajari para mahasiswa. Ketika dosen mengajar bahasa program seperti bahasa assembly, basic dan Fortran di Fakultas Teknik UI, memerlukan sisi praktek ke komputer. Berangkat dari angan-angan, kemudian diupayakan untuk memprogram komputer. Dari 20 orang mahasiswa di jurusan elektro UI, terdapat beberapa yang akhirnya terjun nyata dan menjadi pengajar seperti Bagio Budiardjo, Jos Luhukay, dan Djoko Hartanto.

Para mahasiswa tersebut ditawari oleh perintis Pusat Ilmu Komputer UI, Indro Suwandi, untuk bergabung ke bidang komputer. Ada beberapa orang yang kemudian terlibat, di antaranya Jos Luhukay, Indrajit Soebardjo, dan DDjoko Hartanto, yang semuanya pada waktu itu masih lajang dan punya banyak waktu untuk mengembangkan suatu teknologi baru bernama komputer.[1] Djoko Hartanto adalah relawan yang pertama kali bergabung dengan Pusat Ilmu Komputer UI. Sejak lulus kuliah, ia diajak oleh dokter Indro Suwandi untuk mendirikan Pusilkom UI pada Maret atau April 1972. Seorang alumni elektro FTUI, Bagio Budiardjo, turut dipanggil oleh dokter Indro. Perbincangan dan diskusi awal tersebut merupakan salah satu bagian dari pengembangan komputer di Universitas Indonesia. Indro Suwandi kemudian diakui sebagai seorang perintis dan pendiri pusat studi yang mempelajari komputer di Universitas Indonesia. Indro membentuk sebuah institusi yang berisi orang-orang dengan pemahaman komputer.

Tersedianya sumber daya manusia, peralatan, dan fasilitas perpustakaan dalam bidang ilmu komputer di Pusilkom UI, mengakibatkan timbulnya keinginan dari berbagai pihak kepada UI untuk menyelenggarakan suatu Fakultas Ilmu Komputer yang tugasnya melakukan perencanaan pembelajaran komputer. Sumber daya manusia yang telah dipersiapkan tersebut kemudian menjalani tugas belajar ke luar negeri dan berbagai kegiatan pengembangan ilmu komputer. SK Pusilkom yang pertama terdiri dari empat orang, yaitu DDjoko Hartanto, Bagio Budiardjo, Jos Luhukay, dan Indrajit Subarjo pada tahun 1973. SK ini didapatkan dari Rektor untuk pengembangan Pusilkom, tetapi UI tidak bertanggung jawab terhadap pendanaannya. UI belum mampu untuk mendukung biaya operasional Pusilkom. Untuk masalah pendanaan tersebut, akhirnya dicarikan oleh Indro Suwandi

Indro Suwandi menjadi peletak pertama dari manpower development plan, para ahli dalam bidang komputer di UI. Perekrutan SDM kemudian tidak hanya dilakukan dari kalangan dalam saja, tetapi juga melibatkan orang-orang dari luar UI. Para alumni dari ITB, UGM, dan dari fakultas kedokteran UI mulai mengisi kebutuhan SDM. Pakar kelas dunia pun didatangkan ke UI untuk memberikan ceramah pada SDM Pusilkom. Dari situ, SDM Pusilkom dikenalkan dengan bahasa-bahasa tingkat tinggi komputer. Selain kuliah umum, juga didatangkan orang dari perusahaan seperti Intel untuk berbicara tentang mikroprosesor.

Kendati Pusilkom sudah dibentuk, Pusilkom UI baru menyelenggarakan Program Studi Ilmu Komputer untuk jenjang S1 pada tahun 1986, yang dilanjutkan dengan program studi yang sama untuk jenjang S2 pada tahun 1988. Semua program studi yang sudah ada kemudian bernaung di bawah Fakultas Ilmu Komputer UI. Jadi, Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia tidak dapat dilepaskan dari Pusat Ilmu Komputer Universitas Indonesia. Pusat Ilmu Komputer Universitas Indonesia, yang kemudian lebih dikenal sebagai Pusilkom UI, berkantor di salah satu sudut gedung Fakultas Kedokteran UI, Salemba. Pusilkom awalnya menempati sebuah ruangan berukuran 4 x 4 meter persegi. Jumlah pegawainya sebanyak tiga orang, termasuk Direktur. Meja dan peralatan kantor merupakan barang pinjaman, dan tidak ada sebuah komputer pun dalam kantor tersebut.

Pemakaian komputer pada saat itu dilakukan dengan menggunakan fasilitas yang dimiliki oleh instansi lain, seperti Pemerintah DKI Jakarta, Departemen Pekerjaan Umum, dan Biro Pusat Statistik. Kegiatan utama yang dilakukan adalah pengelolaan ujian masuk UI serta pemberian ceramah atau konsultasi. Dalam dua tahun kemudian, Pusilkom UI mulai merekrut beberapa orang staf dari FTUI, FEUI dan FMIPA UI. Pada tahun 1974, jumlah pegawai mencapai tujuh orang. Ruang kerja masih meminjam pada Fakultas Kedokteran UI, namun sudah lebih luas dengan area 50 meter persegi. Pada tahun 1975, sebuah gedung berlantai tiga yang terletak di kampus Salemba selesai dibangun. Gedung ini kemudian ditempati oleh Pusilkom UI dan menjadi ruang kuliah Fakultas Ilmu Komputer di Salemba.

Pusilkom UI memperoleh bantuan hibah dari Departemen Dalam Negeri berupa seperangkat peralatan komputer Data General NOVA/3D dan Data General Eclipse C300. Dengan demikian pengolahanan data untuk ujian masuk perguruan tinggi negeri dapat sepenuhnya dilaksanakan di Pusilkom UI. Pada akhir dasawarsa 1970-an, Pusilkom UI mengalami perkembangan yang cukup pesat, antara lain dengan menerima beberapa orang staf tambahan serta mengirimkan lagi lima orang staf ke Amerika Serikat untuk tugas belajar. Peranan Pusilkom UI bertambah luas dengan melakukan berbagai program pendidikan, konsultasi dan pengolahan data baik di dalam Universitas Indonesia sendiri maupun di luar UI.

Pada tahun 1975, belum ada seorang pun yang berkecimpung dengan mikroprosesor Intel 8080, yang baru mulai dibuat di Sillicon Valley, Amerika Serikat. Jadi SDM Pusilkom mulai dibawa ke arah pemikiran perkembanganteknologi moderen seperti itu oleh Indro Suwandi. Beberapa pembicara yang dipandang sepuh, seperti seorang profesor dari Iran, berbicara mengenai the storage system, cara penyimpanan sistem informasi, dari IBM. Pusilkom UI kemudian juga diperkenankan menggunakan komputer milik Pemda DKI. Pusilkom pun mengembangkan sistem administrasi kemahasiswaan pada tahun 1974. Pengolahan yang dilakukan oleh Universitas Indonesia kemudian berlanjut pada proyek Perintis 1, Perintis 2, dan Sekretariat Kerjasama Lima Universitas (SKALU). Pengembangan software semakin lama semakin baik. Dalam proyek SKALU, banyak sekali pekerjaan yang dilakukan untuk menyaring calon mahasiswa baru, termasuk juga menyaring keaslian ujiannya, tentang bagaimana cara menghindari adanya joki yang bermain. Bila ditemukan kecurangan, maka nomor peserta ujian yang bersangkutan langsung dicoret melalui software. Pada tahun 1976 hingga 1978, hanya Universitas Indonesia yang mampu melakukan pengolahan data ini, mengembangkan kemampuan dalam bidang programming, system development, dan seterusnya.[2]

SDM Pusilkom kemudian belajar tentang implementasi komputer untuk Departemen Keuangan RI di bawah pimpinan Profesor Saswinadi Sasmoyo dari jurusan Teknik Kimia ITB, yang meraih PhD dari Ohio State University. Di Departemen Keuangan tersebut, mereka menulis berbagai rancangan program di atas kertas, yang disupervisi oleh Profesor Saswinadi. Tidak ada peralatan lain untuk membuat rancangan tersebut. Konsep-konsep yang diajukan pada masa itu adalah pola agar masyarakat Indonesia punya satu Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), yang pada waktu itu dirancang sesederhana mungkin. Tetapi, keluaran produk tersebut akhirnya juga cukup rumit.[3] Tim UI kemudian diperbantukan ke Departemen Keuangan Republik Indonesia (Kemenkeu), di bawah Menteri Ali Wardhana, untuk memulai proyek pengembangan sistem informasi Departemen Keuangan.[4] Ketika diminta untuk membuat sistem informasi keuangan di Kementerian Keuangan, tim mulai mengimplementasikan komputer untuk masyarakat.

Hal yang pertama dilakukan adalah menganalisa sistem dan seluruh aliran data yang ada di Departemen Keuangan. Pada titik-titik tertentu, data tersebut dievaluasi. Format informasi kemudian ditentukan, untuk diolah oleh program komputer. Departemen Keuangan RI saat itu juga belum memiliki komputer. Indro Suwandi hanya membekali buku untuk dipelajari, dan bila ada yang tidak dimengerti, maka diadakan diskusi di kampus UI setiap hari Sabtu. Secara perlahan ilmu komputer makin dikuasai oleh tim Pusilkom UI meski hanya dimulai dari teori, karena belum ada perangkat komputernya. Perangkat keras ini kemudian didapatkan, milik Pemda DKI, berupa IBM seri 370 135. Modal pengetahuan ini berharga ketika para anggota tim melanjutkan studi di Amerika Serikat tahun 1972.[5]

Selain proyek Departemen Keuangan, tim Pusilkom UI yang masih belia ini juga diminta untuk membuat komputerisasi di Kantor Bea dan Cukai Tanjung Priok. Mereka merancang sebuah sistem informasi dengan hanya berbekal program. Banyak sisi di mana tim Pusilkom melakukan berbagai improvisasi yang cukup berani. Setelah rancangan sistem informasi selesai dikerjakan oleh tim, Departemen Keuangan memutuskan untuk memakai komputer Univac, magnetic core memory, yang pada waktu itu memorinya sangat kecil, bahkan bila dibandingkan dengan smartphone yang saat ini menjamur. Memori tersebut hanya berukuran sekitar 64 atau 32 kb, yang mungkin lebih besar sedikit, sekitar 128 kb. Adapun perangkat komputernya sangat besar.[6]

Setelah sukses menjalankan sistem informasi di Departemen Keuangan, perusahaan IBM mendekati UI pada tahun 1974, berlatarkan kharisma Indro Suwandi sebagai Ketua Tim Pengarah komputerisasi Departemen Keuangan tersebut. Setelahnya, tim memerlukan hardware untuk menjalankan berbagai pekerjaan. Karenanya, IBM berkenan mendonasikan suatu sistem komputer canggih seri 360-40. Sebenarnya, teknologi tersebut sudah mulai pudar, dan diganti teknologi baru seperti yang digunakan di DKI, tipe 370-40. Kebutuhan listrik komputer tipe 360-40 besar dan biaya perawatannya tinggi. Tim menolak donasi IBM karena UI takkan mampu untuk memelihara sistem komputer itu. Bahkan, pemilihan komputer untuk digunakan di Departemen Keuangan juga tidak memilih produk IBM, tetapi Univac 1106. Mesin tua ini dipilih karena cost per bit of storage of memory yang dinilai layak oleh tim. Kantor Hankam di Pondok Labu, Jakarta Selatan kemudian juga membeli mesin komputer Univac ini.

Pemeliharaan komputer cukup sulit. Aliran listrik yang tak stabil membuat disk cepat rusak. Sebagai solusi, Bagio bekerja membuat interface antara listrik dan perangkat komputer berupa line conditioner untuk memperbaiki fasanya. Selain itu ada ancaman petir, dengan masalah arde penangkal petir Kampus Salemba bukan produk yang bagus. Komputer merupakan produk teknologi yang banyak membantu bidang teknik di FTUI. Hal ini dirasakan oleh Emirhadi Suganda, seorang staf pengajar di Departemen Arsitektur UI. Sewaktu kampus UI masih berkedudukan di Salemba, ia belum mengenal komputer. Teknologi tersebut baru dikenal lewat teman-temannya yang berkiprah di Pusilkom, Jos Luhukay dan Bagio Budiardjo. Emirhadi mendapati bahwa ternyata komputer bisa dimanfaatkan untuk arsitektur.[7]

Usai menyelesaikan tugas di luar, tim Pusilkom kembali ke UI dan mengembangkan sistem informasi di dalam kampus. Hal pertama yang dilakukan adalah membuat kartu mahasiswa. Di dalam kartu mahasiswa tersebut, tim menuliskan isian golongan darah. Karenanya, tim Pusilkom sempat diprotes oleh para mahasiswa. Mereka menanyakan, “Apa ini? Apakah mau menyumbang darah?” Meskipun dalam kondisi yang bisa dikatakan darurat, tim Pusilkom sudah menggunakan teknik-teknik tertentu dalam implementasi penggunaan teknologi komputer. Untuk tahun anggaran berikutnya, tim pun menggunakan daftar prioritas alokasi. Cara itu menjadi sebuah upaya computer budgeting pertama di Indonesia pada awal tahun 1970-an.

Tim kemudian bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan komputer internasional dari Inggris dan Jerman. Mereka juga mendapat bantuan. Kerjasama dilakukan dengan ITB, lewat pertemuan antara Profesor Iskandar Alisjahbana selaku Rektor ITB 1976-1978 dengan Indro Suwandi. Saat mengunjungi Pusilkom, Iskandar menyempatkan mampir ke ruangan Jos Luhukay. Ia mengajak Jos untuk membuat  polemik di Harian Kompas mengenai kepemilikan satelit komunikasi oleh pihak swasta. Obrolan dan skema “polemik pro-kontra buatan” ini akhirnya memunculkan perusahaan swasta Pasifik Satelit Nusantara yang kemudian mempunyai beberapa satelit di angkasa.

UI kemudian diminta mengirimkan wakil-wakilnya untuk duduk di Dewan Pertahanan dan Keamanan Nasional/Wanhankamnas. Wanhankamnas mencoba untuk menyistematisasi rencana lima tahun Republik Indonesia pada waktu itu melalui metode setengah ilmiah, dengan bantuan teknologi informasi yang diolah di pusat komputer DKI.[8] Komputer kemudian dibeli dengan anggaran negara untuk proses pemilihan mahasiswa baru lewat pendaftaran ujian masuk universitas negeri dengan cara SKALU. Ada lima universitas yang menyatakan bergabung dalam sistem tersebut, yaitu UI, IPB, ITB, UGM, dan Unair.[9] Proses komputerisasi ini menjadi hal yang monumental untuk UI. Kelima universitas yang dinamai center of excellents.[10]

Tim SKALU menggunakan card reader, yang dapat membaca kartu-kartu yang telah diisi oleh para mahasiswa untuk menentukan besaran nilainya. Ujian dilaksanakan di Stadion Senayan. Dalam trial komputerisasi ujian ini, ada kendala-kendala yang muncul. Suatu masalah terbesar adalah ketika ada calon mahasiswa yang membuat kesalahan pada kartu, lalu menutupi bidang yang salah itu dengan permen karet. Karena lengket dan mengganjal, kartu menyangkut di card reader yang memang harus membacanya dengan kecepatan sangat tinggi karena jumlah data sangat banyak. Sisi ruang entry termakan oleh kartu-kartu yang masuk dengan tidak tepat dan tergeser-geser. Tim SKALU mencari akal, bagaimana cara untuk menambal jalannya kartu tersebut. Akhirnya mereka menggunakan plombir, bahan tambal dari seorang dokter gigi, istri Profesor Bagio Budiardjo, Prof. Sarworini B. Budiardjo. Jalan kartu yang telah diplombir tersebut membuatnya bisa lancar kembali. Komputerisasi ujian masuk dalam proyek perintis 1 berupa SKALU ini, Sekretariat Kerjasama Lima Universitas, merupakan hal yang monumental untuk UI. Mereka mengolah sebanyak 600 ribu data pendaftar untuk masuk perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Pada Desember 1976, cara komputerisasi dalam seleksi masuk perguruan tinggi negeri merupakan hal yang langka terjadi di dunia. Proyek Perintis 1 kemudian berlanjut ke Perintis 2. Cara ujian masuk pun diperluas, sehingga mencakup sepuluh perguruan tinggi negeri.

Mengenai card reader tersebut, pada alat terdapat document reader OCR (optical card reader) yang semula amat sulit digunakan untuk bisa running. Semula, OCR didesain di dalam negeri oleh Jos Luhukay namun gagal. Tim SKALU akhirnya membeli OCR dari Jepang. Dari 600 ribu calon mahasiswa, setiap orang mengisi minimal empat formulir yang harus dibaca oleh komputer dalam kurun waktu satu bulan. Semua hal diperhitungkan, termasuk programming, data control, crash, dan lain-lain. Untuk membaca 2,4 juta lembar formulir tersebut, tim SKALU dengan tulang punggung Jos Luhukay dan Bagio Budiardjo melakukannya dengan amat rumit. Pasalnya, cara ini belum pernah dilakukan di Indonesia.[11]

Jos Luhukay kemudian dikirim belajar hingga meraih PhD dari Universitas Illinois tahun 1982. Semasa belajar di Amerika Serikat, Jos mengenal Internet. Sesampainya di Indonesia, ia memiliki dua interest pribadi. Tetapi, yang utama adalah meneruskan riset dan tetap berhubungan dengan teman-temannya di Amerika. Karena aktif dalam inter university network task force, yang akhirnya menjadi pencetus Internet protocol, Jos menerapkan unix to unix copy (UUCP Protocol), yang dijalankan programnya di komputer kecil milik Pusilkom. Olahan tangannya tersebut melahirkan intranet, sehingga UI merupakan universitas pertama di kawasan Asia Tenggara yang terhubung dengan dunia antar universitas, di antaranya ke Australia dan Hongkong. Selanjutnya, Jos berhasil membuat proposal sehingga meraih dana 300 ribu dolar, yang didapatkan dari World Bank untuk membeli server komputer untuk ditempatkan di delapan kantor serta tujuh kampus dan Kantor Dikti. Tujuannya, agar para peneliti di perguruan tinggi bisa berbagi hasil-hasil penelitian, tulisan, tesis, dan sebagainya.

Karena software komputer tak lengkap, para staf pengajar di Fasilkom memilahnya ke dalam unit-unit. Setiap unit dijadikan sebagai kolokium mahasiswa untuk menyelesaikan program S1 elektro di FTUI. Semua hasilnya kemudian dirangkum menjadi satu. Internet masih memakai dial phone dengan sekian bite per detik. Belum ada website, www, dalam penggunaan Internet, yang kemudian dikembangkan di Cern, Jenewa, Swiss. Ketika Profesor Kilnam Chon, yang membuat Korea menjadi negara terbesar yang terkoneksi ke Internet, menerbitkan buku The Annals of Internet in Asia, nama UI ada di dalamnya. Istilah “komputer” masih amat baru dan amat eksotis. Kemudian, ada suatu waktu di masa pemerintahan Soeharto, Menteri Muda Urusan Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri 1983-1988, Ginanjar Kartasasmita, mencanangkan “komputer buatan Indonesia”. Impor pun dihentikan. Hal itu merupakan suatu kebanggaan saat itu, sekaligus menghambat diri sendiri dalam penggunaan teknologi paling mutakhir. Suatu set back beberapa tahun, ketika kemudian impor boleh dilakukan lagi.[12]

Pada awal tahun 1980-an ini, Pusilkom memperoleh sebuah komputer super mini Data General MV/8000 berbasis AOS/VS. Ke-32 terminal serial/current loop dari komputer super mini tersebut ditempatkan secara tersebar di beberapa gedung kampus UI Salemba, untuk menjadi awal jaringan kampus UI. Untuk jaringan ethernet, UI mulai membangunnya lewat seperangkat komputer unix “Dual Systems 83/20” berbasis Motorola 68000, serta server terminal ethernet “NTS” berbasis Intel 80186 yang dibawa oleh Jos Luhukay dari Amerika. Kehadiran dua perangkat ini menandai permulaan dua era, yaitu Networking dan Unix. Pusilkom UI pun telah memiliki sejumlah komputer mikro Apple, serta sebuah IBM XT asli saat itu.

Tim Pusilkom mem-plotting implementasi program komputer ke dalam kasus-kasus yang menarik bagi para mahasiswa. Jos Luhukay kemudian mengusulkan dibentuknya computer technology center di UI, dengan bantuan investasi dari dunia industri. Usul itu disambut oleh Amerika Serikat dengan dialokasikannya sebidang tanah di Depok. Pemerintah Amerika berencana membangun gedung di atasnya, yang kemudian akan digunakan untuk melokalisasi teknologi Indonesia, di samping mendidik para mahasiswa. Kerjasama ini melibatkan antar pemerintah dan regulasi antar dua negara, yang ternyata berbenturan. Dalam regulasi di Indonesia, gedung adalah milik pemilik tanah. Jadi, tidak bisa mewujudkan suatu tanah milik orang lain dengan gedung yang milik negara lain pula. Di sisi lain, Amerika mengatakan bahwa bila mereka membangun gedung, maka bangunan itu sepenuhnya adalah milik pihak pembangun. Kedua prinsip tersebut tidak menemukan titik temu dan tidak dapat dilakukan.

Menurut Bagio Budiardjo, Jos Luhukay terlibat secara intens dalam pengembangan teknologi informasi sekitar tahun 1975-1976. Jos menginisiasi institusi pemerintah untuk memanfaatkan teknologi komputer. Pihak yang menjadi motor pendorongnya adalah Indro Suwandi dan Bagio Budiardjo. BUMN Pupuk Srijaya adalah salah satu Perusahaan yang merespon komputerisasi yang dilakukan UI. Mereka mengundang tim Pusilkom UI untuk menjadi konsultan Pupuk Sriwijaya. Sebagai konsultan komputer Pusri, tim Pusilkom mengembangkan inventory system dari pabrik di Palembang tahun 1975. Mereka juga menggelar pendidikan bagi staf IT Pusri hingga bisa mengelola IT-nya sendiri. Pekerjaan-pekerjaan kecil ini dianggap monumental bagi Bagio Budiardjo untuk pemasyarakatan teknologi komputer di Indonesia.

Jos Luhukay juga menginisiasi local computer network di Pusilkom UI pada tahun 1983. Melalui diskusi yang intens, Jos menggerakkan seminar-seminar teknologi informasi untuk kalangan industri di Indonesia. Ia menciptakan piranti rancang untuk rekayasa. Pakar dari MIT diundang untuk melakukan transfer knowledge. Jos Luhukay kemudian menuliskan paper uninet, inter university networks. Untuk Indonesia, ide ini terus bergaung dan membuat orang menyadari untuk mulai saling berhubungan dengan kemampuan peralatan yang ada saat itu.

Volume kegiatan yang meningkat membutuhkan peralatan mesin komputer baru sehingga proses pemilihan dan pemesanan mulai dilakukan. Dasawarsa 1980-an ditandai dengan kembalinya beberapa orang staf dari tugas belajar. Peralatan yang sudah dipesan sebelumnya pun sudah mulai terpasang. Sementara itu Pusilkom UI semakin besar peranannya dalam pengembangan Ilmu Komputer di Indonesia, meskipun program studi Ilmu Komputer sendiri belum dibentuk. Hal ini tampak antara lain dari Pusilkom UI dipercaya untuk melakukan pengolahan data ujian masuk seluruh perguruan tinggi negeri, pengembangan Sistem Informasi Manajemen Pendidikan Tinggi Nasional, dan beberapa kegiatan penting lainnya.

Pusilkom kemudian mengembangkan system berbasis komputer mini (mini computer). Saat itu setiap komputer mini dengan merek berbeda dijalankan dengan sistem operasi tersendiri. Setiap sistem operasi tidak kompatibel dengan sistem operasi lainnya. Sebuah program yang dikembangkan pada sistem tertentu, tidak dapat dengan mudah dijalankan pada sistem lainnya. Masalah ini mulai teratasi dengan sebuah sistem operasi UNIX. Sistem UNIX ini dapat dijalankan pada berbagai jenis komputer. Selain beroperasi pada komputer mini, UNIX pun dapat dioperasikan pada sebuah generasi komputer super mikro berbasis prosesor 32 bit, seperti Motorola MC68000.

Sistem berbasis UNIX pertama di Universitas Indonesia pada tahun 1983 ialah komputer Dual 83/20 dengan sistem operasi UNIX versi 7, memori 1 megabyte, serta disk 8 inci berkapasitas 20 megabytes. Penelitian dengan memanfaatkan komputer tersebut menghasilkan puluhan sarjana S1 UI. Tema penelitian S1 pada saat tersebut berkisar dalam bidang jaringan komputer, seperti pengembangan email, alih berkas, porting UUCP, X.25, LAN ethernet, network printer server, dan lainain. Komputer “Dual 83/20″ ini, kemudian lebih dikenal dengan nama “INDOGTW” (Indonesian Gateway), karena pada akhir tahun 1980-an digunakan sebagai “dedicated email server ke luar negeri.

Sistem INDOGTW ini beroperasi non-stop 24 jam sehari, tujuh hari seminggu. Fungsi sistem tersebut di atas, digantikan oleh komputer baru “INDOVAX”, yaitu DEC VAX-11/750 dengan sistem unix 4.X BSD dengan memori 2 Mbytes, serta disk 300 Mbytes. Pada waktu itu, sangat lazim menamakan satu-satunya VAX pada setiap institusi, dengan akhiran “VAX”, seperti UCBVAX (Universitas Berkley), UNRVAX (Universitas Nevada Reno), DECVAX (DEC), ROSEVAX (Rosemount Inc), dan MCVAX (Amsterdam). Sistem ini pun kembali menghasilkan puluhan sarjana S1 UI untuk berbagai penelitian, seperti rancangan VLSI, X.400, dan sejenisnya. Untuk mewadahi para pengguna dan penggemar UNIX yang mulai berkembang ini, dibentuk sebuah Kelompok Pengguna Unix (Unix Users Group) yaitu INDONIX.

Pembangunan computer networking di UI sudah dibentuk sejak awal tahun 1983. Hal ini dilakukan untuk mulai mengakses jaringan dunia. Pada tahun 1985, program ilmu komputer, yang menyediakan ilmu komputer juga mulai dibuka di UI. Unit Pelaksana Teknis (UPT) Universitas Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi kemudian menerima sumbangan suatu sistem komputer DÉC VAX-11 /750 dari PT Astra Graphia senilai Rp.220 juta, dengan jasa pemeliharaan selama setahun. DEC juga menyumbang beberapa perangkat lunak termasuk program Computer Based Education (CBE). Penandatanganan program kerja sama antara DEC, PT Astra Internasional, dan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi itu dilakukan di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Dokumen ditandatangani oleh Dirjen Pendidikan Tinggi, Prof. Dr. Sukadji Ranuwihardjo; Manajer Penjualan DEC untuk Timur Jauh yang berkedudukan di Hongkong, Rhett B. Baynton; dan Presiden Komisaris PT Astra Internasional, William Suryadjaya.

Bantuan tersebut dimaksudkan untuk membina dan meningkatkan fasilitas pendidikan tinggi lanjutan di bidang ilmu komputer. Tujuannya agar jumlah dan mutu sarjana ilmu komputer di Indonesia semakin meningkat, dan mempercepat proses alih teknologi. Sebelumnya, pada tahun 1984, Astra juga menyumbangkan seperangkat komputer kepada Jurusan Informatika ITB di Bandung. Pemakaian komputer di negara maju, seperti Amerika Serikat dan Kanada, sudah merupakan keharusan. Lebih dari 95 persen pendidikan tinggi di bidang komputer menggunakan jenis perangkat seperti yang diberikan oleh PT Astra kepada UI dan IPB. Sukadji menilai kerja sama antara sektor industri dengan perguruan tinggi memberi dampak positif bagi banyak pihak. Program pendidikan sarjana dan magister ilmu komputer dapat dibuka pada beberapa perguruan tinggi di Indonesia.

Pada tahap awal pendirian, jenjang pendidikan untuk ilmu komputer dibagi dalam tiga kelompok berdasarkan fungsinya. Pertama adalah pembentukan pusat nasional di Universitas Indonesia, Institut Teknologi 10 November, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Gadjah Mada, berupa pendidikan S1, dan pendidikan S2 di UI. Kedua adalah pembentukan pusat pembinaan di Institut Pertanian Bogor, Universitas Diponegoro, Universitas Negeri Sebelas Maret, dan Universitas Brawijaya, berupa pendidikan S1. Ketiga adalah pembentukan pusat regional di Universitas Sumatera Utara, Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Hasanuddin, Universitas Sam Ratulangi, dan Universitas Udayana.[13] Pada tahun 1988, Universitas Indonesia dipilih menjadi gateway Internet pertama di Indonesia, dan sekaligus dipilih sebagai koordinator pendaftaran domain .id pada jaringan Internet berbasis protokol UUCP.

Perangkat komputer dengan aplikasi kearifan lokal dimulai pada akhir tahun 1988. Djaka Sasmita, dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, berhasil membuat program komputer huruf Jawa. Program tersebut dikembangkan dan dikenalkan kepada masyarakat melalui Yayasan Pembinaan Pendidikan dan Keterampilan Masyarakat “Pophayo” di Bantul. Program komputer huruf Jawa tersebut ditemukan pada Agustus 1988 setelah timbul keinginan untuk mencari program komputer tersebut, yang didorong oleh kenyataan bahwa kalangan generasi muda Jawa kurang tertarik untuk mempelajari bahasa dan huruf daerahnya sendiri. Penemuan tersebut menjadi sebuah harapan baru bagi kalangan generasi muda untuk kembali tertarik mengenal dan mempelajari huruf Jawa sebagai salah satu warisan budaya bernilai tinggi. Komputer hanyalah sebagai sarana untuk memfasilitasi keperluan tersebut, karena teknologi mulai menjadi era yang masuk ke kalangan muda untuk menggunakannya.[14]

Pada tahun 1993, Fakultas Ilmu Komputer UI diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Saat itu Indonesia juga secara resmi terhubung dengan jaringan Internet global menggunakan protokol TCP/IP dan domain “.id” sebagai simbol negara. Situs Ipteknet menjadi situs yang pertama kali terhubung dengan Internet. Dari pelaksanaan pekerjaan dan pengembangan studi komputer, Bagio Budiarjo menilai bahwa Jos Luhukay adalah bapak dari modern computing di Indonesia. Jos pula yang kemudian membawa Internet ke Indonesia, meski menurutnya, juga menurut Bagio Budiardjo, komputer pertama yang masuk universitas di Indonesia adalah IBM 701 di ITB, sementara UI belum memilikinya.[15] Setelah hanya dicoba dan dimanfaatkan di lingkungan kampus, penyedia layanan Internet untuk masyarakat umum di Indonesia hadir dengan nama Indonet pada 1994, dengan situsnya www.indo.net.id.

Dalam menyongsong tahun 2000, karena masalah yang dikenal dengan millenium bug, Pusat Ilmu Komputer Universitas Indonesia melakukan survei adaptasi sistem penanggalan. Hasilnya menyimpulkan bahwa 5 persen sistem komputer di Indonesia mendesak untuk segera dimodifikasi agar sesuai dengan sistem penanggalan tahun 2000. Sistem komputer yang dapat beradaptasi dengan tahun 2000 dilihat urgensinya, karena pada beberapa sistem yang lama masih dapat dijalankan. Sistem komputer pengolahan data keuangan adalah bidang yang wajib untuk dimodifikasi, karena akan mempengaruhi aspek legalitas dan kontinuitas operasional suatu perusahaan. Bila mengikuti asumsi 5 persen tersebut, maka sistem komputer yang mendesak untuk dimodifikasi membutuhkan biaya investasi sekitar 80 juta dolar untuk mampu menjalankan penanggalan tahun 2000. Latarnya adalah sesuai survei software productivity incorporation (SCR) yang menyatakan bahwa biaya penggantian sistem komputer penanggalan tahun 2000 mencapai 1,6 miliar dolar.[16]

Pemanfaatan komputer untuk kepentingan eksplorasi sumber daya alam berkembang ketika seorang dosen dari Universitas Gadjah Mada berhasil mengembangkan suatu sistem tomografi komputer yang bermanfaat untuk menguji karakteristik materi. Penemuan dari Prof. Drs. Gede Bayu Suparta, dosen jurusan fisika Fakultas MIPA UGM ini memanfaatkan tomografi sebagai teknik pemetaan organ tubuh tiga dimensi dengan menggunakan sinar-x. Gede mengembangkannya untuk menjadi sistem tomografi komputer translasi rotasi, yang bermanfaat untuk menguji dan menentukan karakteristik bahan tanpa merusak kandungan materinya. Alat tomografi komputer tersebut kemudian dipatenkan ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual, Departemen Kehakiman.

Sistem ini bisa digunakan untuk mengetahui kualitas berbagai produk material secara sederhana. Peralatannya pun mudah dibawa ke mana saja dengan biaya terjangkau, dan hasil ujiannya adalah citra penampang lintang struktur internal materi atau benda. Jadi, bukan berupa grafis atau semacam hasil laboratorium berisi kode-kode yang hanya bisa dipahami oleh ahlinya. Citra irisan benda itu bisa dilihat di layar komputer, diperbesar, dan dicetak. Sistem tomografi komputer yang dikembangkan tersebut bisa dimanfaatkan untuk mengidentifikasi produk palsu. Tomografi yang dikembangkan menggunakan Isotop CS-137. Tomografi komputer itu bisa memberi informasi tentang distribusi ruang atau peta komponen material yang bersangkutan, posisi komponen, dan volume. Karakter material seperti indeks bias dan kerapatan bahan juga dapat diketahui.

Secara mikroskopik, setiap bahan akan terlihat berbeda ketika diuji oleh peralatan ini. Berbagai materi yang diuji adalah bahan kayu sampai beton, misalnya untuk mengetahui porositas beton tersebut. Tomografi komputer menjadi sangat penting untuk menguji bahan galian di Indonesia, yang sering dianggap atau dilaporkan berkualitas buruk oleh perusahaan pertambangan asing. Alat tomografi komputer bisa membuat karakteristik dan segala aspek materi yang terdapat di setiap bahan terungkap. Misalnya, seorang ahli menyatakan ada perbedaan antara emas yang dihasilkan di Martapura, Freeport, maupun Cikotok, yang tidak bisa dilihat dengan kasat mata. Dengan peralatan tomografi komputer, perbedaan karakteristik emas itu bisa dilihat bahkan oleh orang awam. Demikian juga dengan kandungan dari hasil-hasil tambang lainnya.[17]

[1] Wawancara Riri Fitri Sari dan Hurri Junisar dengan narasumber Joseph (Jos) Luhukay, 11 Maret 2021

[2] Wawancara Riri Fitri Sari dan Hurri Junisar dengan narasumber Prof. Dr. Bagio Budiardjo, 16 Maret 2021

[3] Wawancara Jos Luhukay, loc.cit

[4] Ibid

[5] Bagio Budiardjo, op.cit

[6] Jos Luhukay, op.cit

[7] Wawancara Riri Fitri Sari dan Hurri Junisar dengan narasumber Prof. Dr. Emirhadi Suganda, 16 Maret 2021.

[8] Wawancara Jos Luhukay, loc.cit

[9] Ibid

[10] Wawancara Prof. Dr. Bagio Budiardjo, loc.cit

[11] Ibid

[12] Jos Luhukay, op.cit

[13] Kompas, 25 April 1986

[14] Harian Neraca, 17 November 1988, hlm 8

[15] Jos Luhukay, loc.cit

[16] Bisnis Indonesia, 19 Juni 1998, hlm 7

[17] Kompas, 21 Februari 2003, hlm 10

 

Naskah ini adalah petikan dari sub bab buku Sejarah Komputer di Indonesia

Penulis   : Riri Fitri Sari & Hurri Junisar

Belum diterbitkan

 

 

You may also like...