
Mantan Jaksa Agung, Abdulrahman Saleh, adalah salah seorang pendiri LBH Jakarta. Berikut ini cuplikan kisahnya yang diceritakan pada LKPS:
Tahun 1965, saya masih ingat, tanggal 17 Agustus, CGMI sudah sangat besar. Jika mereka lewat, berteriak-teriak, “Ganyang HMI”. Di kos saya yang berisi anak-anak Pekalongan tak bisa tidur setiap malam. Kami semua berjaga-jaga. Di Yogya, semua mahasiswa grup HMI hanya bisa tiarap saat kelompok PKI sudah amat besar, beda suasana dengan Jakarta. Semua diteror. Komandan Korem saja bisa dibunuh. Pada masa itu saya dengan Chaerul Umam mementaskan drama-drama komedi, mengeritik PKI, soal tuan tanah, soal aksi sepihak PKI, dll. Akibatnya pentas diserbu dan disuruh bubar oleh CGMI dan simpatisan PKI. Hukum tidak ada nilainya.
Saya kemudian ikut mendirikan LBH Jakarta dan aktif sampai menjadi direktur tahun 1981-1984, saya katakan pada sahabat saya, pak Yudo, bahwa kita bagi-bagi kerja. Saya urus LBH dan pak Yudo di politik. Alasannya, saya lihat dia itu memiliki insting politik yang kuat. Dia sudah lama menjadi anggota Partai Perti dan kemudian PPP. Minat politiknya tinggi. Itulah mengapa saya berpikir sayang kalau dia berkiprah di LSM, karena minatnya justru pada politik. Bagi saya, kalau dunia politik dimasuki oleh orang-orang idealis dan berdarah seniman seperti pak Yudo, akan bagus. Apalagi dia idealis sementara banyak politisi menjadi kutu loncat.
Pada mula berdirinya, LBH mendapat bantuan dari Belanda. Akan dibelikan tanah dan yang akan membangunnya adalah pemprov DKI tahun 1970-an. Begitu dapat tanah di Kuningan, muncul berita tentang Gubernur Bang Ali Sadikin mau bangun gedung, “Dari mana duitnya?” tanya orang-orang. Ternyata dari judi yang berpusat di Sarinah. Informasi itu dilaporkan ke Belanda, bahwa sebuah lembaga idealis akan menerima bantuan kok dari cukong judi. Setelah terjadi ribut-ribut, dikembalikan uangnya ke Belanda. Sekarang area plan kantor LBH itu menjadi rumah sakit mata Aini.
Sebagai kompensasi, Bang Ali memerintahkan cari lagi lokasi. Kami lantas mendapat tempat di Jalan Diponegoro. Setelah tawar menawar jadi, bangunan dirombak-rombak seperti sekarang ini. Uang rehabnya diberi oleh Bang Ali Sadikin. Saat kami aktif di LBH, pak Yudo rutin datang paling tidak sebulan sekali untuk diskusi. Pak Yudo meski sering datang, dia tidak secara resmi melibatkan diri dalam LBH. Saya senang kalau teman-teman lama ini pada datang. Tidak semua teman yang aktif di hukum, tetapi seniman-seniman juga berkumpul di LBH. Sampai sekarang kami jaga hubungan baik itu.
Di LBH ada satu prasasti batu yang saya buat, bertuliskan informasi tentang gedung ini didirikan, dst. Saya dan pak Yudo menjadi anggota berlatar belakang Islam. Sewaktu pembukaan pertama kali, LBH menerima sepuluh sarjana hukum.
Di LBH, para tokohnya seperti Adnan Buyung, Tasrief, Yap Thiam Hien, punya latar belakang berbeda. Yang paling banyak berlatar belakang Sosialis, PSI. Kedua, nasionalis. yang ketiga, berlatar Islam, seperti Anwar Haryono dan Jamaludin Datuk Singo Mangkuto. Yang lebih muda ada saya, Assegaf, dan terakhir Todung Mulya Lubis masuk. LBH yang baru berdiri sudah campur aduk isinya, tetapi semua bersatu setelah ada dalam LBH. Adnan Buyunglah yang menyeimbangkan komposisi LBH. Namun amat disayangkan, sejarah LBH kemudian juga memuat sejarah perselisihan di kalangan internalnya.
Yunadi Ramlan & Hurri Junisar @2016
