Yudo Paripurno, Berpolitik Tanpa Gaduh

Judul     : Yudo Paripurno: Berpolitik Tanpa Gaduh

Penulis  : Hurri Junisar & Yunadi Ramlan

Gonjang ganjing politik yang terjadi tahun 1965 membawa perubahan besar dalam dunia politik Indonesia. Yudo Paripurno sebagai anak muda yang sedang menyelesaikan masa studinya larut dalam kondisi tersebut. Banyak hal yang mempengaruhi kehidupannya, studi, pekerjaan dan idealisme. Partai Komunis Indonesia yang sedang berjaya, tiba-tiba menjadi musuh rakyat terutama umat Islam, yang banyak tertekan dengan politik PKI saat itu.

Yudo sebagai seorang mahasiswa Fakultas Hukum yang aktif dalam Himpunan Mahasiswa Islam,  menjadi pengurus Lembaga Bantuan Hukum Diponegoro. Di dalamnya juga berhimpun para aktivis mahasiswa Islam. Pada masa itu kisruh politik membingungkan banyak pihak. Semua bisa saling mencurigai dan saling menyalahkan. Fitnah bisa muncul kapan saja tanpa disadari sebelumnya. Apakah ia memang komunis atau memang muslim sejati yang tak terlibat PKI dan organisasi underbow-nya.

Idealisme dan ilmu yang dipelajari oleh Yudo menjadi obor kehidupannya dalam menjalani situasi saat itu. Ia hanya menjalani tugasnya sebagai advokat dalam Lembaga Bangtuan Hukum tersebut. Ada saja yang datang untuk meminta bantuan di lembaga tersebut. Ada satu hal yang berkesan dari LBH itu adalah saat Joyo Hadiguno sampai perlu meminta keterangan dari Lembaga Diponegoro untuk menyatakan tidak terlibat dalam aksi kaum komunis. Ini karena Joyo dikesankan terkait perkumpulan sarjana yang mendukung PKI. Karena dinyatakan dekat komunis, seorang guru besar seperti Joyo Hadiguno sampai merasa harus memintakan surat ke LBH. Situasi di Kota Yogyakarta pada Oktober 1965 itu memang sedang “panas”. Terbayanglah raut wajah cemas dari Sang Profesor. Namun, bagi Yudo, itulah kesempatan untuk membantu sesama dan menghindari fitnah yang bertebaran tak jelas di masa itu. Di sinilah Yudo mendapat ujian pertama sebagai praktisi hukum.

Buku ini menceritakan bagaimana cara Yudo Paripurno berpolitik. Berpolitik tidaklah harus dengan cara “menyerang” atau “menjatuhkan” pihak lain. Kisah ini disampaikan oleh Kuntowijoyo melalui karya cerpennya yang berjudul “Politik Kakakku Yudo”. Kunto menulis bahwa sejak kecil kakaknya sudah mempunyai darah berpolitik. Sudah ke luar cara-cara politiknya. Yudo tahu apa yang dia mau, tahu cara mendapatkan tidak selalu to the point.

 

You may also like...