
Para aktivis mahasiswa tahun 1977/1978 kemungkinan besar kenal tokoh satu ini, Prof. Dr. (em) Sudjana Sapiie, biasa disapa sebagai Prof. John Sapiie. Dialah ketua Rektorium ITB setelah kampus tersebut diduduki oleh militer pada 9 Februari 1978 selama hampir enam bulan. Dalam sebuah kesempatan bincang-bincang, John menyatakan sikapnya tentang kelas menengah dan spirit tahun 1970-an.
Akhir tahun 1970-an, grup ekonomi pemerintah terutama Emil Salim dan Wijoyo berupaya membendung inflasi lalu menstabilkan ekonomi. Pada masa itu terasa bahwa usaha-usaha ini sudah mulai dilakukan dan spirit pembangunan juga dihembuskan. Memang sejak tahun 1968, ekonomi dan pembangunan sudah menjadi prioritas. Tetapi, tahun 1970-an itu baru betul-betul terasa spirit-nya, bahwa pembangunan “sedang berlangsung” di Indonesia. Betul-betul terasa bahwa, “Oh iya, kita ingin membangun negara. Iya, kita ingin ini.”
Pada saat ini, John menemukan fakta bahwa rasa, spirit itu hilang. Ia tak tahu apa sebabnya, apakah itu karena di masyarakat sudah mulai ada kelas yang mapan, kelas menengah? Ya memang tujuan-tujuan membangun negara itu akan menghasilkan kelas menengah. Entah bagaimanapun model akhirnya, kelas menengah itu merupakan suatu kelas yang boleh dikatakan sebagian besarnya menuju ke kemapanan, dari kelas rendah yang kekurangan. Plus, kelas menengah itu dianggap sebagai suatu keadaan dimana mulailah orang mempunyai suatu tingkat kemakmuran yang lumayan.
Tetapi, setelah kelas menengah itu mulai terbentuk, dia tidak hanya menjadi sesuatu, melainkan juga suatu kelas yang mempunyai mentalitas tersendiri, mentalitas kelas menengah. Mentalitas kelas menengah itu terbentuk dengan segala taste-nya, dengan segala keinginannya, Kelas menengah itu menjadi case sendiri. Yang ada dalam pikiran mereka adalah menyekolahkan anak, punya kehidupan yang baik, bisa makan, bisa punya rumah, bisa punya mobil, dan bisa punya kehidupan yang begini begitu. Itulah kelas menengah.
Di sisi lain, kelas menengah juga mempunyai mentalitas. Salah satu mentalitas dalam kelas menengah adalah konsumsi. Orang-orangnya konsumtif, misalnya, mengadakan kontes miss-miss-an. Kalau dilihat-lihat, apa gunanya? Barangkali juga tidak ada. Tetapi, itulah aksi-aksinya. ekspresi-ekspresi kehidupan kelas menengah kan itu, ada Miss Indonesia, ada kontes Miss-Miss-an yang lain pula.
Kalau melihatnya, mungkin sekarang orang mengatakan, “Sudahlah, jangan miss-miss-an. Itu bukan budaya kita.” Tapi kalau ditanyakan pada John, ia juga bingung.. Kelas menengah itu merupakan suatu hal yang, mau tidak mau, menuju kepada suatu budaya universal dunia. Kalau budaya Indonesia, secara hidup, hampir-hampir sama dengan Negara lain. Apakah kita di Jepang, Filipina, atau di mana pun, kelas menengah seperti begitu. Style-nya sama. Seperti yang dilihat sekarang di Indonesia dan di dunia, begitulah kelas menengah itu.
Tetapi, kalau menghadapi perkembangan kelas menengah, maka kita harus bisa accept. Itu adalah suatu titik dimana orang-orang yang tadinya melarat, yang tadinya ada dalam suatu proses pembangunan negara, naik tingkat menjadi orang atau suatu grup yang mempunyai tingkat kemapanan tertentu. Meski sebagian masih pada ukuran minimal, tetapi sudah mulai cukup merasakan, “Inilah hasil jerih payah saya dan saya sudah mempunyai suatu keinginan-keinginan tertentu”. Sekarang bisa menabung dan bisa menyekolahkan anak.” Akhirnya, cita-cita kehidupan yang biasa, yang dialami, menjadi tujuan umum dari orang-orang, yaitu ingin punya uang cukup, ingin bisa makan cukup, dan ingin bisa happy-happy. Tetapi, jangan harapkan mereka punya jiwa pejuang. Repotnya di bagian itu.
Kadang-kadang John merasa agak heran untuk keadaan sekarang, kenapa semangat tahun 1971 untuk membangun negara sekarang rada hilang. Tahun 1971-an itu betul-betul ada semacam spirit, suatu keinginan untuk “Ayo kita bangun negara bersama-sama dengan suatu dan lain cara, kita sama-sama aktif, kita sama-sama studi, kita sama-sama bikin rencana-rencana pengembangan.” Lalu gayung bersambut, “Ayo deh, kita ikut membangun.”
Pertanyaannya, kenapa sekarang itu tidak ada? John pikir, apakah ini satu hal yang berbeda masa? Ia tegaskan pertanyaan itu kepada kawan-kawannya, “Di mana letak bedanya? Di mana kita kehilangan semangat, spirit untuk pembangunan? Di mana?” Apakah kemudian karena rakyat masuk sebagai “Sudahlah, kita sudah sampai kepada titik negara berkembang.” Jadilah secara otomatis muncul argumen bahwa semangat membangun itu “Sudahlah jangan dibicarakan lagi. Toh semua ada di situ.”
Apakah begitu? John sendiri tidak begitu yakin. Apakah sikap itu sebagai indikasi masyarakat telah masuk ke dalam jiwa kelas menengah? Middle class yang di mana pun indikasinya sama, ingin hidup enak, ingin hidup menyenangkan, dan ingin senang sendiri. Jadi begitu, midle class merupakan orang-orang yang bukan ada semangat untuk berjuang. Middle class adalah kelas yang mapan, ingin hidup dengan mapan, ingin hidup dengan tenang. Apa yang mereka inginkan dalam batas hal-hal yang biasa. Mereka ingin hidup baik, ingin punya sekolah baik, atau ingin makan dengan baik, seperti masyarakat kota yang ada saat ini di Jakarta dan Bandung.
Tetapi, jangan harapkan mereka bergerak atau memikirkan pembangunan dan sebagainya. Soul kelas menengah tidak ada di situ. Mereka lebih mementingkan kepentingan-kepentingan mereka sendiri sebagai grup. Seperti, “Saya mau adanya shopping center yang baik, adanya jumlah mobil yang baik, dan saya bisa punya ini-itu.” Pokoknya seperti kehidupan-kehidupan yang bisa dilihat di Jakarta sekarang. Berkembang hanya untuk itu. Itulah jiwa kelas menengah.
Apakah timbulnya kelas menengah itu memang sebagai sebuah tujuan daripada suatu pembangunan? Itu menjadi pertanyaann yang sering ditanyakan oleh John. Kita kehilangan yang namanya spirit berjuang. Bukan benar-benar hilang, tetapi tidak cukup sampai ke permukaan dan tidak memperlihatkan kejiwaan masyarakat yang betul-betul terlibat dalam rasa tentang “Inilah yang kita perjuangkan.”
Jadilah dalam bidang kecil seperti pendidikan, bila dibandingkan dengan tahun 1971-an, kondisinya amat jauh. Pada tahun itu, di ITB, antar kalangan dosen mempunyai suatu semangat “Ayo deh kita membangun, ayo deh kita bikin seminar tentang ini, ayo deh, kita berbuat sesuatu.” Semangat setiap individu untuk membuat perubahan selalu membara.
Hurri Junisar @2011
