Hariman dan Malari Yang Tak Terduga

Peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari atau lebih dikenal dengan singkatan Malari, adalah peristiwa demonstrasi mahasiswa yang kemudian memicu kerusuhan sosial yang terjadi pada 15 Januari 1974. Peristiwa itu terjadi saat Perdana Menteri (PM) Jepang Kakuei Tanaka, sedang berkunjung ke Jakarta (tanggal 14 sampai dengan  17 Januari 1974). Mahasiswa merencanakan menyambut kedatangan Tanaka  dengan berdemonstrasi di Pangkalan Udara Halim Perdanakusumah. Tetapi karena dijaga ketat, rombongan mahasiswa tidak berhasil menerobos masuk ke Lanud Halim Perdanakusumah.  Pada  17 Januari 1974 pukul 08.00, PM Jepang itu berangkat meninggalkan Indonesia dari Istana dengan diantar Presiden Soeharto memakai  helikopter dari Bina Graha ke pangkalan udara Halim Perdanakusuma.

Berbicara Malari, menurut Hariman, sebenarnya merupakan suatu peristiwa yang tiada orang dapat menduganya. Hariman sendiri tidak menduga, bahwa pada hari tersebut dapat  terjadi huru-hara dan kebakaran yang dahsyat. Dalam konteks Malari, dalam pandangan Hariman, harus dibedakan apa yang terjadi pra Malari, yaitu sejak Hariman terpilih sebagai Ketua Dewan Mahasiswa pada Agustus 1973, sampai demonstrasi mahasiswa tanggal 15 Januari. Hal kedua adalah peristiwa Malarinya, yakni huru-hara yang terjadi siang hari tanggal 15 Januari sampai malam hari tanggal 16 Januari 1974. Ringkasnya, pra Malari hingga pecah Malari, eskalasi yang terjadi hanya pada rentang waktu empat bulan saja, September-Oktober-November-Desember 1973. Dalam rentang waktu 4,5 bulan itu, ketika Hariman menjabat sebagai ketua Dewan Mahasiswa UI,  begitu banyak momen yang terjadi.

Belajar dari peristiwa itu, Hariman mengingatkan di Indonesia, bahwa ada fenomena politik yang harus diperhatikan. Jika ada suatu peristiwa yang berkesinambungan lebih dari enam bulan, ini bisa menjadi pemula pecahnya sebuah peristiwa besar. Kalau menyimak guntingan Pers mulai  Agustus 1973, maka sejak Hariman terpilih sebagai ketua Dewan Mahasiswa,  isu yang berkembang di media massa  adalah strategi pembangunan. Isu itu bergema terus-menerus. Mahasiswa tidak lagi membicarakan ideologi. Prinsipnya, mahasiswa hanya berkonsentrasi pada pembangunan.

Mahasiswa memandang, pembangunan Indonesia hanya mengandalkan  pertumbuhan semata-mata dan  tidak menghasilkan apa-apa untuk rakyat. Apalagi   diliputi  korupsi yang menurut Bung Hatta pada saat itu sudah mencapai 30% dari total pengeluaran. Mahasiswa tidak mempercayai pertumbuhan ekonomi yang dipuja-puja rezim sebagai modal untuk nanti dibagi kepada rakyat. Kue harus diperbesar baru bisa dibagi. Menurut  Hariman, mahasiswa memiliki contoh lain kala itu. Pakistan, misalnya,  perekonomiannya tumbuh 8%. Tetapi, negara  itu justru terpecah, hingga hadir  negara baru bernama Bangladesh. Hal ini menunjukkan, bahwa  keadilan sosial juga  menjadi bagian penting.

Dalam kaitan pra Malari, Hariman mengungkapkan, sebenarnya para mahasiswa hendak menyampaikan Petisi pada 28 Oktober 1973 (dikaitkan dengan Sumpah Pemuda). Namun, karena tanggal tersebut bertepatan dengan Idul Fitri, dimajukan menjadi 24 Oktober. Dalam petisinya, para mahasiswa Indonesia meminta strategi pembangunan diubah. Mahasiswa minta agar strategi pembangunan lebih ditujukan untuk menghapus kemiskinan dan menghilangkan jurang kaya miskin, selain masalah hukum dan pendidikan.

Mahasiswa tidak hanya mendiskusikan isu-isu itu di kampus. Mereka juga berdemonstrasi dengan  mendatangi Jl. Cendana, area kediaman Soeharto. Mahasiswa pun mendatangi Bina Graha. Hasilnya,  pada  11 Januari 1974, Dewan Mahasiswa UI diterima Presiden Suharto. Hariman dengan sejumlah perwakilan sekitar 34 Dewan Mahasiswa, diterima oleh Suharto di Bina Graha. Saat itu, Suharto berjanji akan memperhatikan tuntutan mahasiswa. Soeharto juga melihat, bahwa dukungan masyarakat pada mahasiswa besar sekali.  Di sisi lain, Pangkopkamtib Jenderal Sumitro menyatakan bahwa harus ada kepemimpinan baru, kepemimpinan yang dua arah, kepemimpinan yang  menjadi milik seluruh publik. Ini menimbulkan spekulasi seakan-akan Sumitro menunggangi gerakan mahasiswa untuk mengganti kepemimpinan nasional.

Kedatangan PM Jepang, Tanaka, oleh mahasiswa dijadikan momen untuk menyampaikan protes. Hariman mengatakan, Malari muncul tiba-tiba, ketika protes mahasiswa di satu sisi, kemudian di tempat lain ditumpangi  aksi  pembakaran. Menurut Hariman, hal itu merupakan peristiwa yang terjadi spontan, tidak ada perencanaan atau by design.

Oleh karena itu, ketika pentolan mahasiswa seperti Hariman dan Syahrir diciduk oleh pihak keamanan dan diperkarakan di pengadilan,  mahasiswa bergerak mencari pembelaan. Mahasiswa benar, di pengadilan tidak terbukti bahwa mereka yang harus bertanggung jawab atas kerusuhan itu. Tetapi, Hariman dan aktivis lainnya tetap dipenjarakan dengan tuduhan  merongrong pemerintah. Mereka dianggap melawan Undang-Undang Subversi Penpres 11, yakni  melawan ideologi negara. Mahasiswa dicap sebagai pelaku subversi.

Menurut Hariman, hal ini  merupakan trik penguasa, karena mahasiswa dapat  membuktikan bahwa  pembakaran terjadi setelah rombongan tersebut melewati  lokasi kejadian. Rombongan mahasiswa berangkat dari UI tanggal 15 Januari sekitar pukul 08.00 pagi dan sampai Universitas Trisakti kira-kira pukul 11.00. Ketika rombongan  mahasiswa  tiba di Universitas Trisakti, saat itulah aksi pembakaran  mulai terjadi. Ketika pembakaran dimulai, pelajar ikut turun ke jalan, mulai pukul 11.00 itu. Hingga pukul 14.00  masih terjadi pembakaran di sekitar istana. Tapi,  istana dijaga ketat.

Mahasiswa dan pelajar mengatakan, mereka mau menyampaikan sikap menentang PM Tanaka. Aksi  menentang Tanaka itu bukan hanya di Indonesia khususnya UI, tetapi merupakan protes mahasiswa di seluruh South East Asia, Malaysia, Thailand dan Filipina. Mereka ingin  menunjukkan kepada Jepang, bahwa modal dari negara matahari terbit yang masuk Asia Tenggara itu malah mematikan pemodal-pemodal kecil. Menurut Hariman, rombongan Dewan mahasiswa UI hanya solidaritas semata. Tetapi, demonstrasi mahasiswa di Jakarta pada tanggal 15 Januari itu justru dipakai oleh kelompok Ali Murtopo untuk mendiskreditkan demonstrasi mahasiswa sebagai pangkal huru hara. Di pengadilan Aini Chalid, hal ini dinyatakan secara terang-terangan. Dengan adanya huru-hara dan pembakaran, menjadi alasan untuk menangkap mahasiswa.

Sebenarnya, jauh hari mahasiswa juga telah pasang badan untuk ditangkap. Tetapi, rupanya  aparat  tidak mau berkonfrontasi. Aparat menunggu, sampai mahasiswa membuat kesalahan yang bisa dibenarkan oleh publik. Sampai peristiwa Malari terjadi, Hariman tetap dianggap sebagai pahlawan. Jadi,  kalau Hariman ditangkap tanpa ada huru-hara, ia  bisa menjelma menjadi ”Nelson Mandela”.

Sebelum Malari pecah, aparat sebenarnya telah mengincar mahasiswa. Tetapi, tidak ada pemicu untuk menangkap mahasiswa. Sewaktu mahasiswa menggelar diskusi keliling, tampak ada upaya aparat mengkondisikan, supaya terlihat ke permukaan, bahwa mahasiswa anti UUD 45. Tetapi tidak berhasil sampai terjadinya huru hara, yang menjadi alasan resmi untuk menjerat mahasiswa.

Meski demikian, ternyata isu-isu yang digulirkan mahasiswa diperhatikan  oleh Soeharto. Pemerintah, misalnya, mengapresiasi tuntutan pola hidup sederhana, membangun sekolah dengan dukungan  Inpres, dan  beberapa hal lainnya. Melihat kenyataan seperti ini, Hariman menyimpulkan, bahwa  kaum muda (mahasiswa) yang dapat  melakukan perubahan dan perlawanan. Hal itu karena mereka anti kemapanan (status quo).

Menurut Hariman, mahasiswa tidak bisa berharap banyak pada institusi publik, termasuk partai politik. Parpol yang mestinya menjadi oposan, kenyataannya malah  menerima azas tunggal. Sikap partai politik seperti itu, pada akhirnya berpuncak pada terjadinya krisis ekonomi moneter.

 

Diambil dari buku Hariman Siregar: Sukarno, Soeharto, Sampai Dengan SBY
Hurri Junisar@2006

 

 

You may also like...