Metamorfosa: Catatan Seorang Pejuang Lupus 

Buku Metamorfosa 1 : Catatan Seorang Pejuang Lupus 

Pikiranku melayang mengingat-ingat apakah ada terlewat oleh diriku? Apa yang belakangan terjadi dengan tubuhku? Selama beberapa bulan menjalani proses diagnosa, aku memang mempunyai kesulitan tidur. Obat pelelap dan vitamin tidur menjadi langgananku. Sebelum didiagnosa, aku memang pernah juga terkena panic attack, tiba-tiba ada rasa mencekam dan tercekik di kala dalam keramaian, naik pesawat atau di kala lampu mati. What? Lampu mati? Ya, aku seakan tidak bisa bernafas saat kondisi sekeliling tiba-tiba menjadi serba gelap.
Rasanya, saat itu ketakutan merupakan sesuatu yang wajar saja dan tak ada hubungannya dengan sakit tertentu. Namun, setelah kupelajari, inilah trigger atau asal mula bangkitnya penyakit autoimunku, yaitu masalah psikosomatis. Rasa cemas yang bertumpuk karena rutinitas tanpa jeda ditambah pula kemacetan jalanan. Mungkin itulah yang kulupakan, balancing atau keseimbangan. Mungkin karena sifatku yang perfeksionis dan terlalu keras pada diri sendiri, Tuhan memberikan jeda dengan penyakit ini.

 

Buku Metamorfosa 2 : Aku Yang Baru dan Kisah Para Sahabat Autoimun

A new me ini sedang memulai kisah perjalanannya. Apa contohnya? Sebelumnya, aku mungkin orang yang paling mudah untuk membuang-buang waktu. Wasting time, sering melewatkan setiap menit demi menit beranjak pergi tanpa arti. Berbeda dengan saat ini, telah menjadi sosok yang benar-benar menghargainya. Sebelumnya, di benak ini telah tertanam bahwa lupus adalah akhir waktuku. Ternyata itu semua tidak terjadi. Darinya, aku lebih bisa memahami sisi moral dan spiritual dalam kehidupan. Produktivitasku, bukan dalam perkara materi dan kebendaan, semakin meningkat. Dulu, dari sebuah hal sederhana ketika ada pertanyaan, “Punya hobi apa?” aku tidak serta merta langsung mampu untuk menjawabnya. Bahkan, untuk berpikir, “Apa sajakah kesukaanku?” Tidak ada kata yang bisa segera meresponnya.

Kedua buku karya Tanti Damayanti ini mengisahkan perjalanannya sebagai seorang penyintas autoimun. Dari seorang yang menggugat kehadiran lupus, Tanti mengubah dirinya menjadi seorang inspirator bagi para pejuang autoimun. Dari buku ini banyak hikmah yang bisa dipetik, salah satunya adalah suatu nilai bersyukur yang sangat berharga ketika seseorang diberi anugerah sehat di dalam menjalani kehidupannya. Sebagai orang yang kemudian digelari “Bunda Autoimun”, Tanti memberi nilai dalam perjuangan para sahabatnya untuk menjalani bentuk kasih sayang dari Sang Maha Pencipta.

 

 

You may also like...