Nyoman Nuarta

 

Kawasan wisata serta ibadah Tanah Lot dan Pura Ulun Danu Bratan mengantar Nyoman Nuarta menyelesaikan pendidikan SMA di Tabanan tahun 1972. Pasca lulus, Nuarta hanya punya satu keinginan, yaitu masuk ke fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Remaja itu pun nekad meluncur ke Bandung seorang diri, menaiki bus, tak tahu seluk beluk kota, dan tak kenal siapapun saat turun dari bus. Jadilah ia sempat celingukan di Terminal Kebon Kalapa.

Dalam kondisi tak tahu arah dan tujuan, Nuarta berhasil menemukan kampus ITB yang berada enam kilometer di arah utara terminal. Tekad ingin berkuliah di FSRD telah bulat. Begitu sampai di kampus tujuan, ternyata pendaftaran sudah ditutup. Ia bingung hendak ke mana mengarahkan langkah kaki. Setelah beberapa saat, Nuarta memberanikan diri meminta izin menginap di Asrama mahasiswa asal Bali. Selanjutnya ia menumpang tidur di kos-kosan sempit. Karena tiada rencana lain dari kehadirannya di Bandung, Nuarta kembali ke Tabanan. Ia bertekad mendaftar kembali di tahun berikutnya.

Ketika jadwal pendaftaran dan seleksi mahasiswa baru dibuka kembali tahun 1973, Nuarta meluncur kembali ke Bandung. Ia beruntung bisa ikut tes dan lolos sebagai mahasiswa baru jurusan seni lukis FSRD ITB. Di pertengahan kuliah, Nuarta merasa tak bisa memaksimalkan bakat melukisnya. Ia pun pindah ke jurusan seni patung, di tengah sikap para dosen yang berbeda antara menegur dan mendukungnya.

Kemampuan Nuarta melukis didapatkan dari guru menggambarnya saat sekolah di Tabanan, I Ketut Dharma Susila. Di masa kecil, ia seringkali bermain ngaben-ngabenan bersama para sahabatnya. Ia mensimulasikan upacara kremasi jenazah dengan membuat bade (usungan jenazah yang bertingkat-tingkat). Permainan ini rupanya menjadi bekal keterampilann dalam menggeluti dunia seni patung. Hal yang paling penting dari laku masa kecilnya adalah kemampuan Nuarta menyinergikan artistik dengan jiwa kewirausahaan, yang diwariskan dari kedua orangtuanya.  Nuarta selalu ingat masa-masa perjuangan sejak lahir dari pasangan I Ketut Wijana dan Ni Nyoman Semuda, sebuah keluarga pedagang di Tabanan. Sedangkan pamannya, Sugiartha, yang mengurus Nuarta sejak bayi hingga SD, adalah seorang petani.

Jejak Besar di jalur Patung

Pilihan untuk pindah ke jurusan seni patung merupakan keputusan tepat bagi karakter Nuarta. Ia mampu memadukan antara bakat alam, formalisme akademis, serta daya jelajah ilmunya yang melintas-bidang. Karya-karyanya lantas hadir bukan hanya sebagai keindahan, tetapi memiliki nilai tambah sebagai daya tarik sebuah kawasan. Kelak Nuarta memberi sumbangan besar pada perkembangan dunia kesenian dan kebudayaan di nusantara.

Kehadiran sebuah patung di ruang publik, tidak bisa dilepaskan dari penataan menajemen yang mumpuni. Selain itu, pembuatan sebuah patung dengan skala besar membutuhkan pendekatan multidimensi. Selain ide dari senimannya, juga butuh keterampilan dari ahli konstruksi, perancang lansekap, dan para tukang las berkemampuan khusus. Inilah identitas dari rangkaian patung-patung karya Nyoman Nuarta yang telah dikerjakan dan ditempatkan di berbagai ruang kota-kota penting di Tanah Air.

Publik mulai mengenal nama Nyoman Nuarta sebagai aktor seni patung nusantara sejak ia ia bergabung dalam Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) tahun 1976 di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Sosok Nuarta melejit dua tahun kemudian saat memenangkan sayembara patung proklamator yang diselenggarakan oleh Pemerintah RI. Mahasiswa tingkat lima ini memenangkan kompetisi yang super kompetitif, karena diikuti pula oleh para perupa ternama termasuk para dosennya di ITB. Patung “Proklamator” (1979) karya Nuarta berdiri tegak hingga kini di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat.

Sebagaimana seniman pada umumnya, Nuarta memulai perjalanan dengan tak mudah. Setelah mempersunting mojang Priangan, Cynthia Laksmi Adiwinata, hidupnya seperti tak berketentuan. Pada akhir tahun 1970  sampai awal tahun 1980-an, pasangan ini tinggal di rumah kontrakan yang sempit dan terjepit. Dari kesederhanaan ini, Nuarta menumbuhkan kerajinan dalam menjalin relasi dengan orang lain. Mereka pun dikaruniai dua keturunan, Putu Tania Madiadipoera dan Made Tasya Nuarta.

Dalam skala tertentu, Nuarta mentransformasi nilai-nilai yang melekat pada sebuah patung di masa lalu. Pada era lampau, pengertian patung disamakan dengan arca, yang di dalamnya mengandung nilai-nilai sakralitas. Karena itu, patung menjadi simbol suatu pemujaan. Dalam kasus patung-patung Nuarta, ia tidak mengambil nilai sakralitas sebagai sebuah acuan, tetapi memasukkan nilai-nilai yang paralel, di mana patung menjadi ikon sebuah pengembangan wilayah.

Karya-karya lain yang bisa menjadi acuan bagaimana Nuarta memadukan berbagai keahlian dalam sebuah karya, bisa dilihat pada Monumen Jalesveva Jayamahe (Surabaya), patung Arjuna Wijaya (Jakarta), serta beberapa patung lain di kawasan perumahan. Karya-karya Nuarta tersebar dari dalam negeri sampai luar negeri, dan hampir selalu menjadi kiblat dari satu kawasan pertamanan. Karyanya yang lain berupa NuArt Sculpture Park Bandung, yang di dalam kawasannya terdapat sebaran patung, museum, galeri, arena pementasan, ruang diskusi, restoran dan kafe.

Patung-patungnya dikenal sangat ikonik dan memiliki daya pikat yang luar biasa indahnya. Sebut saja seri karya tentang Borobudur dan Bersepeda (Rush Hour). Seri karya ini seolah menandai kemampuan olah bahan dan ide yang genial. Atas karya-karyanya, Nuarta mendapat anugerah Satya Lencana Kebudayaan dari Pemerintah RI tahun 2014. Ia berhasil menjinakkan bahan seperti logam yang kaku dan keras, menjadi patung yang memberi kesan lembut dan plastis. Dengan pendekatan volume yang ringan, antara lain dengan rongga-rongga di dalamnya, patung-patung Nuarta selalu seperti bergerak. Ia bukan “makhluk” yang teronggok diam, tetapi seseorang atau sesuatu yang hidup dan terus-menerus bertumbuh.

Tentang karya-karyanya yang dinamis, plastis, dan ekspresif ini, boleh jadi pengembangan lebih jauh dari apa yang dicapai maestro pematung Bali I Nyoman Tjokot (1886-1971). Meski tak berguru secara langsung, dalam beberapa hal Nuarta memiliki kedekatan yang amat intim dengan Tjokot. Pematung kelahiran Banjar Jati, Desa Sebatu, Gianyar itu, menjadi pematung yang tumbuh alami. Tjokot mendedikasikan karya-karyanya kepada alam dengan cara menghargai kehadiran material patungnya. Setiap hari ia berjalan di sepanjang sungai dekat rumahnya laksana pejalan yang ingin menemukan “pencerahan”.

Di sungai kemudian ia menemukan kayu dan akar-akar dari pohon yang mati karena tumbang. Dari situlah karya-karya Tjokot lahir. Ia mengikuti kontur material dan kemudian memahatnya untuk menghasilkan figur-figur yang hidup, ekspresif, bergerak dinamis, dan deformatif. Tak jarang ia menggunakan kayu-kayu yang telah lapuk dengan tekstur yang terlihat hampir rusak dan kasar. Setelah Tjokot konsisten berkarya sejak awal tahun 1920-an, lahirlah apa yang disebut sebagai “tjokotisme”, yang kini berpengaruh besar dalam dunia perpatungan di Tanah Air.

Nyoman Nuarta lahir di zaman berbeda dengan pendekatan terhadap bahan yang berbeda pula. Maestro yang membuat patung “Gerbang Garuda” di jalur masuk Bandara Soekarno-Hatta Tangerang, Banten ini, memiliki kecenderungan yang berbeda dibanding karya-karya perupa akademis masa tahun 1980-an di Tanah Air. Ketika teknik mematung formalistik seperti mengecor menggejala dengan pendekatan romantisme, Nuarta justru kembali ke era realistik-ekspresif dengan mendeformasi bentuk.

Figur-figur di dalam karya-karyanya adalah figur-figur yang telah “dirusak” justru dengan tujuan menghidupkannya. Itulah mengapa karya seperti “Borobudur” tampak bercerita: ia seperti menyimpan narasi panjang tentang pembangunannya di masa Dinasti Syailendra pada abad ke-8 Masehi. Mata seakan diajak menengok bagaimana monumen semegah itu bisa dibangun di masa lalu serta ajaran-ajaran yang terkandung di dalamnya lewat berbagai relief di seputar candi.

Begitu pun dengan seri karya “Rush Hour”. mata seolah sedang menonton seorang pengendara sepeda bergerak dengan meninggalkan lesatan-lesatan di belakangnya. Di situ ada waktu yang bergerak dinamis serta kisah penggejotan sepeda oleh seseorang dengan tenaganya yang penuh. Hebatnya lagi, karya-karya ini dibangun dari logam yang keras dan kaku dengan teknik pengelasan. Teknik pengelasan, sebelum Nuarta berkarya, dianggap bukan menjadi bagian dari cara kerja seorang pematung. Teknik ini milik tukang las yang biasanya membuat rolling door, teralis jendela, dan  pagar halaman. Namun, Nuarta menunjukkan kepada dunia bahwa teknik ini bisa menjadi modal kerja yang mumpuni untuk mewujudkan karya seni. Dengan teknik ini pula, ia bahkan amat leluasa menempelkan ornamen-ornamen logam untuk menciptakan imaji tentang waktu yang bergerak.

Karyanya yang lain berjudul “Gejolak Jiwa” (1994), dengan ukuran 200 X 80 X 350, cukup besar untuk ukuran patung logam. Kisah dua kuda dalam patung ini tak hanya simbolik, tetapi memberi kesan atas logam-logam yang disusun vertikal, di mana pada puncaknya ada dua ekor kuda sedang meringkik, seperti “kayu” usang. Ingat pula apa yang dikerjakan Tjokot di masa lalu. Jika Tjokot menggunakan kayu, kini Nuarta mengolah logam. Tetapi, keduanya menuju arah yang serupa, menghargai material sebagai sesuatu yang hidup dan memberi jiwa pada karya-karya mereka.

Selain pencapaian itu, Nuarta berhasil keluar dari jerat formalisme seni yang menggejala di Indonesia tahun 1970-an. Ia justru kembali menekuni realisme dengan sentuhan baru. Karya-karyanya sebagian besar merunut jalan realis, tetapi ia mengerahkan seluruh daya estetiknya untuk menaklukkan bahan logam guna menghasilkan karya yang tampil beda, dinamis, dan memberi nuansa baru di mana pun ia diletakkan.

Perjalanan yang panjang dibarengi kerja keras tiada henti, telah mengantarkannya menjadi pembaharu dalam cara kerja seorang seniman patung, sekaligus mengantarkan patung sebagai kiblat yang ikonik di ruang publik. Sebagai seniman ia tidak hadir seorang diri. Pada setiap karyanya selalu terdapat tim ahli yang memperhitungkan keberadaan patung sebagai karya seni dan patung sebagai ikon sebuah kawasan. Oleh sebab itulah karya-karyanya selalu mensinergikan antara seni, sains, dan teknologi, tiga bidang yang belakangan mulai tersegmentasi akibat kepentingan parsial masing-masing penekunnya. Nyoman Nuarta hadir dan kemudian kembali memadukan ketiganya, sebagaimana dulu pernah terjadi pada abad pertengahan dengan seniman-seniman hebat seperti Leonardo da Vinci.

Garuda Wishnu Kencana

Ada ratusan karyawan yang kini bekerja di NuArt Sculpture Park dan Studio Nyoman Nuarta. Mereka selalu diperlakukan sebagai bagian dari keluarga. Tak segan-segan pergaulan dijalin dengan rasa persaudaraan, baik pada saat-saat bekerja di studio, maupun mendengarkan cerita suka dan duka dari mereka. Modal itu pula yang dibawa oleh Nuarta ketika merancang dan kemudian mendirikan Garuda Wishnu Kencana di Bukit Ungasan, Jimbaran, Bali. Laku spiritual berupa tirtha yatra, atau perjalanan bersembahyang ke tempat-tempat suci di seputar Bali, dilakukan sebagai doa agar pembangunan mahakarya GWK diberkati.

Pasangan Nuarta dan Laksmi juga meminta restu kepada warga sekitar Bukit Ungasan dengan mendatangi mereka. Lebih jauh, keduanya mempriotaskan warga sekitar menjadi karyawan di GWK pada masa-masa awal pembangunan monumen ini. Karyanya ini sedang memasuki masa penyelesaian. Nuarta meletakkan GWK sebagai landmark dari seluruh kawasan cultural park Jimbaran yang memiliki luas 60,7 hektar itu. Dulu kawasan ini dirancang seluas 200 hektar di atas lahan bukit kapur sisa penambangan rakyat. Dalam cita-cita Nuarta, bukan tidak mungkin GWK menjadi landmark pengembangan industri pariwisata Indonesia.

Sejak mulai digagas, Garuda Wisnu Kencana (GWK) dirancang sebagai taman kebudayaan dengan sosok patung Garuda Wisnu sebagai titik sentral kawasan. Taman kebudayaan ini akan merangkum dan merepresentasikan kebudayaan Nusantara di mata dunia. Ia memiliki beberapa kepentingan yang amat mendasar. Pertama, menyampaikan kepada dunia bahwa GWK menjadi pencapaian peradaban dari Timur yang selama ini selalu diberi label eksotis oleh kalangan orientalis. Pandangan ini dengan kata lain mengecap Timur selalu lebih primitif dari Barat. Kedua, GWK menjadi landmark baru bagi dunia modern di Nusantara, yang selama ini cuma dianggap bisa mewarisi karya-karya agung dari para leluhur. Ketiga, GWK secara sadar diciptakan sebagai magnet bagi pengembangan dunia industri pariwisata di tanah air, khususnya Bali.

Sebagai taman kebudayaan, di kawasan ini akan terjadi saling silang kebudayaan yang akan menciptakan satu dialog kondusif untuk memoderasi rasa saling memahami antar bangsa-bangsa di dunia. Oleh sebab itu diharapkan GWK akan mewujud menjadi wahana pertemuan antarbangsa dengan menjadikan kebudayaan sebagai bahasa pengantar.

Tidak berlebihan jika GWK disebut sebagai mahakarya Nuarta, yang pembangunannya selesai pada bulan Agustus 2018. Sejak awal, Nuarta ingin memberi kontribusi pada dunia kebudayaan Indonesia. Ia nyaris frustrasi melihat kondisi Tanah Air yang selalu bergejolak gara-gara permainan politik identitas dan tindakan korupsi yang seolah tiada henti. Menurut Nuarta, jika dunia politik dan ekonomi Indonesia tidak bisa diharapkan memberi kontribusi pada peradaban dunia, maka jalan di dunia kebudayaan begitu terbuka. Ia ingin GWK tak sekadar ikonik, tetapi menjadi wahana wolrd cultural forum, di mana negara-negara yang berkebudayaan saling berinteraksi. Terbukti meski GWK dulu jauh dari penyelesaian, sudah ada 10 kepala Negara yang telah berkunjung dan lebih dari 3.000 turis yang datang setiap hari.

Selain sebagai mahakarya, Nuarta juga ingin mewujudkan GWK sebagai: swadharma ning Pertiwi, semacam kewajiban mempersembahkan yang terbaik kepada Bali sebagai tanah kelahirannya. Selama ini, ia mendapatkan begitu banyak bakat secara genetik dan keterampilan sebagai manusia Bali. Apa yang didapatkan dari tanah rantau sudah saatnya dipersembahkan kepada tanah kelahirannya kembali. Hal itu merupakan wujud rasa terima kasih kepada Pertiwi, yang telah memberi anugerah bakat dan keterampilan.

Dalam dunia perpatungan, GWK menggunakan teknologi pembesaran yang presisif dengan membuat penampang-penampang irisan secara tepat. Oleh sebab itu, kebutuhan terhadap bahan dan anggaran bisa diperhitungkan secara cermat. Dengan menggunakan teknik pembesaran seperti ini, seorang pematung akan dapat membangun patung sebesar apa pun. Cara ini sudah dipatenkan oleh Nuarta. Sebagai perbandingan, patung Liberty di New York yang memiliki ketinggian 93 meter dibangun selama enam tahun menggunakan lempeng tembaga dengan teknik ripet. Sedangkan Monumen Jalesveva Jayamahe, karya Nyoman Nuarta di pangkalan Angkatan Laut Surabaya setinggi 60 meter, dibangun selama satu tahun saja.

Sesungguhnya jika tidak ada hambatan soal pendanaan, maka GWK bisa dibangun kurang dari enam tahun. Tetapi, sampai tahun 2018, patung ini sudah memasuki tahun ke-28. Tidak bisa secara paralel dibandingkan dengan Liberty yang dibangun terus-menerus selama enam tahun, GWK memiliki masa jeda yang cukup panjang selama 16 tahun. Pasalnya, Nuarta sebagai pematung dan pemilik GWK menemui kesulitan dana. Tetapi ia bergeming, bahwa GWK harus tetap terwujud sebagai sumbangannya kepada nusantara.

Sebagai bahan kajian GWK dikonstruksi dari 754 modul (keping) dengan berat total mencapai 3.000 ton. Patung ini juga dirancang setara 25 lantai dan tahan gempa dengan kekuatan 6-7 skala Richter. Bahkan, Nyoman Nuarta dan tim ahlinya, telah menguji patung GWK yang menjulang 276 meter di atas permukaan laut (dpl), tahan terhadap kecepatan angin yang mencapai 200 km/jam/m2. Bukti-bukti ini telah menunjukkan betapa GWK dibangun dengan perhitungan yang mendasar, yang melibatkan berbagai ahli.

Kini Nuarta lebih realistis. Ia tak ingin gara-gara hambatan dana, cita-cita besarnya membangun kiblat baru kebudayaan dunia terhenti. Oleh sebab itu, Nuarta telah mencoba menyerahkan GWK kepada Pemerintah RI, melalui pertemuannya dengan beberapa presiden. Ia juga bertemu Gubernur Bali dan para anggota DPRD Bali agar GWK menjadi milik pemerintah setempat. Namun, keinginan itu tidak terealisasi dengan baik. GWK tetap tidak bisa dilanjutkan.

Pada solusi akhir, Nuarta bertemu dengan The Ning King, pendiri PT. Alam Sutera Realty yang lahir di Bandung. Ia mencoba menawarkan GWK kepadanya. Rupanya gayung pun bersambut. The Ning King sanggup membeli GWK dengan harga “persahabatan”. Nyoman Nuarta memberi syarat, jika The ingin memiliki GWK dan kawasannya, maka ia harus berjanji menuntaskan pembangunannya. Di situlah terjadi “jual-beli” ide. Nuarta membutuhkan sejumlah dana untuk meneruskan ide besarnya menyelesaikan pembangunan GWK. Kini, ia hanya bertugas sebagai seniman yang punya kewajiban menyelesaikan GWK tepat waktu.

Seharusnya sudah tak ada lagi perkara biaya, yang selama ini menjadi penghambat penyelesaian GWK. Setelah 28 tahun dirancang dan dibangun, mahakarya ini semoga berhasil berdiri megah di perbukitan kapur bagian selatan Pulau Dewata. Nyoman Nuarta pun menyadari kehilangan kepemilikan terhadap karyanya sendiri. Suatu pilihan berat, namun dengan lapang hati ia melepas GWK sebagai persembahan sebuah mahakarya untuk bangsa. Nuarta merasa itulah cara terbaik untuk mewujudkan impian banyak orang tentang sebuah patung fenemonal, yang mewakili pencapaian peradaban pada abad modern ini.

Ia yakin pula keputusan ini akan didukung oleh seluruh rakyat Bali, yang sudah lama menunggu GWK. Nuarta tidak ingin mengecewakan mereka. Impian untuk memiliki “kiblat” baru dalam memasuki abad modern akhirnya terwujudkan. Bali dan Indonesia, tidak lagi cuma mengandalkan warisan leluhur yang telah berusia berabad-abad, tetapi kini memiliki kebanggaan baru bernama Garuda Wisnu Kencana, yang gagah menjulang melebihi karya-karya besar lainnya di dunia.

GWK memiliki berat total mencapai 3000 ton. Prestasi ini boleh jadi prestasi yang membanggakan dan oleh karena itu patut diapresiasi oleh publik. Dalam rancangannya, GWK akan memiliki ketinggian 121 m dari permukaan tanah dan menjulang 271 m di atas permukaan laut. Patung megah ini dapat dinaiki oleh para pengunjung kawasan hingga ketinggian dada Wisnu. Secara keseluruhan, patung yang dikonstruksi dengan struktur baja serta tembaga ini memiliki dua puluh lima lantai yang dapat diakses oleh publik.

Penghargaan

Atas pencapaian karya-karyanya, Institut Teknologi Bandung memberinya penghargaan Ganesha Widya Jasa Adiutama di tahun 2009. Nuarta dianggap berhasil mengangkat citra kampus itu pada jajaran tertinggi dalam pencapaian bidang seni, sains, dan teknologi. Pada tahun 2017, Nuarta juga diberi anugerah sebagai 72 Ikon Berprestasi oleh Pemerintah RI.

Nuarta juga menerima penghargaan Padma Award 2018 Kategori Padma Shri dari Presiden India Shri Ram Nath Kovind. Ia dinilai berhak menerima penghargaan tersebut karena telah mewujudkan karya-karya yang bernilai seni tinggi dan menakjubkan, serta mendapat pujian dari para pelaku seni mancanegara. Karya Garuda Wishnu Kencana diakui oleh Presiden Kovind sebagai tanda bakti Nuarta terhadap Dewa Wishnu. Upacara penyerahan penghargaan berlangung di Istana Kepresidenan India, Rashtrapati Bhavan di New Delhi. Wakil Presiden India, M Venkaiah Naidu, dan Perdana Menteri India, Narendra Modi, turut hadir dalam acara yang digelar pada 2 April 2018 tersebut.

Padma Award merupakan salah satu penghargaan sipil tertinggi India yang diumumkan setiap tahun pada perayaan Republic Day. Penghargaan diberikan dalam tiga kategori: Padma Vibhushan (exceptional and distinguished service), Padma Bhushan (distinguished service of higher order), dan Padma Shri (distinguished service). Penghargaan ini dimaksudkan untuk menghargai pencapaian individu di semua bidang kegiatan dan disiplin ilmu/pengetahuan yang melibatkan layanan publik. Tahun ini, Padma Award diberikan kepada 85 tokoh, terdiri dari Padma Vibhushan untuk tiga orang, Padma Bhushan untuk sembilan orang, dan Padma Shri untuk 73 orang penerima.

Nyoman Nuarta menjadi salah satu warga negara asing di luar India yang menerima penghargaan. Ia diakui sebagai salah satu pelopor Gerakan Seni Rupa Baru (new art) lewat mahakarya Garuda Wisnu Kencana, Monumen Jalesveva Jayamahe, Patung Proklamator, dan lain-lain. Nuarta menerima penghargaan dengan didampingi istri dan kedua putrinya dalam senyum kehormatan bagi Bangsa Indonesia. Pasca upacara penyerahan penghargaan, Nuarta berkesempatan bertemu dengan Perdana Menteri Narendra Modi. Ia menyampaikan ucapan terima kasih atas penghargaan dan sambutan yang sangat baik dari Pemerintah India. Modi juga menyampaikan ucapan selamat atas penghargaan Padma Award yang telah diterima oleh Nuarta, sekaligus mengapresiasi hubungan India dan Indonesia yang selalu terjalin dengan baik sejak masa lampau.

Hurri Junisar@2018

Sumber foto: https://itb.ac.id

 

 

You may also like...