Pendahuluan
Atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, pada tanggal 17 Agustus 1945, Bangsa Indonesia berhasil meraih kemerdekaannya, dengan gaung Proklamasi yang disampaikan oleh Soekarno-Hatta, setelah melalui sebuah perjuangan yang panjang dan berat yang melibatkan seluruh elemen bangsa dalam perjuangannya dan merenggut banyak pengorbanan nyawa anak bangsa. Perjuangan tersebut bukan hanya dilakukan di tengah-tengah medan pertempuran fisik, oleh kekuatan militer dan gerilya para pejuang yang memanggul senjata, tetapi juga dilakukan oleh para pahlawan bangsa yang memanggul pena dan berjuang melalui tulisannya untuk menyebarkan setiap berita perjuangan bangsa dan proklamasi ke seluruh pelosok negeri dan seluruh belahan dunia, demi untuk mempertahankan kemerdekaan dan mendapatkan dukungan dan pengakuan dunia internasional.
Perjuangan jurnalistik melalui kekuatan dan ketajaman pena ini seringkali luput dari perhatian, walaupun bentuk perjuangan tersebut tidak kalah pentingnya dibanding dengan perjuangan militer dengan penggunaan senjata. Mengutip tulisan Prof. M. Dawam Rahardjo,
……… Biasanya para ahli sejarah hanya melihat dua bentuk perjuangan. Pertama, perjuangan militer oleh TNI yang dipimpin oleh Jenderal Sudirman… kedua, melalui cara diplomasi yang dilakukan oleh Hatta, Syahrir dan Mohammad Roem. Tapi orang lupa pada bentuk perjuangan ketiga, yaitu melalui pers yang menyebarkan berita ke dunia internasional tentang proklamasi kemerdekaan RI.[1].………
Sebagai sebuah bangsa yang besar, perjuangan dan sepak terjang para pejuang jurnalistik tersebut dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa, tidak boleh kita lupakan, karena mereka adalah adalah bagian dari sejarah bangsa dan bangsa yang besar, tidak akan pernah melupakan jasa para pahlawan dan pejuangnya. Karena atas jasa-jasa mereka itu semua, Negara ini bisa berdiri tegak dan merdeka sampai sekarang.
Muhammad Asad Shahab, adalah salah satu di antara jurnalis pejuang tersebut. M. Asad Shahab adalah seorang patriot bangsa yang ikut memanggul pena dan berjuang menyebarkan berita kemerdekaan, berita perjuangan dan proklamasi ke seluruh dunia demi untuk menghimpun pengakuan dan dukungan internasional dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
- M. Asad Shahab dengan inisiatif dan keyakinan atas nilai-nilai patriotisme dan nasionalisme, mendirikan sebuah kantor berita yang diberi nama APB (Arabian Press Board) pada 2 September 1945, yang menjadi media dan corong untuk menggaungkan dan menyebarkan berita perjuangan bangsa Indonesia, terutama dalam bahasa Arab, ke Negara-negara Timur Tengah. Gencarnya pemberitaan proklamasi dan korespondensi yang dilakukan oleh Asad Shahab tersebut mendukung terciptanya hasil yang positif dalam waktu kurang dari setahun. Isu kemerdekaan Indonesia dan perjuangan revolusi melawan Belanda menjadi bahasan utama negara-negara yang tergabung dalam Liga Arab.
Dalam kondisi demikian, delegasi diplomatik pemerintah Indonesia berangkat ke negara-negara Arab. Dukungan dan pengakuan atas kemerdekaan Indonesia bisa diraih pertama kali pada 22 Maret 1946 dari Mesir secara de facto. Suriah, sebagai anggota Liga Arab, menyusul pada 2 Juli 1947 dan menyerukan persoalan Indonesia dibahas oleh Dewan Keamanan PBB. Vatikan, sebagai negara Eropa pertama, mengakui kemerdekaan RI pada 6 Juli 1947; Lebanon mengakui kedaulatan RI secara de jure pada 29 Juli 1947; Saudi Arabia pada 24 November 1947; dan Yaman pada 3 Mei 1948. Hal itu menjadi bukti nyata perjuangan M. Asad Shahab melalui APB.
Pengakuan Mesir, dan Negara-negara Arab lain yang menyusul kemudian, atas kemerdekaan Indonesia pada tahun 1947 merupakan sebuah titik kebangkitan dan modal paling besar dalam perjuangan bangsa di dalam mempertahankan kemerdekaan melawan propaganda dan tipu muslihat Belanda untuk tetap menancapkan kembali tiang-tiang penindasan kolonialisme di bumi Indonesia. Hal ini diakui dan ditekankan oleh M. Hatta dalam sebuah wawancara keterangan dengan majalah Akher Sa’ah di Mesir sebagai berikut:
… Kemenangan diplomasi Indonesia sesungguhnya berpangkal di Mesir, karena dengan pengakuan Mesir dan Negara-negara Arab lainnya atas Republik Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh, dengan segala jalan telah tertutup bagi Belanda untuk surut kembali atau memungkiri janji seperti selalu dilakukannya dahulu.[2]
Prestasi dan hasil perjuangan tersebut dengan jelas dicatat dan diakui dalam dokumen sejarah bangsa, dalam buku Sekitar Perjanjian Persahabatan Indonesia-Mesir Tahun 1947, di mana disebutkan:
… Patut juga dikemukakan di sini, jasa-jasa dari mass media nasional seperti “Antara” terutama APB yang berkedudukan di Jakarta berkat kegiatan-kegiatannya dalam menyebarkan berita-berita perjuangan, ahirnya terdengar pula sampai kekawasan dunia Arab dan Timur Tengah.[3]
- M. Asad Shahab sebagai inisiator dan pendiri APB, telah membuktikan perjuangannya melalui kegigihannya dalam menyebarkan berita perjuangan dan proklamasi kemerdekan keseluruh pelosok dunia hingga Indonesia mendapatkan sebuah dukungan dan pengakuan atas kemerdekaan bangsa Indonesia. Bahkan setelah perjuangan revolusi berakhir dan Belanda angkat kaki dari bumi Indonesia, M. Asad Shahab tidak pernah berhenti berjuang demi bangsa dan negera melalui pemikiran-pemikirannya dan tulisannya melalui berbagai media dan pergerakan, dengan mendirikan Majalah Pembina dan beberapa media lainnya demi melawan dan menentang gerakan Komunisme. Bahkan ketika ia tidak berada di Indonesia pun, tetap berjuang melalui karya-karyanya dan tulisannya demi mengenalkan Indonesia ke kancah internasional.
Dilihat dari perjuangan, pemikiran dan karya-karyanya yang telah didarmabaktikan sepanjang hidupnya, tidak diragukan lagi nilai-nilai kepahlawanan dan jasa-jasa M. Asad Shahab bagi Bangsa Indonesia. Kepergiannya pada tahun 2001 melahirkan kesedihan dan kehilangan bagi seluruh bangsa, rekan seperjuangan, dan para tokoh bangsa. Mereka turut bersedih dan banyak menuliskan catatan penghargaan dan testimoni atas kepergiannya. Rosihan Anwar pun menuliskan:
… Motivasinya sederhana, mau berjuang menegakkan Republik Indonesia dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia yang telah diproklamasikan.[4]
- Masa Kecil dan Keluarga
Asad Shahab, merupakan seorang putera Betawi yang dilahirkan di Jakarta, pada tanggal 23 September 1910 dalam sebuah lingkungan keluarga pejuang dan ulama besar pada masanya. Ayahnya adalah Habib Ali bin Ahmad Shahab, seorang tokoh pendidik, pejuang, dan pergerakan. Ibunya bernama Aisyah Sahil.
Ali Ahmad Shahab adalah seorang pendiri utama organisasi Jamiatul Kheir, yang dibentuk pada tahun 1901, sebagai organisasi Islam modern pertama kali di tanah air. Jamiatul Kheir memiliki peran di dalam membangkitkan gejolak perasaan kebangsaan dan nasionalisme pada masa itu. Dalam perkembangannya, perkumpulan ini tidak hanya berkiprah di bidang sosial, tetapi juga merambah ke bidang pendidikan, ekonomi, bahkan politik. Cita-cita kemerdekaan Indonesia di awal abad ke-20 tidak lepas dari keberadaan perkumpulan tersebut.[5]
Beberapa tokoh nasional menjadi anggota dalam organisasi Jamiatul Kheir tersebut, seperti K.H. Ahmad Dahlan dari Yogyakarta, dan R. Hasan Djajadiningrat, saudara regen Serang. Mereka adalah anggota dari Jamiatul Kheir sekitar tahun 1910.[6] Dalam beberapa referensi lain bahkan disebutkan bahwa HOS Cokroaminoto pun merupakan anggota dari organisasi Jamiatul Kheir tersebut.
Jamiatul Kheir memainkan peran yang sangat penting sehingga menimbulkan kekhawatiran dan kecurigaan dari pihak Kolonial Belanda. Jamiatul Kheir dianggap berbahaya oleh pemerintah kolonial karena pengaruhnya dapat membangkitkan semangat kebangsaan dan semangat jihad fi sabilillah di kalangan kaum muslimin nusantara. Tak heran kalau pemerintah kolonial mengawasi dengan ketat perkumpulan ini.[7] Asad Shahab dengan sendirinya mewarisi darah pejuang dari sang ayah.
Habib Ali Ahmad Shahab memiliki hubungan yang sangat luas dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional di masa itu. Sebagian dari mereka merupakan sahabat yang sering kali diajak bertukar pikiran, misalnya, dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Haji Agus Salim, M. Husni Thamrin, Muhammad Hatta, Ahmad Djajadiningrat, A.M. Sangaji, serta tokoh Sarekat lslam afdeling B bernama Raden Goenawan, dan lain lain. Dalam hal ini, Husni Thamrin sering mendapat dorongan perjuangan dari Ali Ahmad Sahab. Di zaman Jepang, Sukarno dan Hatta sering bertemu dengan Ali Ahmad Shahab.
Area keluarga yang merupakan lingkungan organisasi pergerakan, diperkuat dengan didikan orang tuanya sebagai tokoh organisasi dan pejuang dawah Islam, secara tidak langsung telah ikut menggembleng rasa kebangsaan, nasionalisme, dan patriotisme pada diri Asad Shahab. Asad Shahab dilahirkan pada tahun 1910, suatu periode di mana bumi nusantara dilanda gelombang besar semangat kebangkitan gerakan nasionalisme.
Semenjak kecil, Asad Shahab sudah terpapar oleh ide-ide perjuangan, kesetaraan, kebangkitan nasional, dan ide-ide pergerakan nasional, melalui interaksi keluarganya dengan tokoh-tokoh nasional. Hal itu ikut membangun paradigma berfikir dan intelektualitas Asad Shahab dalam perjuangannya ke depan.
- Latar Belakang Pendidikan
Asad Shahab lahir di Jalan Pasar Baru Nomor 32, Jakarta Pusat, pada 23 September 1910. Kelahirannya disambut dengan sukacita oleh ayah dan seluruh saudaranya. Bunda Aisyah merawatnya dengan tulus, sehingga Asad tidak merasakan kekurangan kasih Ibu sedikit pun. Begitu pun dengan sang ayah, menjaga Asad Shahab dengan segenap jiwa raga. Asad Shahab merekam karakter, sifat, akhlak, dan budi pekerti yang baik dari keulamaan sang ayah.
Asad kemudian menimba ilmu di Syamail Huda, Pekalongan, pada tahun 1924. Tempat belajarnya ini bernaung di bawah binaan Jamiat Kheir. Saat itu, di Syamail Huda, terdapat seorang guru dari Yaman bernama Muhammad bin Hasyim bin Thahir, yang tersohor memiliki keilmuan mendalam. Asad Shahab mendapatkan kesempatan untuk menimba berbagai macam ilmu dari sang guru. Sejak bersekolah di Syamail Huda, Asad Shahab menunjukkan kegemarannya dalam membaca dan menulis. Ia seakan tidak pernah melewatkan aktivitas membaca atau menulis tersebut.
Setelah lulus dari Syamail Huda, pada 1932, Asad Shahab bertolak dari Pekalongan menuju Surabaya. Ia melanjutkan jenjang pendidikannya ke Madrasah Aliyah Al Khairiyah. Di sini, bakat dan hobi Asad Shahab dalam menulis mulai menuai hasil. Karya-karyanya dimulai dimuat secara rutin di koran berbahasa Arab, Hadramaut, Surabaya. Asad Shahab juga memperlihatkan bakat dan kemampuannya dalam kepemimpinan. Ia juga aktif dalam klub olahraga, organisasi kepanduan, dan beragam kegiatan positif lainnya. Asad Shahab juga menguasai bahasa Arab semenjak lulus dari Syamail Huda. untuk menunjang karir kepenulisannya, Asad Shahab juga mengikuti kursus bahasa Belanda dan Inggris.
Selepas tingkatan aliyah, Asad Shahab kemudian mengenyam bangku kuliah di GHS (Geneeskundige Hoogeschool), Sekolah tinggi bernama Stovia, yang kelak dikenal sebagai Universitas Indonesia. Saat itu, GHS atau Fakultas Hukum UI baru saja membuka jurusan publisistik (jurnalistik). Jurusan itulah yang diambil oleh Asad Shahab. Namun, ia menuntut ilmu di bangku kuliah tersebut hanya sampai tingkat tiga saja. Faktor yang menyebabkan studinya tidak sampai selesai adalah karena aktivitasnya lebih dominan dalam berorganisasi.
Asad Shahab menikah dengan seorang perempuan bernama Ni’mah dan dikaruniai seorang putra bernama Ahmad Husein. Istrinya kemudian mengalami sakit parah hingga meninggal dunia. Asad kemudian menikah lagi dengan Suud dan menetap di Jalan Kentjana nomor 30. Mereka kemudian dikaruniai dua orang anak bernama Umniyah dan Abdul Muthalib.
- Asad Shahab adalah seorang poliglot, atau seseorang yang memiliki kemampuan untuk menguasai beberapa bahasa secara bersamaan. Asad Shahab menguasai Bahasa Indonesia, Arab, Inggris, dan Belanda. Kedua bahasa asing yang disebutkan terakhir merupakan keterampilan yang diraihnya lewat kursus. Kemahiran dalam semua bahasa tersebut menjadi modal besar yang kemudian sangat bermanfaat bagi perjuangan Asad Shahab dalam dunia jurnalistik dan diplomasi, khususnya di masa revolusi kemerdekaan.
- Awal Perjuangan Pers dan Kondisi Pers Nasional
Setelah memulai aktivitas jurnalistik di Surat Kabar Hadramaut, Asad Shahab mengarungi dunia pers yang lebih luas. Pada tahun 1936, ia menjadi redaksi dari majalah mingguan Tidar dan mulai aktif menjadi kontributor berita di surat kabar harian berbahasa Arab yang berada di Timur Tengah, antara lain harian Al-Mughattan yang terbit di Mesir (1938-1942).
Pada saat yang sama, bangkitnya kesadaran nasional bangsa Indonesia dan berdirinya organisasi-organisasi seperti Budi Utomo, Sarekat Islam dan Indische Partij, mendorong pemerintah kolonial untuk menghambat pengaruh pers bumiputra itu. Caranya adalah dengan mendirikan surat kabar sendiri dalam bahasa Melayu dan memberikan subsidi kepada surat kabar yang moderat dalam pemberitaannnya. Hampir setiap organisasi massa atau partai yang tumbuh di Indonesia kemudian mempunyai surat kabar atau majalah sebagai pembawa suara organisasinya masing-masing demi menarik massa.
Suatu organisasi terkadang memiliki lebih dari satu surat kabar atau majalah. Tetapi, terlihat juga dalam perkembangannya, bahwa karena persoalan modal dan keahlian, banyak dari surat kabar atau majalah tersebut tidak berumur lama. Budi Utomo memiliki surat kabar Darmo Kondo, dengan kalangan pembaca yang cukup besar di pulau Jawa. Sarekat Islam memiliki Oetoesan Hindia (1913-1923) yang mempunyai pengaruh luas terhadap surat kabar terbitan daerah. Indisce Partij memiliki Het Tijdschrift dan De Express, yang dipimpin oleh E. F. E. Douwes Dekker. Isi kedua media berbahasa Belanda tersebut lebih banyak berhubungan dengan perjuangan dan masa depan Indonesia.
Ada suatu risalah yang ditulis oleh Ki Hajar Dewantara pada 13 Juni 1913 berjudul “Als ik eens Nederlander was…..” (Andaikata aku orang Belanda). Naskah tersebut mengguncangkan pemerintah kolonial. Pergerakan nasional kemudian terlihat berkelindan dengan perkembangan pers nasional. Banyak dari tokoh-tokoh pers adalah juga tokoh-tokoh partai. Tahun 1937 adalah masa bersejarah bagi perkembangan media massa di nusantara. Pada saat itu, sejumlah wartawan muda Indonesia yang memiliki kepedulian terhadap kemerdekaan berjuang melalui keahlian yang mereka miliki, khususnya bidang tulis menulis. Melalui dunia pers dan kewartawanan, mereka memberikan pelayanan khusus untuk masyarakat dengan mengabarkan serta memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai berbagai masalah yang bergejolak dalam masyarakat.
Gagasan untuk mengembangkan dan menerbitkan usaha pers sendiri kemudian muncul. Para wartawan seperti Sipatuhar, Soemanang, Pandu Kartawiguna, dan seorang wartawan remaja bernama Adam Malik, berdiskusi membahas tentang prinsip-prinsip dasar dan juga nama bagi usaha pers yang akan dibentuk. Mereka membuat usaha penerbitan tersebut berupa kantor berita. Akhirnya diputuskan bahwa kantor berita yang akan didirikan tersebut dinamai “Antara”. Kantor Berita Antara hanyalah bermodalkan satu buah meja dan satu buah mesin ketik disertai semangat membaja.[8] Buletin pertama Antara diterbitkan pada 13 Desember 1937, yang dijadikan sebagai hari ulang tahun kantor berita tersebut.[9]
- Perjuangan, Pemikiran, dan Sumbangsih M. Asad Shahab
- Sebelum Kemerdekaan dan Masa Revolusi Fisik
Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia yang dikumandangkan di Pegangsaan Timur seiring dengan usia Asad Shahab yang menginjak 35 tahun. Meski masih muda, Asad Shahab sudah lama berkecimpung di dunia jurnalistik, yaitu sejak tahun 1936. Dalam wawancara dengan harian Angkatan Bersenjata, Asad menyatakan,
“Saya sejak muda tertarik dengan bidang jurnalistik, mungkin karena pengaruh penerbitan media massa pergerakan, bahkan sampai mendirikan mingguan Tidar di Jakarta antara tahun 1936 sampai 1938.”[10]
Ia menjadi redaktur majalah mingguan Tidar dalam kurun waktu 1936-1938, dan sudah berpengalaman menjadi kontributor surat kabar berbahasa Arab, Al Mukhtar, Mesir, pada 1938-1942.[11] Ketika Tidar terbit, Asad Shahab berumur 20 tahun. Ia semula bertugas mengetik serta mengoreksi naskah berita dan artikel. Karena seringnya membaca tulisan orang dan mengetik, dan kebanyakan tulisan tersebut berjiwa nasionalisme dan anti penjajahan, lama-kelamaan Asad Shahab tertarik dan selalu membaca karangan tokoh-tokoh Nasional Indonesia. Asad Shahab mengakui bahwa ia beruntung mendapat bimbingan wartawan senior seperti Parada Harahap, pemimpin redaksi Bintang Timur yang belakangan menjabat pemimpin redaksi Pemandangan.
Pada akhir tahun 1930-an, ia berkenalan dengan Adam Malik. Asad Shahab mengaku sering bertemu dan berkumpul dengan Adam Malik, sewaktu remaja tersebut terlibat pendirian Kantor Berita Antara. Ketika Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, hanya dua minggu kemudian Asad bersama teman-temannya mendirikan Arabian Press Board. Kelak tokoh-tokoh yang diwawancarai oleh Asad Shahab menjangkau level internasional, antara lain Jawaharlal Nehru, Soekarno, Faizal, Abdel Nasser, Anwar Sadat, Carlos Romulo, Chou En Lai, Fathil Jamali dari Irak, Habib Bourguiba, Tengku Abdurrahman, Tun Razak, Dr. Mirza Hayet, Said Samil Kaukasia, serta Jusuf Al Petikin Sinkiang dari Turkistan Timur. Karena kefasihannya berbahasa Arab dan bahasa Inggris, Asad juga banyak menulis di berbagai media di Timur Tengah, seperti Al Jumhuriyah di Beirut, Al Irfan, Al Khawadis di London, surat kabar harian An-Nadwah di Mekah, harian Ucaz dan harian Al-Madinah di Jeddah, dan harian Ar-Riyadh di Riyadh.[12] Sebagaimana tulisan ayahandanya yang banyak mengecam penjajahan Belanda di Indonesia dan penjajahan Inggris atas Malaysia, Asad Shahab seakan memiliki bakat, keahlian, dan rasa atas kata “perjuangan”. Ia menjalin komunikasi yang erat dengan para tokoh perjuangan, termasuk Sukarno dan Mohammad Hatta.
Asad Shahab pertama kali mendengar pidato Bung Karno di gedung pertemuan Indonesia, Gang Kenari, Jakarta, sekitar tahun 1928. Pidato si Bung yang berapi-api membangkitkan semangat rakyat Indonesia, dimana kekuasaan kolonial Belanda sedang mencengkram seluruh nusantara. Polisi dan intelijen Belanda pun mengawasi tempat itu. Bung Karno tidak menggubris, bahkan pihak kolonial terpukau dengan pidatonya. Rapat besar itu dikunjungi dan dihadiri oleh lapisan cendikiawan Indonesia dari seluruh aliran dan organisasi, walaupun yang terbanyak dari PNI. Rapat itu membawa kenangan yang mendalam di kalangan rakyat Indonesia sebagai suatu bibit subur untuk perjuangan melawan kolonial Belanda.
Semenjak tahun 1928, Asad Shahab tidak pernah lagi bertemu dengan Bung Karno, karena setahun kemudian tokoh pergerakan tersebut dipenjara di Banceuy dan selanjutnya mengalami rangkaian penjara demi penjara sampai pengasingan. Pada tahun 1942, ketika nusantara lepas dari cengkraman Belanda yang menyerah kepada Jepang, Asad Shahab bertemu kembali dengan Bung Karno Jakarta. Ketika Majelis Chuo Sangi In terbentuk, dimana Bung Karno diangkat sebagai ketua, pertemuan mereka Bung Karno sering dilakukan. Salah satu tempat berkumpul adalah di kawasan Jalan Matraman, rumah Baswedan, yang diangkat sebagai anggota Chuo Sangi In.
Suatu hari, Asad Shahab berkumpul dengan Bung Karno, Bung Hatta, Baswedan, dan seorang kawan lain. Mereka berlima bercakap-cakap mengenai banyak hal, antara lain soal kemerdekaan Indonesia dari tangan Jepang yang mengerikan. Bung Karno menegaskan bahwa segala kesempatan harus digunakan demi mencapai kemerdekaan Indonesia dalam waktu yang singkat. Segala cara harus digunakan dengan diam-diam dan hati-hati. Kalimat tersebut terukir dan terpaku dalam hati setiap pejuang Indonesia, termasuk Asad Shahab. Menurut pendapat bangsa-bangsa Asia, cara menyatakan kemerdekaan ialah dengan proklamasi.[13] Sukarno, Hatta, dan sejumlah tokoh muda kemudian menyatakan kemerdekaan Indonesia.
Kehadiran Negara Republik Indonesia yang dimulai dengan Proklamasi dalam masyarakat internasional harus mendapat pengukuhan dan secara berkesinambungan dipertahankan identitasnya dalam hukum internasional.[14] Sejak 19 Agustus 1945, sesudah Bung Karno diangkat sebagai Presiden RI dan Bung Hatta sebagai wakil, pertemuan Asad Shahab dengan tokoh negara yang baru berdiri tersebut menjadi lebih sering dan banyak membicarakan bagaimana menyiarkan berita-berita Indonesia ke seantero dunia, di mana sekutu dan Belanda masih menjadi musuh besar serta tidak mengakui kemerdekaan Indonesia.[15] Hal tersebut juga tak lepas dari pesan Bung Hatta seusai proklamasi. Bung Hatta menyampaikan pesan kepada jajaran wartawan dan jurnalis pejuang. Isinya:
Saudara-saudara sehari-harinya sudah bekerja keras, tetapi saudara harus meneruskan pula dengan giat pekerjaan baru, yaitu memperbanyak teks Proklamasi itu dan menyebarkannya ke seluruh Indonesia sedapat-dapatnya. Saudara yang bekerja di kantor Domei, kawatkanlah sedapat-dapatnya berita Proklamasi ini ke seluruh dunia yang dapat dicapai.[16]
Setelah pesan dari Bung Hatta itu disampaikan, maka insan pers yang hadir saat itu merasa bahwa mereka punya tugas untuk terus mengawal kemerdekaan melalui publikasi berita-berita seputar proklamasi, sehingga kemerdekaan Bangsa Indonsia dapat diakui oleh dunia internasional. Sebagai figur yang memiliki jaringan korespondensi Timur Tengah, Asad Shahab pun berfikir untuk mempertahankan proklamasi sebagai wujud kehadiran negara Indonesia. Ia pun berinisiatif untuk membentuk sebuah kantor berita yang dapat mengabarkan Proklamasi dan langkah perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan, agar bisa diketahui oleh dunia internasional. Hal itu demi strategi diplomasi untuk menggalang dukungan dan pengakuan atas Indonesia sebagai sebuah negara yang merdeka dan berdaulat.
Sikap Sukarno sejalan dengan Hatta. Dalam maklumatnya yang panjang lebar, yang ditujukan kepada segenap rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, ia menekankan tentang perlunya diadakan hubungan dengan luar negeri. Hal itu amatlah penting. Proklamasi kemudian disebarkan secara luas dalam dan luar negeri melalui Hoso Kyoku (Radio Militer Jepang), atas keberanian Joesoef Ronodipoero. Di sisi lain, Asad Shahab memikirkan dengan serius penyebaran proklamasi melalui penerbitan koran dan buletin internasional, untuk menghubungkan Indonesia dengan negara-negara Asia Afrika demi mempengaruhi opini rakyat dunia dan menentang segala usaha Belanda untuk terus menjajah Indonesia. Asad Shahab menargetkan bahwa simpati negara-negara tersebut, serta pereratan hubungan baik dengan mereka, harus diraih.
Memasuki masa revolusi kemerdekaan, ada tiga kantor berita di Indonesia, yaitu Domei sebagai kantor berita milik pemerintah Jepang yang berdiri sebelum Perang Dunia, Antara, dan Aneta sebagai kantor berita yang menyuarakan kepentingan Belanda di nusantara. Sebelum Jepang menduduki Indonesia, kaum pribumi telah memiliki kantor berita sendiri, yaitu Antara, yang didirikan sejak 13 Desember 1937 oleh sejumlah pemuda Indonesia seperti A.M Sipatuhar, Soemanang, Adam Malik, dan Pandoe Kartawigoena, dengan maksud untuk menandingi berita-berita yang dikeluarkan oleh kantor berita milik Belanda, Aneta. Setelah berdirinya APB, Aneta tetap mengeluarkan berita-berita propaganda demi kepentingan Belanda.
Salah satu pola berita produk Aneta cenderung mengadu domba. Misalnya, Aneta memberitakan bahwa Republik Indonesia menyatakan perang terhadap orang Ambon. Segera saja masyarakat Ambon di New York membantah berita kantor berita Aneta. Mereka menganggap perjuangan kemerdekaan Bangsa Indonesia adalah perjuangan mereka juga. Sementara beberapa tanda menunjukkan bahwa makin lama makin banyak orang Amerika dari segala lapisan turut menentang penindasan kemerdekaan Indonesia. Bahkan 6.000 pendeta Kristen minta dengan sangat, agar semua serdadu asing ditarik dari Indonesia, hingga usaha Bangsa Indonesia untuk menentukan nasib sendiri tidak terhalang.[17]
- Asad Shahab dan Diskusi Pendirian Kantor Berita
Gang Tengah, kini bernama “Jalan Salemba”, adalah daerah yang selalu hangat dengan perjuangan. Rumah No. 19 itu disebut sebagai Rumah Pemuda, karena dijadikan markas para pemuda pejuang berkumpul dan juga menjadi gudang penyimpanan senjata. Pada masa pendudukan Jepang maupun saat NICA ingin mengembalikan kekuasaan Belanda, mereka tidak tahu jika dari tempat itu keluar perintah-perintah penyerbuan terhadap Jepang, Nica dan kaki-tangannya.[18]
Di rumah itu Asad Shahab kerap mengajak rekan-rekan seperjuangan untuk berkumpul dan berdiskusi. Sebagai jurnalis yang memiliki hubungan baik dengan media dari negara-negara Timur Tengah, Asad Shahab menyadari bahwa hal itu harus dimanfaatkan secara optimal. Hal yang benar-benar mendesak adalah pemberitaan kemerdekaan Republik Indonesia harus segera diketahui oleh dunia luar. Mereka tidak bisa berharap banyak kepada negara-negara barat, apalagi yang tergabung dalam pasukan sekutu. Terbukti sekutu tidak mendukung kemerdekaan negeri-negeri yang berada di bawah jajahan negara yang tergabung dalam persekutuan tersebut. Kemerdekaan Indonesia pun digugat, dimana wilayah tersebut merupakan bekas jajahan Belanda
Usai Proklamasi kemerdekaan dibacakan, Asad Shahab selalu mengikuti perkembangan politik dan merencanakan sesuatu yang bermanfaat demi mendukung dipertahankannya kemerdekaan Bangsa Indonesia. Tantangan yang dihadapi amat berat. Kekalahan Jepang dari sekutu bukan berarti semuanya telah berakhir. Rencana kedatangan tentara sekutu untuk melucuti senjata tentara Jepang telah terendus sebagai sebuah masalah baru. Terbukti sekutu kemudian mempermasalahkan kemerdekaan Indonesia. Sekutu juga menyebarkan berita bahwa Pemerintah Indonesia menerima syarat-syarat yang diajukan oleh Pemerintah Belanda.
Asad Shahab melihat bahwa fakta kemerdekaan dan perjuangan bangsa telah dikaburkan oleh sekutu, yang ditujukan demi membuat persepsi di dunia bahwa Indonesia belum sepenuhnya merdeka, atau menggagalkan kemerdekaan yang sudah diproklamirkan melalui penciptaan opini dunia. Ia merasa harus segera bertindak mendirikan sebuah kantor berita yang bisa mengirimkan berita proklamasi dan perjuangan kemerdekaan ke seluruh dunia, demi mendapatkan pengakuan dan dukungan, sekaligus mematahkan semua berita yang dibuat oleh Belanda dan sekutunya.
Ide tersebut mendapat persetujuan dari rekan-rekan sejawatnya. Wartawan yang bermusyawarah di Gang Tengah nomor 19 kemudian menyatakan kesepakatan atas gagasan Asad Shahab untuk mendirikan kantor berita sendiri, karena Kantor Berita Antara secara administratif masih terikat dengan Kantor Berita Domei, meskipun para jurnalis Domei adalah orang-orang Antara, yang ikut aktif menyebarkan berita kemerdekaan
Gagasan dan inisiatif M. Asad Shahab terus bergulir dan dibicarakan secara serius di rumahnya, Jalan Kentjana 30. Asad Shahab, Muhammad Riza Shahab, dan Husein Al Habsyi satu pikiran untuk mewujudkan sarana perjuangan para jurnalis tersebut. Mereka mendiskusikan nama kantor berita yang didirikan pada 2 September 1945, dan mendapatkan nama The Arabian Press Board, untuk menarik perhatian dunia Islam serta Timur Tengah, sekaligus mengelabui pihak Sekutu dan Belanda. Penggunaan kata “Arabian” pun memiliki maksud agar hubungan dengan dunia Islam dan Timur Tengah menjadi makin mudah. Kantor berita tersebut dalam bahasa Inggris disebut The Arabian Press Board, sementara dalam bahasa Arab disebut Wakalatul Anba Al Arabi. Di kalangan tentara pendudukan, baik sekutu maupun Belanda, Arabian Press Board dikira pusat kepentingan dunia Arab atau Liga Arab di Jakarta.[19] Arabian Press Board menerbitkan buletin dalam tiga bahasa, yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Arab. Asad Shahab bertekad memperjuangkan kondisi bangsa Indonesia di kalangan dunia Islam sehingga memperoleh simpati dan dukungan dari dunia Islam.
Tujuan lain dari penggunaan nama APB adalah dengan maksud agar elit-elit yang mengendalikan pasukan sekutu berpikir dua kali untuk membubarkan APB. Mereka akan menyangka bahwa kantor berita ini ada hubungannya dengan dunia Arab. Sehingga kalau mereka mau menindak APB, terpaksa berpikir akibat dan dampak politisnya di Timur Tengah.
Sejak berdiri APB, secara rutin Asad Shahab mengirim laporan kepada Sekjen Liga Arab, Abdurrahman Azzam Pasha, tentang perjuangan bangsa Indonesia melawan Belanda. Liga Arab yang didirikan pada 22 Maret 1945 itu kelak mengirimkan utusan istimewa ke Jogjakarta. Kemudian Belanda menyadari bahwa APB merupakan topeng institusi dan berita, dimana lembaga tersebut tidak secara resmi berhubungan dengan pemerintahan negara-negara Arab. Bahkan, di dalam pemberitaannya selalu berisi propaganda kemerdekaan Indonesia dan perlawanan terhadap penjajahan.
Tujuan utama Asad Shahab mendirikan APB adalah untuk menyiarkan berita-berita yang aktual dan tegas di dalam dan luar negeri, mengadakan tukar menukar berita dengan luar negeri, mengadakan hubungan dengan pers dalam dan luar negeri dalam rangka menyiarkan berita-berita. Segala berita APB selalu harus kepada kepentingan nasional dan negara.[20] Asad menyadari bahwa ia berpacu dengan waktu. Di sisi lain, pers Belanda bebas bergerak dalam kemewahan. Mereka mendapat sokongan dari kapitalis Belanda yang melimpah-limpah. Kantor Berita Aneta menjadi sumber berita mereka.[21]
Pada tanggal 2 September 1945, Kantor Berita APB resmi berdiri di Jakarta. Asad Shahab bersama kawan-kawan bertekad untuk memenangkan Republik.[22] APB semula bertempat di Jalan Kentjana 30, rumah Asad Shahab selaku pemrednya, lantas pindah ke Salemba (Gang) Tengah Nomor 19.[23] Rosihan Anwar mengenang kantor yang didirikan oleh Asad Shahab amatlah sederhana. Ia mengatakan,
“…Jangan kira itu suatu usaha besar yang punya banyak wartawan lengkap dengan peralatannya. Tidak, segalanya bersahaja. APB menerbitkan buletin stensilan berisi informasi tentang peristiwa-peristiwa di Indonesia.”[24]
Arabian Press Board menjadi satu dari tiga media massa yang mengemban aspirasi perjuangan rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan. Kedua media massa lain adalah harian Berita Indonesia, yang kemudian berubah menjadi Berita Buana, terbit pada 6 September 1945 di Jakarta. Selain itu juga ada Harian Merdeka, yang terbit pada 1 Oktober 1945 di Jakarta. Dari ketiga lembaga pers tersebut, Hanya Asad Shahab selaku pemimpin redaksi APB yang memiliki jaringan luas dan jalur diplomasi luar negeri, khususnya ke negara-negara Timur Tengah. Asad Shahab kemudian memperluas hubungan dan korespondensi dengan sejumlah koran dan jurnal, antara lain Al Mukattan Muqattam dan Al Ikhwan di Kairo, Al Amal dan Al Alam di Irak, Al Manar di Suriah, dan Mimbar Al Shaab di Maroko.[25]
- Kegiatan Kantor Berita
Segera setelah kantor APB dibentuk, M Asad Shahab dan beberapa teman seperjuangannya melapor kepada Presiden Sukarno dan Mohammad Hatta. Pada saat itu juga, Asad Shahab mulai bekerja aktif menyuarkan berita-berita kemerdekaan dan perjuangan ke seluruh pelosok negeri dan dunia. Cita-cita dan dasar pendirian APB dengan jelas sekali menunjukkan tujuan kemerdekaan.
Dari sisi azas, sebagaimana tercantum dalam Anggaran Dasar Yayasan APB Pasal 3, ialah Kenasionalan Indonesia berdasar Proklamasi 17 Agustus 1945, Pancasila, Pembelaan dan pembangunan bangsa dan negara Indonesia, serta obyektivitas dalam pemberitaan.[26] Adapun tujuannya yaitu pertama, menjalankan usaha penyiaran dan penukaran berita-berita yang hangat, baik berita dalam negeri maupun berita luar negeri. Penukaran berita dengan kantor-kantor berita. Menjalankan usaha penerangan dan pengumuman berdasarkan kebenaran yang tidak berpihak pada sesuatu golongan atau aliran. Kedua, mempererat hubungan antara kantor-kantor berita, baik di dalam maupun di luar Indonesia, melakukan segala yang bersangkutan dengan maksud dan tujuan itu. Semuanya dalam arti kata yang seluas-luasnya dengan tidak melanggar undang-undang dan peraturan Pemerintah.
Ide Asad Shahab untuk memiliki media berbahasa Arab Belanda dan Inggris melalui Arabian Press Board merupakan sebuah cara untuk berkorespondensi dengan pelbagai media luar negeri. Proklamasi kemerdekaan Indonesia amat penting untuk disiarkan ke seluruh dunia. Pemerintah Belanda yang membonceng pasukan sekutu berambisi kembali menjajah Indonesia. Bantuan moril maupun material dari negara-negara lain untuk mendapatkan pengakuan atas kemerdekaan, khususnya dari negara-negara di Timur Tengah, menjadi target utama Asad Shahab dalam penyebarluasan berita proklamasi, agar mereka memberikan dukungan terhadap kemerdekaan Indonesia.
Guna meliputi penyiaran langsung ke seluruh Timur Tengah dan seluruh negara yang dirasakan perlu dan penting, kantor cabang APB pun dibuka di seluruh pelosok tanah air. Perwakilan-perwakilan dan koresponden juga dibentuk di seluruh Timur Tengah, bahkan menjangkau Persia, Afghanistan, Turki sampai ke London dan Amerika Serikat, serta beberapa negara Amerika Latin. Hal itulah yang menyebabkan penyiaran pun sampai meliputi India.[27]
- Menyebarkan Berita Proklamasi Kemerdekaan RI
Asad Shahab memutuskan untuk tetap menggunakan rumah tempat berkumpulnya para sahabat seperjuang selama ini sebagai markas dan Kantor Berita APB, yaitu di Gang Tengah Nomor 19. Hal itu dilakukan dengan tujuan bahwa pihak sekutu tidak menaruh kecurigaan yang berlebihan, karena memang tempat tersebut sudah biasa digunakan sebagai tempat berkumpul. Pihak sekutu hanya mengetahui bahwa tempat tersebut kantor berita APB, padahal juga menjadi salah satu ruang temu para pejuang revolusi kemerdekaan.
Sebelum APB dibentuk, Asad Shahab sudah menjalin hubungan korespondensi yang baik dengan media massa di Timur Tengah pada era pendudukan Jepang. APB semakin berkembang dengan mempunyai koresponden tetap di berbagai negara Timur Tengah, seperti Mesir, Saudi Arabia, Lebanon, Suriah, Irak, Afganistan, Maroko, AlJazair, Tunisia, dan negara-negara di Asia seperti Pakistan, Singapura dan Malaysia. Sedangkan di dalam negeri, korespondennya tersebar selain di Jakarta, juga di Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Makassar, Medan, Palembang, dan kota lainnya.
Sebagai realisasi kerja, Asad Shahab menjalin kontak langsung dengan pemuda-pemuda Indonesia di Saudi Arabia, lrak, Mesir, dan Suriname. Hubungan pribadi dengan harian-harian di Mesir, Libanon, Yaman, sejak sebelum perang dunia kedua memang telah ada, dan hubungan itu kini diperbaharui melalui jalur APB. Asad Shahab mengirim berita-berita penting tentang kemerdekaan RI dan aktivitas rakyat Indonesia mengisi kemerdekaan. Karena belum ada teknologi seperti sekarang, Asad Shahab mengirim berita berita dari kantor berita APB ke korespondennya di negara-negara Arab melalui surat.[28]
Ada hal yang mendukung peran Asad Shahab dalam menjalankan misi penyebaran berita proklamasi, yaitu posisinya sebagai “diplomat” yang bergaul dengan tokoh-tokoh nasional Indonesia dari semua kalangan ideologi, sejak dari Soekarno, Hatta, Mohammad Natsir, dan Muhammad Rum, dari kalangan partai Islam. Ada pula Ali Sastroamidjojo, Hardy, dan Roeslan Abdulgani, dari kalangan nasionalis sekuler. Ada Soedarpo Sastrosatomo, tokoh sosialis yang nasionalis dalam Partai Sosialis Indonesia. Lalu tokoh ulama Hamka dan Kyai Haji Ali Yafie.
Di dunia Arab, Asad Shahab berkomunikasi politik dengan tokoh-tokoh seperti Habib Bourguiba, Presiden Tunisia Jamal Abdul Nasser, Presiden Mesir yang membawa aliran sosialisme Arab, Ibnu Suud. Lalu Pangeran Amir Faisal, pemimpin Kerajaan Saudi Arabia dimana Asad Shahab berkerabat baik dengan tokoh itu, bukan sekedar mewawancarai atau mencari berita, tetapi melakukan diplomasi yang diteruskan dengan menulis artikel-artikel di koran terkemuka berbahasa Arab. Hal itu seiring APB yang menyiarkan berita mengenai perkembangan revolusi Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan, yang menjadi misi Asad Shahab dalam mendirikan kantor berita APB.
- Responden APB di luar negeri
Selain juru warta APB yang berada di luar negeri, wartawan APB pun sering mengadakan perjalanan baik di dalam atau di luar negeri. Para koresponden APB dari beberapa harian di luar negeri pada waktu pendudukan Jepang tak dapat meneruskan pekerjaan karena semua hubungan diputus dan dikenai sensor keras. Jepang mengerahkan semua tenaga untuk kepentingan peperangan Dai Nippon di Asia. Ketika jalur dibuka kembali, APB dapat berhubungan kembali dengan para pembesar dan tokoh terkemuka luar negeri, antara lain Fares Elchaury selaku PM Suriah dan ex ketua Dewan Keamanan 1945, M. Ali Attahir selaku Pemuka Palestina dan wartawan, Syed M.Amin al-Husainy selaku Mufti Besar Palestina dan Ketua Arab Hight Committe, M.Talat Harb selaku bekas Menteri Pertahanan Mesir, Allal Elfasi selaku Pemimpin Maroko yang terkenal, Habib Bourguiba selaku Presiden Tunisia, Slim selaku Duta Besar Tunisia di PBB, Rajid Dris selaku Pemimpin muda Tunisia, Emir Abdulkarim selaku Pemimpin pemberontak Maroko, Emir Faisal bin Abdul Aziz selaku Raja Saudi Arabia, Hibatuddin Elshahrestani selaku tokoh Bagdad di Irak, dan Muhammad Abdul Mun’im selaku Konsul Jenderal Mesir di Bombay. Sebagian dari mereka kemudian pernah mengunjungi kantor APB di Jakarta.
- Asad Shahab dalam Pemberitaan di Era Revolusi Fisik
Dalam kondisi yang penuh tekanan, pers Indonesia memproklamasikan dirinya sebagai pers perjuangan yang terfokus dalam mengobarkan semangat perjuangan melawan penjajah. Butuh keberanian yang luar biasa bagi Asad Shahab yang kemudian berhasil menembus blokade informasi Belanda agar kabar perjuangan Bangsa Indonesia tak sampai ke hadapan masyarakat internasional, khususnya Timur Tengah. Menyadari berita-berita kemerdekaan Indonesia sampai ke berbagai negara Arab dan Afrika Utara, tekanan-tekanan kemudian muncul, terutama ke Asad Shahab selaku pemred APB.
Puncak kemarahan Belanda terjadi ketika Mesir mengakui kemerdekaan Indonesia pada 22 Maret 1946. Kurang dari sebulan kemudian, pada 19 April 1946, polisi NICA melakukan penggerebegan terhadap kantor berita APB yang dianggap selalu menerobos blokade informasi Belanda. Kakak dari Asad Shahab, M. Dzya Shahab, ditangkap dan APB dilarang menyiarkan berita apapun terutama mengenai gerakan TNI. Wartawan yang bekerja di daerah pendudukan pun diintimidasi dan digeledah. Di Surabaya, wartawan APB menyingkir ke pedalaman dan meneruskan perjuangan membela Republik Indonesia. Pembredelan pers juga dilakukan terhadap segenap usaha pers lain yang tidak mau bekerjasama dengan Belanda.
Pada penggerebegan kantor berita APB oleh Polisi NICA tersebut, sejumlah dokumen yang dianggap penting dan semua surat-surat disita. Asad Shahab sedang tidak berada di kantor karena menengok istrinya yang tengah sakit, di bawah perawatan Profesor Aulia di Rumah Sakit Umum Pusat Jakarta. Polisi NICA kemudian menyerbu RSUP dan memasuki barak dua tempat istri Asad Shahab dirawat. Tanpa banyak bertanya, polisi NICA menangkap Asad Shahab dan membawanya ke kantor polisi tanpa mengindahkan istrinya yang sakit. Akibat menyaksikan kejadian di depan matanya, sang istri sangat terkejut hingga jatuh pingsan.
Enam hari setelah penangkapan, pada 25 April 1947, Asad Shahab dipanggil oleh hoofd inspecteur van politie, Inspektur polisi Belanda, untuk datang ke kamar 106 bagian reserse kriminal. Di dalam ruangan itu, Asad Shahab diinterogasi dengan beragam pertanyaan yang sangat rumit dan berbelit-belit. Asad Shahab lantas ditahan oleh Belanda. Setelah dibebaskan, ia harus melaporkan diri setiap hari kepada pimpinan Angkatan Perang Belanda atau Hoofd Dienstvoor Legercontracten, C. Van Der Graaf, di Lapangan Banteng Jakarta. Selain itu, ia juga harus melapor kepada Basiccommando Belanda. APB dipandang oleh para aparat tersebut sebagai kantor agitator yang berkampanye anti Belanda.[29]
Usai Agresi Belanda pertama, pada Agustus 1947 Asad Shahab bersama para pendiri APB melakukan perjalanan ke garis depan demarkasi pertempuran Republik Indonesia. Perjalanan ini banyak disiarkan oleh berbagai harian di Jakarta, salah satunya berita Indonesia. Belanda kembali murka. Asad Shahab bersama APB kemudian diancam dan dilarang untuk menyiarkan berita apapun mengenai segala kegiatan dan gerakan tentara Indonesia. Larangan ini tidak dihiraukan oleh Asad Shahab, yang mengakibatkan para pimpinan APB kemudian ditangkap.
Laporan-laporan dari para informan Belanda menyebabkan para pimpinan APB dipanggil untuk mempertanggungjawabkan segala pemberitaan yang disiarkan di luar negeri, yang bersifat anti Belanda. Mereka mengatakan bahwa siaran berita APB merupakan berita bohong dan menentang kekuasaan Belanda. Asad Shahab kemudian mendapat ancaman bahwa kantor berita mereka akan ditutup. Ia dipanggil dua kali berturut-turut dalam seminggu oleh Dr. Van Der Meulen dari Regeerings Voorlichting Dienst, Kantor Layanan Informasi Pemerintahan Kolonial. Sang pejabat Belanda membujuk Asad Shahab untuk mengubah haluan APB. Jika bersedia, maka pemerintah Belanda akan memberi segala macam bantuan. Tanpa gentar, Asad Shahab menolak mentah tawaran itu. Ia mengatakan dengan tegas bahwa pendirian ADB tak dapat diubah dan takkan ada proses tawar-menawar. Gagal membujuk Asad Shahab, panggilan kemudian ditujukan atas nama M. Dzya Shahab dan Husein Muhammad. Van Der meulen mencoba membujuk kedua pimpinan APBD tersebut, dan lagi-lagi bujukannya gagal.
Saat Agresi Militer Belanda 2 pada Desember 1948, kantor APB diblokade. Semua asetnya disita oleh Belanda. Sebagaimana sikap yang ditunjukkan oleh Asad Shahab sebagai pimpinannya, para staf APB tetap memiliki gelora perjuangan, sehingga mereka tetap bekerja atas bantuan dari Sari Pers yang berlokasi di rumah Sastrowoewinyo, Jalan Tangkuban Perahu Jakarta. Buletin yang biasa diterbitkan oleh APB tetap bisa beredar. Setelah berjalan sekian lama, APB pun mendapatkan bantuan dana dari negara RI dan beberapa kolega, sehingga APB dapat memiliki kembali mesin dan peralatan percetakan.
Pasca Agresi kedua berakhir, APB tetap mampu beroperasi sehingga beberapa kali pemeriksaan dilakukan oleh Belanda. Pemeriksaan ini dilakukan oleh dinas intelijen NICA, intelijen angkatan laut Belanda, dan dalam 15 hari sudah tiga kali kantor APB digeledah dan dua kali ditutup. Asad Shahab yang akan berangkat dengan pesawat Komisi Tiga Negara ke Yogyakarta ditawan oleh Belanda saat tiba di Bandara Kemayoran. Ia pun gagal terbang.
Sebagai pemimpin redaksi APB, Asad Shahab harus menghadapi kenyataan pahit, bahwa ancaman hingga pembunuhan pun menerpa stafnya. Di antaranya adalah Ahmad Syahri, staf redaksi yang diculik dari kantor APB pada siang hari oleh Polisi NICA Belanda pada tanggal 7 November 1946. Selanjutnya Abdurrahman Bin Nuh, wartawan APB di Bandung yang ditembak mati di Cianjur, setelah diperiksa beberapa menit saja pada tahun 1948. Seorang wartawan lainnya, Abdullah Bin Nuh, juga dijatuhi hukuman mati. Tetapi, ia berhasil meloloskan diri dan bersembunyi.[30] Kekerasan-kekerasan yang dialami oleh Asad Shahab dan staf APB tetap tidak mengendurkan semangat perjuangan.
- Ancaman terhadap Asad dan APB pada Aksi Militer Belanda Kedua
Belanda melancarkan aksi militernya yang kedua, di tengah perundingan antara Republik lndonesia dengan Belanda. Kantor Berita APB tidak luput menjadi sasaran penyisiran, diblokir, dan semua surat serta dokumen, barang-barang yang bergerak, kertas dan sebagainya disita. Dengan cara ini, Belanda memperhitungkan bahwa APB tidak mampu terbit lagi, setidaknya terhenti untuk beberapa waktu. Tetapi, berkat semangat para staf dan bantuan besar dari Sari Pers, semua cetakan-cetakan APB pada hari tetap dilakukan di Sari Pers, di Jalan Tangkuban Perahu Jakarta. Buletin Berita APB pun tetap terbit sebagaimana biasa.
Kejadian tersebut membuat pihak Belanda terperanjat. Untuk menghambat gerak APB, Asad Shahab ditangkap, lalu kemudian beberapa staf Redaksi APB dibawa oleh pihak Belanda dan dihadapkan ke Hoofd Bureau van Politie (kepala kepolisian) karena dituduh mengadakan kekacauan serta menghalangi jalannya ketertiban dan keamanan. Karena tidak ada bukti yang dapat dijadikan alasan, bahwa di kantor APB mencetak selebaran gelap, bundel surat yang tidak ada artinya pun disita juga. Beberapa anggota staf Redaksi diangkut dengan jip ke Markas Besarnya untuk diperiksa.
Meski kerap diintimidasi hingga pembunuhan stafnya, APB tetap berkembang. Wartawan dan koresponden app di luar negeri kemudian makin meluas dan berada di berbagai negara seperti Lebanon, Aden, Suriname, Saudi Arabia, Malaysia dan Singapura, Argentina, Bahrain, Kairo, Pakistan, Tunisia, Muangthai, dan New Delhi di India. Selain itu, mereka juga terdapat di Tokyo, Hongkong, Hamburg, Turki, London, Paris, dan Suriah.
- Peran Asad Shahab Demi Terwujudnya Pengakuan Negara-negara Timur Tengah untuk Kemerdekaan RI
Peranan Asad Shahab khususnya dan pers nasional yang saat itu ada sangat besar. tanpa saham dan sumbangan pers nasional yang heroik dan patriotik tidak mungkin perjuangan Indonesia dalam mempublikasikan proklamasi mencapai kesuksesan. Asad Shahab menginisiasi APB dalam 15 hari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, suatu momentum sejarah yang penting dan merupakan langkah strategis dilandasi oleh suatu pemikiran yang jauh ke depan. Asad Shahab bertarung di tengah revolusi, dalam perjuangan yang tanpa rasa takut dan gentar menghadapi tantangan dan bahaya. Ia menyadari bahwa tak ada perjuangan tanpa meminta pengorbanan. Apa yang dilakukan oleh Asad Shahab merupakan catatan bagi APB dalam lembaran sejarah jurnalistik perjuangan Republik Indonesia.
Intelektualitas Asad Shahab ditunjukkan oleh karya jurnalistik APB yang didirikannya, yang sangat berjasa dalam memberitakan proses perjuangan bangsa Indonesia melawan imperialisme dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, serta memperoleh pengakuan kedaulatan oleh dunia internasional. Upaya Asad Shahab memiliki nilai tersendiri karena pemberitaannya diarahkan ke kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, yang menjadi pelopor dalam pengakuan kedaulatan RI. Penduduk kawasan ini memiliki hubungan emosional karena kesamaan agama dan tingkatan dunia ketiga.
Salah satu peran penting APB ialah saat menggagalkan sebuah misi mata-mata Belanda dari Indonesia, yang menjadi berita besar di kalangan surat kabar Arab. Misi yang dipimpin oleh Muhammad bin Abdullah Alamudi dengan anggotanya Ali bin Sungkar, Abdul Qadir Audah, Ahmad Marta, dan Zain Bajeber dimaksudkan untuk menggagalkan usaha diplomasi RI di Timur Tengah, dan membatalkan pengakuan de facto Mesir terhadap kemerdekaan Indonesia. Mereka dikirim secara rahasia untuk mengunjungi negara-negara Arab demi kepentingan Belanda dan menentang proklamasi RI. Dalam hal itu, masalah Palestina dijadikan jembatan untuk dapat mengadakan pendekatan dengan para pembesar Arab.
Atas usaha keras Asad Shahab dan APB, rencana kedatangan mata-mata Belanda itu telah tersebar di seluruh surat kabar Arab. Selain itu pihak keamanan negara Arab yang akan dikunjungi telah mengantisipasi kedatangan mereka. Ketika tiba di Kairo, mereka tercengang dan terperanjat atas sikap masyarakat yang sangat berlainan, karena terdapat tuduhan bahwa mereka adalah mata-mata Belanda. Dalam kesempatan itu, empat orang mata-mata selain Alamudi mencari perlindungan sambil menyatakan bahwa mereka bersih dari segala tuduhan yang telah disiarkan surat kabar Mesir. Mereka mengakui bahwa Alamudi seorang propagandis Belanda. Misi mata-mata tim Alamudi pun dapat digagalkan dan diusir atas perintah raja.[31]
Berkat pemberitaan APB yang dilakukan secara terus menerus, perjuangan bangsa Indonesia dalam melepaskan diri dari penjajahan, dan mempertahankan kemerdekaan dari tangan Belanda, menjadi viral di seluruh dunia, terutama di kawasan Timur Tengah. Pada saat yang sama, beberapa Negara di Asia dan Timur Tengah juga sedang berjuang untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan Barat. Solidaritas dan simpati dari Negara-negara tersebut tumbuh, mendukung dan mengakui kemerdekaan RI sebagai Negara yang merdeka dan berdaulat. Hal itu dimulai oleh Muhammad Abdul Mun’im, Konsul Jenderal Mesir di Bombay (sekarang Mumbay, India), yang datang ke Yogyakarta pada 13–16 Maret 1947. K.H Saifuddin Zuhri merekam peristiwa itu dalam bukunya, Berangkat Dari Pesantren:
Ada suatu perkembangan baru yang tidak kuduga sebelumnya. Pada tanggal 14 Maret 1947, Konsul Jenderal Mesir di Bombay, Mohammad Abdul Mun’im, tiba di Yogyakarta. Ia, laki-laki yang berusia sekitar 40 tahun, mengenakan setelan abu-abu dan di atas kepalanya bertengger tutup kepala tarbus berwarna merah, datang sebagai utusan Liga Arab (badan gabungan negara-negara Arab) untuk menyampaikan keputusan Liga tersebut bahwa negara-negara Timur Tengah mengakui kedaulatan negara Republik Indonesia. Pengakuan tersebut disampaikan kepada Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Hatta di hadapan para menteri dan pejabat-pejabat negara yang memenuhi ruangan depan Istana Presiden Yogyakarta.
Suatu peristiwa yang amat menggemparkan dan mengagumkan kalangan politik dalam dan luar negeri yang terjadi secara tiba-tiba. Bukan saja karena negara-negara Arab telah menentang move politik internasional-saat itu dunia internasional sebagian besar berpihak kepada Belanda, tetapi cara kedatangan Abdul Mun’im ke Yogyakarta amat mencengangkan karena tidak lazim dilakukan oleh seorang diplomat yang mewakili banyak negara. Perjalanannya hingga di Singapura tentu dirahasiakan, sebab membawa misi yang amat merugikan Belanda. Dari Singapura ke Yogyakarta, tidak saja lebih dirahasiakan, tetapi juga menempuh petualangan yang sangat berbahaya. Konsul Jenderal Mesir itu ikut menumpang pesawat terbang tua yang sedang melakukan penerbangan rahasia untuk kepentingan Republik Indonesia.[32]
Pada 15 Maret 1947, Mun’im menghadap Presiden Soekarno untuk menyampaikan pesan-pesan dari Liga Arab. Pesan itu merupakan hasil keputusan sidang Dewan Liga Arab yang diselenggarakan pada 18 November 1946, yang menganjurkan seluruh anggota Liga Arab mengakui kedaulatan Republik Indonesia berdasarkan ikatan keagamaan, persaudaraan serta kekeluargaan.
Indonesia pun mendapatkan pengakuan atas kemerdekaannya yang pertama kali dari Mesir. Indonesia juga menandatangani sebuah Perjanjian persahabatan dengan Mesir, yang ditandatangani oleh Menteri Muda Luar Negeri Indonesia, Haji Agus Salim dengan Nokrashi Pasha, dalam kapasitas sebagai Menteri Luar Negeri Mesir. Penandatanganan tersebut disaksikan oleh A.R. Baswedan selaku Menteri Muda Penerangan Indonesia, Rasjidi, dan Dr. Nazir Dt. Pamoentjak dari pihak Indonesia. Abdul Mun’im dan Sekjen Kemlu Mesir, Dr. Kamil, mewakili pemerintah Mesir.
Dengan penandatangan perjanjian persahabatan yang sekaligus menandai pengakuan Mesir secara legal terhadap kedaulatan Republik Indonesia itu, persyaratan formal berdirinya sebuah negara telah lengkap. Secara de facto dan de jure, persyaratan pengakuan dari negara lain atas eksistensi Republik Indonesia tercapai dengan kesepakatan tersebut. Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kedaulatan dan kemerdekaan Republik Indonesia.
Hal itu bisa dicapai oleh Bangsa Indonesia, salah satunya adalah karena jasa-jasa Asad Shahab yang terus menerus melakukan pemberitaan ke seluruh dunia tentang detail proklamasi dan perjuangan Bangsa Indonesia dalam meraih dan mempertahankan kemerdekaan, sehingga seluruh dunia, khususnya negara-negara Arab, mengetahui itu. Jasa Asad Shahab diakui oleh tokoh bangsa seperti Prof. Dawam Rahardjo, yang menuliskan bahwa:
…Arti pentingnya ketokohan M. Asad Shahab sebagai pejuang dilatarbelakangi oleh konteks perjuangan pencapaian pengakuan kedaulatan yang bukan merupakan perjuangan yang sederhana dan mudah itu.[33].
Bung Hatta pun mengatakan hal yang serupa tentang pentingnya Pengakuan Mesir atas Kemerdekaan Indonesia yaitu:
Kemenangan diplomasi Indonesia sesungguhnya berpangkal di Mesir, karena dengan pengakuan Mesir dan Negara-negara Arab lainnya atas Republik Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh, dengan segala jalan telah tertutup bagi Belanda untuk surut kembali atau memungkiri janji seperti selalu dilakukannya dahulu.[34].
Solichin Salam, jurnalis pejuang sahabat Asad Shahab, ikut menekankan hal ini,
Apabila kita renungkan hal ini, secara jujur harus mengakui jasa peranan dan sumbangan pers nasional Indonesia besar sekali dalam kemerdekaan, dan APB (Arabian Press Board) tidak terkecuali. Untuk itu kita patut menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang tinggi. Kita percaya bahwa nama APB tercatat dalam lembaran sejarah Republik Indonesia.[35].
Peran M. Asad Shahab Pasca Era Kolonial
Pengakuan kedaulatan Republik Indonesia secara internasional telah dirah, termasuk oleh Pemerintah Belanda. Rumah di Gang Tengah Nomor 19 kemudian populer sebagai Rumah Pemuda, karena sering dijadikan markas para pemuda pejuang. Rumah yang memiliki nilai sejarah tersebut dipertahankan oleh Asad Shahab dengan cara dibeli untuk Kantor Berita Arabian Pers Board, yang telah berganti nama menjadi Asian Pers Board, pada 16 Oktober 1952. Pembelian itu dilakukan di depan notaris Raden Kadiman, dengan akta nomor 95 tanggal 21 Juni 1953.[36] Kantor Berita APB yang didirikan dengan resmi pada tanggal 2 September 1945 itu kemudian diperbaharui dengan Akte Notaris di Jakarta tanggal 17 Oktober 1952 No. 42, lalu diperbaharui kembali dengan Akte Notaris Raden Kadiman No. 22 tertanggal 9 Mei 1960.
- Penggabungan Kantor Berita
Memasuki tahun 1962, Presiden mengeluarkan keputusan untuk menutup dan membubarkan kantor berita Asian Press Board (APB) dan Indonesian National Press and Publicity Service (INPS). Segenap karyawannya diarahkan untuk ditampung di kantor berita Antara. Sementara itu para pengelola dan karyawan APB tidak sepakat dengan Antara, karena melihat tujuan penggabungan itu jelas untuk melakukan pengekangan kebebasan pers. Tiba-tiba beberapa kementerian RI, di antaranya Kementerian Agama, Kementerian Luar Negeri, Hankam, dan Kementerian Penerangan, menghentikan berlangganan berita dari APB secara sepihak. Tindakan serentak dan mendadak ini dapat memberi tanda-tanda yang tidak wajar terhadap kantor berita APB.
Pada 13 Desember 1962, Pemerintahan Sukarno merealisasikan pembekuan oprasional APB. Dua orang aparat berkunjung ke kantor APB dan menyatakan ingin bertemu dengan pimpinannya. Mereka bertemu dengan Asad Shahab. Setelah memberikan salam militer, dua orang aparat tersebut menyodorkan sebuah map dan meminta tanda tangan dan cap bukti penerimaan surat dalam amplop tersebut. Asad Shahab membuka surat dan terhenyak. Isinya ada dua perintah, pertama, sejak penerimaan surat itu, kantor berita APB harus diberhentikan semua kegiatannya. Kedua, seluruh buku keuangan dan tata usaha diserahkan kepada Kejaksaan Agung pada hari itu juga. Pegawai, pekerja, staf redaksi, dan pimpinan APB dipindahkan ke Kantor Berita Antara. Surat itu merupakan perintah dari Presiden Soekarno, kawan lama Asad Shahab sejak puluhan tahun sebelum proklamasi kemerdekaan dibacakan pada 17 Agustus 1945.
Asad Shahab langsung menggelar rapat. Seluruh pimpinan, staf redaksi yang ada di Jakarta, dan para wartawan berkumpul. Keputusan pun diambil, menyerahkan buku kepada Kejaksaan Agung di Jakarta yang dilakukan oleh Muhammad Mahbub, penasehat APB dan salah satu tokoh Partai Nasional Indonesia. Pada hari itu juga, Mahbub membawa semua buku ke Kejaksaan untuk diserahkan. Setelah pembubaran APB, Asad Shahab memfokuskan diri untuk mengembangkan perusahaannya, NV Angin, yang sudah berdiri sejak tahun 1952. Perusahaan ini adalah percetakan yang menggunakan mesin-mesin modern dari Jerman. Asad Shahab pun mulai mencetak dan menerbitkan buku-buku serta majalah yang sesuai dengan idealismenya dalam menegakkan prinsip-prinsip perjuangan bangsa dan negara yang berdasarkan Pancasila. Gedung NV. Angin berlokasi di Jalan Blora No. 29, Jakarta Pusat.[37]
Asad Shahab kemudian menerbitkan majalah mingguan Pembina. Sebagai pemimpin redaksi, Asad banyak mengulas masalah sosial politik dan agama serta menyelipkan karya-karya sastra. Majalah ini tersebar di seluruh Provinsi Republik Indonesia, dari Aceh hingga Irian melalui agen-agennya. Penulis-penulis yang berkontribusi antara lain Rosihan Anwar, Muwahid, Abu Luthfi, Marajo Basa, dan tokoh-tokoh penulis nasional lainnya.
- Meninggalkan Tanah Air Tercinta
Perkembangan situasi politik mengancam kehidupan Asad Shahab. Keputusan Asad Shahab untuk meninggalkan Indonesia pun diambil, dan mencari berbagai kemungkinan yang aman untuk kepergiannya. Asad Shahab merasa berat meninggalkan negeri kelahirannya, terlebih lagi ia masih ingin terus berjuang melalui majalah Pembina yang sudah dikelolanya selama beberapa tahun. Namun, ia merasa sedikit lega ketika Abdul Muthalib Shahab menyatakan kesanggupannya untuk menjadi wakilnya selama ia berada di luar negeri. Majalah Pembina tetap bisa terbit dengan dikelola oleh putra pertamanya ini.
Dalam rangka persiapan meninggalkan tanah air, Asad Shahab mengurus visa ke Jerman untuk perawatan kesehatan di sebuah rumah sakit di sana, dengan rekomendasi dari dokter Kruger, seorang dokter asal Jerman yang sudah lama tinggal di Indonesia dan mengenal baik keluarga Asad Shahab. Dengan pertolongan Jenderal Sunarjo dari KOTI (Komandan Operasi Tertinggi) dan Hoegeng, yang saat itu Kepala Imigrasi, Asad Shahab meninggalkan Jakarta.
- Perjuangan di Luar Negeri
Asad Shahab menetap di Jerman untuk sementara waktu, walaupun kecintaan dan kerinduan atas Indonesia tidak terbendung. Tetapi, demi keselamatan diri dan kepentingan yang lebih besar, ia harus bersabar. Walau demikian, Asad Shahab tidak berhenti berjuang dengan cara dan kemampuannya. Ia tetap melanjutkan dorongan hatinya untuk menjalankan tugas diplomasi dan jurnalistik untuk kepentingan bangsa dan umat Islam di dunia.
Setelah sekian waktu menetap di Jerman, Asad Shahab pergi ke Maroko dan mengelilingi Eropa Barat, lalu ke Aljazair, Tunisia, Mesir, dan negara-negara Arab, sebelum akhirnya menetap saat mendapat jabatan di Liga Arab Dunia (Rabithah Al-Alam Al-Islam). Hal itu bermula dari kunjungannya ke Saudi Arabia dan bertemu dengan salah seorang kawan yang menjadi Sekretaris Jenderal Rabithah al-Alam al-Islami, yaitu Syaikh Muhammad Surur. Pertemuan Asad Shahab dengan Syaikh Surur meninggalkan kesan yang amat mendalam. Syaikh Surur mengundang Asad Shahab untuk bekerja di lembaga Islam internasional tersebut, yang menjadi tempatnya mengabdi dan berkarya.
Pada awalnya, Asad Shahab berpikir untuk kembali ke Indonesia, karena keluarganya pun berada di Jakarta. Namun setelah terjadi pergantian pemerintahan tahun 1967, Asad Shahab memutuskan untuk mengabdikan diri di organisasi Islam dunia tersebut, dengan harapan dari sana bisa ikut menyumbangkan pikirannya untuk Indonesia di luar negeri. Setahun pertama bekerja, Asad Shahab tinggal di Saudi sendiri saja, tanpa didampingi sanak saudara, keluarga, atau handai taulan. Hal tersebut yang membuatnya sangat merindukan keluarga dan juga tanah air. Kerinduannya itu terobati setahun kemudian, saat Asad Shahab memboyong keluarganya ke Saudi Arabia. Mereka menempati kediaman yang berlokasi di kota Jeddah.
Selama tinggal di Arab Saudi, perjuangan dan pengabdian Asad Shahab untuk bangsa dan negara tidak berhenti. Baginya, berjuang untuk bangsa dan negara tidak harus dilakukan ketika seseorang berada di tanah airnya.
- Perjuangan melalui Liga Islam Dunia
Asad Shabab tertarik untuk bergabung dengan Liga Dunia Islam bukan tanpa alasan. Lembaga tersebut disponsori oleh Raja Arab Saudi, Faisal bin Abdulazis. Salah satu aktivitas pertama Liga Dunia Islam saat berdiri adalah mengawasi pembangunan Masjidil Haram. PBB mengelompokkannya sebagai organisasi non-pemerintah dan termasuk anggota UNESCO, serta sebagai lembaga anggota pengamat OKI (Organisasi Konferensi Islam).
Rabithah al-Alam al-Islami dibentuk dalam rangka menghadapi berbagai tantangan yang dapat memecah umat Islam. Para pemimpin, ulama, dan pemikir Islam, seusai melaksanakan ibadah haji, berkumpul di Mekkah dalam acara Muktamar pada tanggal 14 Dzulhijjah l381 H. Rabithah al-Alam al-Islami memiliki beberapa tujuan, yaitu menyampaikan dakwah dan ajaran Islam, mengantisipasi berbagai macam pemikiran sesat, menyatukan umat Islam, serta membela dan memecahkan berbagai problem yang dihadapi oleh umat Islam.
Dalam bidang dakwah, lembaga Islam internasional ini sering memanfaatkan musim haji dengan menggelar berbagai kajian tentang Islam di Mekah. Mereka juga mendukung dan memberi fasilitas para dai di seluruh dunia dalam melaksanakan agenda dakwahnya. Di bidang pendidikan, Rabithah al-Alam al-Islami memberikan bantuan kepada perguruan Islam di seluruh dunia.
Program-program tersebut sangat memikat Asad Shahab. Apalagi lembaga ini juga memiliki perhatian yang sangat besar terhadap pers dan media massa. Hal ini sangat sesuai dengan minat dan keahlian Asad Shahab. Liga Dunia Islam menerbitkan berbagai jurnal dan produk jurnalistik dalam berbagai bahasa yang disebarkan ke seluruh dunia. Mayoritas isinya tentang dakwah dan pendidikan.
Majalah yang diterbitkan oleh organisasi dunia Islam dalam bahasa Arab adalah Rabithah al-Alam al-Islami. Majalah ini berisi informasi tentang ajaran dan dunia Islam, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Di samping itu, Rabithah al-Alam al-Islami juga menerbitkan surat kabar mingguan bernama Akhbar al-’Alam al-Islami. Khusus untuk masyarakat yang berlatar belakang pendidikan Barat, Liga Dunia Islam menerbitkan majalah berbahasa Inggris, The Journal, pada 1973. Asad Shahab aktif menulis dalam produk jurnalistik tersebut. Untuk urusan kegiatan masjid di seluruh pelosok, secara khusus Rabithah al-Alam al-Islami menerbitkan majalah Risalah al-Masjid yang tersebar ke seluruh dunia.
Perhatian serius Liga Dunia Islam terhadap media juga ditunjukkan dalam Konferensi Media Islam Internasional I di Jakarta pada 1-3 September 1980. Rabithah al-Alam al-Islami pun mengirimkan delegasi, salah satu di antaranya adalah Asad Shahab. Delegasi RI diketuai oleh Menteri Penerangan RI, Harmoko. Muktamar yang dihadiri oleh 327 peserta dari 49 negara ini menghasilkan “Deklarasi Jakarta”. Salah satu poin dari deklarasi ini adalah pentingnya dibentuk kantor berita Islam untuk menyiarkan dan menonjolkan penyiaran berita dunia Islam. Selain itu, ditetapkan pula kode etik wartawan Islam. Sekjen Rabithah al-Alam al-Islami, yaitu Ali Al-Harakan, ditetapkan sebagai Sekjen Media Massa Islam Sedunia yang berkedudukan di Mekkah. Dewan Tertinggi Penerangan Islam juga didirikan dan berkedudukan di Mekah. Indonesia kemudian dipercaya kembali sebagai tuan rumah konferensi kedua pada 2011 dan ketiga pada 2013.
- Upaya M. Asad Shahab dalam Menjaga Persatuan
Selama bekerja di Rabithah al-Alam al-Islami, Asad Shahab memfasilitasi beberapa yayasan internasional yang membutuhkan bantuan dari Rabithah al-Alam al-Islami. Asad Shahab pernah diutus untuk menghadiri beberapa konferensi Islam, di antaranya Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) di Bandung, dan Konferensi Media Massa Islam di Jakarta. Selain itu, ia pernah diutus untuk menyelidiki keadaan umat Islam di Jepang, Taiwan, Burma (Myanmar), Filipina, Hongkong, Muangthai (Thailand), Australia, dan Singapura.
Asad Shahab juga banyak bertemu dengan tokoh-tokoh nasional maupun tokoh Islam seluruh dunia. Para pejabat Indonesia, terutama dari Kementerian Agama dan para tokoh berpengaruh lainnya, setiap berkunjung ke Saudi Arabia, baik dalam rangka menunaikan umrah, haji, atau dinas kenegaraan, senantiasa menyempatkan diri bertemu dengan Asad Shahab. Mereka di antaranya adalah Lukman Harun, Anwar Haryono, Ali Murtopo, Zulkifli Lubis, Rosihan Anwar, Buya Hamka, A. Mukti Ali, Hamid Algadri, A.H. Nasution, Mohammad Natsir, M. Syaikhu, dan lain-lain.
Asad Shahab selalu menyambut hangat pertemuannya dengan seluruh tokoh Islam dunia tanpa membeda-bedakan mazhab dan pemahamannya. Ia memang amat tidak suka bila umat Islam dikotak-kotakkan dan diperselisihkan hanya karena perbedaan fikih dan mazhab secara sempit. Baginya, perpecahan di kalangan umat Islam adalah sumber dari kelemahan yang membuat lawan-lawan umat Islam menjadi kuat. Oleh karena itu, Asad Shahab selalu berpesan agar umat Islam menjaga persatuan dan kesatuan.
Keluwesan dan keluasan wawasannya itulah yang menyebabkan Asad Shahab bersahabat dengan seluruh tokoh lintas pemikiran dan madzhab. Ia bersahabat baik dengan Mohammad Roem, M. Natsir, Prof. Dr. HM. Rasyidi (Mantan Menteri Agama), Lukman Harun (tokoh Muhammadiyah), Hamid Algadri, Ustadz Husein al-Habsyi, Buya Hamka, KH. Idham Chalid, A.H. Nasution, Anwar Harjono, dan lain-lain.
Kesempatan bekerja di Liga Dunia Islam dimanfaatkan Asad Shahab secara maksimal. Keahliannya dalam menulis tetap disalurkan melalui media yang dikelola organisasi ini. Asad Shahab juga tetap menulis di beberapa media negara-negara Timur Tengah lainnya, di antaranya surat kabar an-Nadwah (Mekah); al-Madinah (Jeddah); al-Uqaz (Jeddah); al-Bilad (Jeddah); ar-Riyadh dan al-Yamamah (Riyadh); al-Muslimun, al-Ummah dan Akhbar al Yaum (Mesir). Selain itu membantu majalah-majalah: al-Jumhuriyah (Mesir), al-Irfan (Lebanon) dan al-Ummah (Qatar), al-Balagh (Kuwait)
Berkat keahliannya berbahasa Arab, karyanya banyak ditulis dalam bahasa Arab, dengan gaya bahasa yang indah, berkualitas, padat dan berisi. Asad Shahab banyak menulis tentang Indonesia dan negara-negara Islam lainnya dalam beragam artikel dan buku. Dengan demikian, berbagai informasi tentang Indonesia dapat dengan mudah dibaca oleh masyarakat di Timur Tengah, sehingga semakin memperkenalkan seluk beluk Indonesia di dunia international.
Buku yang ditulisnya sangat banyak. Asad Shahab menulis tidak kurang dari 32 buah judul. Salah satunya al-‘Allamah Muhammad Hasyim Asy’ariy, sebuah buku biografi Hadratu Syekh Muhammad Hasyim Asy’ari, Sang Pendiri Nahdlatul ‘Ulama dan Pahlawan Nasional, yang dicetak pada 1971 di Lebanon dan cetak ulang pada tahun 2019 oleh Forum dan Yayasan Menara Center. Buku lainnya bermuatan tema Syiah di Indonesia, sejarah Indonesia, kemanusiaan, filosofi kehidupan, Timur Tengah sekitar tahun 1955, sejarah masuknya Islam ke Asia Tenggara, perjuangan Turkistan, dunia Islam di Indonesia, Islam di Moro, dan lain-lain. Allamah Muhammad Hasyim Asya’ari wadhiu Libinati Istiqlali Indonesia tersebut menjadi salah satu karya Asad Shahab yang monumental.
- Kembali ke Indonesia
Tahun 1984, setelah mengabdi 20 tahun di Rabithah al-Alam al-Islami, Asad Shahab berfikir untuk kembali ke Indonesia. Di samping sudah cukup lama hidup di negeri rantau, rasa kerinduan untuk mengabdi pada tanah airnya semakin menguat. Asad Shahab pun bercerita kepada keluarganya, bahwa itulah saat untuk pensiun dari pekerjaannya.
Salah seorang putranya, Abdul Muthalib Shahab, menawarinya tinggal di Amerika Serikat. Saat itu, Abdul Muthalib bekerja di sebuah perusahaan minyak di kota Kansas. Selama menetap di negeri Paman Sam, Asad Shahab menyempatkan waktu untuk berkeliling ke berbagai kota dari beberapa negara bagian. Ia juga tak pernah lupa menuliskan catatan perjalanan tentang berbagai hal yang menarik, yang ditemukan selama kunjungannya. Setelah menghabiskan satu tahun di Amerika Serikat, Asad Shahab memutuskan untuk kembali ke Indonesia.
- Penghargaan Untuk M. Asad Shahab
Kembalinya Asad Shahab ke tanah air membangkitkan kenangan perjuangan bagi teman-temannya. Mendengar Asad Shahab sudah pulang ke tanah air, kediamannya yang berlokasi di Jalan Kentjana 30, Jakarta Selatan, tidak pernah sepi oleh para tamu yang berdatangan silih berganti, dari berbagai macam orang dengan latar belakang yang berbeda.
Sederet kiprah jurnalistik yang dilakoni oleh Asad Shahab, seperti mewakili beberapa surat kabar Indonesia dan luar negeri, dalam Forum Internasional Islamic and Friends di Saudi Arabia tahun 1980, dan sebagai penerjemah pada Muktamar Dakwah Islamiyah bagi Tenggara Asia dan Pasifik yang diselenggarakan di Malaysia tahun 1981, menjadi pengalaman berharga. Asad pun mengagumi pejuang Islam Iran, Mohammad Beheshti, dan tidak aktif lagi di dunia pers karena penglihatannya sudah mulai kabur, dimana untuk membaca pun harus sering dibantu.
Masa-masa akhir Asad Shahab dilewatkan untuk beribadah, membaca, dan mengasuh cucunya yang berjumlah 13 orang dari keempat anak-anaknya. Sesekali ia mengikuti kegiatan di Dewan Harian Nasional Angkatan 45. Asad Shahab sangat bangga karena DHN 45 pada tanggal 10 November 1990 memberikan piagam penghargaan dan medali perjuangan angkatan 45 kepadanya.[38]
Tahun 1985, bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan ke-40, pengelola harian Berita Buana memprakarsai untuk memberikan penghargaan kepadanya atas perjuangan sebagai aktivis pers pendukung kemerdekaan Indonesia, melalui pemberitaan kantor berita APB. Bertempat di kantor Berita Buana, Jalan S. Parman 72 Slipi, Jakarta Barat, koran tersebut memberikan piagam penghargaan kepada Asad Shahab yang telah menginjak usia 75 tahun. Piagam penghargaan diserahkan oleh Soekarno Hadi Wibowo selaku pimpinan umum harian Berita Buana.
Roeslan Abdulgani menyambut anugerah untuk Asad Shahab tersebut dengan mengirim surat untuk dibacakan dalam acara. Berikut petikannya,
… Salah satu tokoh yang berprakarsa di bidang komunikasi massa melalui APB dan penerbitan penerbitan berkala lainnya, adalah bapak M. Asad Shahab. Di tengah-tengah berbagai rintangan, kekurangan dan halangan, dan bermula dengan peralatan sederhana tetapi dengan jiwa perjuangan yang tak kenal lelah, maka bapak M. Asad Shahab dengan APB-nya dapat menjadikan usahanya sebagai pintu penghubung antara republik kita, yang antara tahun 1945-1950 berhijrah ke Jogja, dengan dunia Islam/dunia Arab di Timur Tengah. Pintu penghubung itu makin melebar setelah kita pada tahun 1950 memperoleh pengakuan internasional.
Saya dapat menyaksikan itu sendiri dalam kedudukan saya sebagai Sekjen Departemen Penerangan sejak tahun 1947-1954. Dan juga sewaktu saya menjadi Sekjen Deplu dan kemudian Menlu pada tahun 1954 dan 1956-1957. segala realita itu hendaknya jangan kita lupakan, kalau kita sekarang mengalami hubungan yang makin erat dengan dunia Islam/dunia Arab di Timur Tengah.[39]
Para jurnalis pejuang setelah memasuki masa Orde Baru menyadari bahwa mereka tidak menjadi bagian dari pahlawan yang tercatat dalam tinta emas sejarah perjuangan Bangsa Indonesia mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Itu bukan tujuan perjuangan dan pengorbanan para jurnalis. Hal ini sebagaimana tertuang dalam potongan tulisan Rosihan Anwar kepada Asad Shahab di akhir tahun 1974,
….. Maka kata2 yang Sdr, ucapkan dalam surat Sdr. kepada saya mengenai diri saya sungguh membuat hati saya bertambah kuat buat menahankan segala ujian tersebut. Sebagai sdr tentu sudah maklum, kini saya sedang mengalami “musibah” berhubung harian “Pedoman” telah dilarang terbit oleh pemerintah. Dalam keadaan demikian menjadi lebih berkesan kepada saya ucapan2 Sdr. mengenai perjuangan APB yang terlupa dari sejarah Indonesia.
Tetapi kemudian saya terpikir, bahwa barangkali inilah lakon yang harus kita jalankan di atas pentas sejarah Indonesia. Sdr. Asad berjuang sejak dulu untuk Indonesia Merdeka, mengusahakan “APB”, dan kini melanjutkan di perantauan dengan pekerjaan memberikan penerangan dan informasi tentang Indonesia melalui 32 buah buku yang sudah Sdr. tulis dalam bahasa Arab itu. Walaupun kini tampaknya seolah-olah tidak diperhatikan orang atau sudah dilupakan orang, saya yakin satu kali sejarah yang tidak dapat dipalsukan terus-menerus itu akan mencatatnya juga.[40]
Kendati demikian, nama M. Asad Shahab telah tercatat sebagai individu yang tak terpisahkan dari sejarah peperangan di Indonesia. Namanya tercantum dalam The Ensiklopedia of Indonesia in the Pacific War, yang menulis:
Shahab, Mohammad Asad (1910-2001) An Indonesian nationalist of Arab descent who did not avoid cooperation with the Japanese to reach an independent Indonesia. Shahab founded the pro-republican Arabian Press Board (APB) in Jakarta on 2 October 1945, which informed press agencies and newspapers in Arab and Islamic countries about the developments in the Indonesian Republic during the years 1945-50. Ruslan Abdulgani called the APB a vital link between the young republic and the Middle East. Asad Shabab sprang from a prominent, cosmopolitan Indo-Arab family. His father, Ali bin Ahmad Shahab, was a leading figure in the Jami’at Khair (Benevolent Association), an organization that wanted to improve education in Arab cirdes in the Indies. Asad Shahab went to school in Pekalongan and Surabaya, where he attended the Madrasah Samailil Huda and Madrasah al Khairiyah Aliyah. Later he tooks Dutch and English classes. He started his journalistic career in Batavia. From 1936 until 1938 he wrote for the weekly Tidar and from 1938 until 1942 for the newspaper Al Mughattam in Egypt and the magazine Al Irfan in Lebanon. At the end of the 1930s he became a member of PERTIMU (Persatuan Timur Muda, Eastern Youth Union), a small national-progressive, anti-colonial organization of students of different Asian origins. During the Japanese occupation he became secretary of the executive board and head of the young people’s section of the Arabujin Shido linkai (Arabs Guidance Committee) in Jakarta. In August 1944 at a large meeting of Javanese Arabs in Jakarta, Asad Shahab publicly thanked the Japanese authorities on behalf of the Arab community for the granting of equal rights to Indonesian and Indo-Arabs earlier that year. Also on other occasions he acted as representative of the Indonesian Arabs. After the Proclamation of Independence he resumed his journalistic activities, both as head of the newly founded APB and as contributor to several republican and Islamic newspapers and journals. By counterpoising Dutch propaganda, it hoped to expedite the recognition of the new state. Because of its influence on Arab and Islamic countries, the APB was a thorn in the eye of the Dutch. For that reason, the authorities in Jakarta severely opposed against the, in their opinion, biased and unreliable news coverage. By repeated interrogation of Asad Sahab and his associates, house searches, confiscation of documents and equipment, temporary closures of the office, the Dutch tried to force the press agency to a more balanced way of reporting. In 1950, shortly after the transfer of sovereignty, the APB was renamed Asian Press Board. Although it kept close contacts with press agencies in the Middle East, it now developed into the Muslim voice par excellence within the Indonesian press world. Disappointed with policies of Sukarno and the increasing influence of the PKI, it expressed criticisms about political developments taking place. At the end of 1962, in order to get more grip on the oppositional press, the Indonesian government forced the news board to unite with Antara. Having become an enemy of the PKI, Shahab was forced to leave the country early 1965. He settled in Saudi Arabia where he became secretary of the Rabithah Alam Islamy, the Muslim World League, writing innumerable articles in Arab newspapers. During his exile he also wrote a number of books, among which a critical study of the role of Sukarno and the PKI in post-war Indonesia. In 1984, Asad returned to Indonesia.[41]
Falsafah hidup Asad Shahab adalah bahwa hidup ini harus mempunyai pendirian dan memiliki tujuan. Dan berjuang untuk mencapai tujuan, itulah hidup. Bila manusia tidak mempunyai cita-cita dan tidak punya pendirian, dan tidak berjuang, maka hidupnya akan sia-sia belaka. Manusia harus berguna bagi sesamanya. Dan hidup harus selalu optimis, jangan pesimis, walaupun dalam keadaan susah harus tetap percaya kepada Allah SWT. Assad mengakui bahwa kegiatannya dalam pers nasional dan perjuangan adalah hanya untuk Bangsa Indonesia. Bukan karena ingin mendapat imbalan atau tanda jasa tapi karena sebagai kewajibannya sebagai bangsa dan putra Indonesia.[42]
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Rosihan, 2002. In Memoriam: Mengenang Yang Wafat. Jakarta: Penerbit Buku Kompas
Assegaf, Ali Assegaf, 1953. Lintasan Sejarah Berdirinya (Lahirnya) Jamiat Kheir. Jakarta
Ghazali, Zulfikar, 1995. Sejarah Lokal: Kumpulan Makalah Diskusi. Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional (Indonesia). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional
Hatta, Mohammad, 2011. Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi. Jakarta: Kompas
Ishak, Saidulkarnain, 2014. Jurnalisme Modern. Jakarta: Elex Media Komputindo
Isnaeni, Hendri F; 17-8-45, Fakta, Drama, Misteri, Jakarta: Change; 2015
Majalah Pantja Raja 1 Januari 1946. Lihat juga Pramoedya Ananta Toer, 1999. Kronik Revolusi Indonesia Bagian 1 (1945) Jakarta: KPG
Majalah Pembina, Volume 6,Masalah 3. Jakarta: Jajasan Lembaga Penjelidikan Islam Pembina, 1968
Noer, Deliar, 1990. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Jakarta: LP3ES
Panitia Peringatan HUT Ke-22 Perjanjian Persahabatan Indonesia-Mesir Jakarta, Tahun 1978. Sekitar Perjanjian Persahabatan Indonesia-Mesir Tahun 1947
Sagimun, M.D, 1988. Jakarta dari Tepian Air ke Kota Proklamasi. Jakarta: Dinas Musem dan Sejarah
Salam, Solihin, 1986. APB, Arabian Press Board, Sejarah dan Perjuangannya, Jakarta: Penerbit Panitia Sejarah APB
Salam, Solihin, 1922. Ali Ahmad Shahab, Pejuang Yang Terlupakan. Jakarta: Penerbit Gema Salam
Saleh, F Wasilah, 2016. Jam’iyyat Kheir Gerakan Modern Islam di Indonesia: Dari Perkumpulan Sosial Menjadi Yayasan Pendidikan 1901–1919; Yayasan Pendidikan Jamiat Kheir
Sekilas Tentang Perjalanan Hidup al-Habib Muhamad Asad bin Ali bin Ahmad bin Shahab (23 September 1910 – 5 Mei 2001) Jakarta: Islamic Center al Huda.
Shahab, A.M. 2017. Sang Penyebar Berita Proklamasi RI : Perjuangan M Asad Shahab dan Arabian Press Board; Jakarta: Change
Smith, Edwar C. 1986. Sejarah Pembredelan Pers Di Indonesia (terjemahan). Jakarta: Pustaka Grafitti
Suraputra, Djenal Sidik, 1991. Revolusi Indonesia dan Hukum Internasional. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia
Tagliacozzo, Eric (ed), 2009. Southeast Asia and the Middle East: Islam, Movement, and the Longue Duree. Singapore: NUS
- Lieberman & M.C. Ricklefs (editor), 2010. The Encyclopedia of Indonesia In The Pacific War. Handbook of Oriental Studies, Section Three Southeast Asia. Leiden: Koninklijke Brill NV.
Wacana, Jurnal Ilmu Pengetahuan Budaya, volume 9 nomor 2, Oktober 2007. Depok: Lembaga Untuk Transformasi Sosial
Wasilah, Saleh, F. 2016. Jam’iyyat Kheir Gerakan Modern Islam di Indonesia: Dari Perkumpulan Sosial Menjadi Yayasan Pendidikan 1901 – 1919; Yayasan Pendidikan Jamiat Kheir.
Yamin, Muhammad, 1960. Tafsiran Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Jakarta: Deparlu
Zuhri, K.H. Saifuddin, 2013. Berangkat Dari Pesantren. Yogyakarta: LKiS.
Sumber lain:
Harian Angkatan Bersenjata, 15 September 1992
Catatan Asad Shahab dan Bung Karno, naskah tulisan ini tanpa tanda tahun.
Surat Dr. Roeslan Abdulgani bertanggal 27 November 1985, dengan judul “Mengenang Perjuangan Bapak H. Asad Shahab Dengan APB-nya”, ditujukan untuk pimpinan Harian Berita Buana
Potongan fotokopi Majalah Amanah, nomor tak terdeteksi, tahun 1999
[1] Lihat tulisan Prof. M. Dawam Rahardjo berjudul “M. Asad Shahab: Pejuang Terlupakan”, dalam Shahab, A.M, 2017. Sang Penyebar Berita Proklamasi RI : Perjuangan M Asad Shahab dan Arabian Press Board. Jakarta: Change 2017, hlm. xii
[2] Keterangan Bung Hatta pada Majalah Akher Sa’ah di Kairo pada tanggak 23/12/1949 sekembalinya dari KMB, dikutip dari Panitia Peringatan HUT Ke-22 Perjanjian Persahabatan Indonesia-Mesir Jakarta, Tahun 1978; Sekitar Perjanjian Persahabatan Indonesia-Mesir Tahun 1947; 1978;
[3] Panitia Peringatan HUT Ke-22 Perjanjian Persahabatan Indonesia-Mesir Jakarta, Tahun 1978; Sekitar Perjanjian Persahabatan Indonesia-Mesir Tahun 1947; 1978; hal 7
[4] A.M. Shahab, 2017. Sang Penyebar Berita Proklamasi RI : Perjuangan M Asad Shahab dan Arabian Press Board; Jakarta: Change, hlm. v
[5] Saleh, F Wasilah, 2016. Jam’iyyat Kheir Gerakan Modern Islam di Indonesia: Dari Perkumpulan Sosial Menjadi Yayasan Pendidikan 1901–1919; Yayasan Pendidikan Jamiat Kheir, hlm. iii
[6] Lihat Deliar Noer, 1990. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Jakarta: LP3ES, hlm. 68
[7] Sagimun M.D, 1988. Jakarta dari Tepian Air ke Kota Proklamasi. Jakarta: Dinas Musem dan Sejarah, hlm. 213
[8] Zulfikar Ghazali, 1995. Sejarah Lokal: Kumpulan Makalah Diskusi. Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional (Indonesia). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, hlm. 34
[9] Saidulkarnain Ishak, 2014. Jurnalisme Modern. Jakarta: Elex Media Komputindo, hlm. 107
[10] Harian Angkatan Bersenjata, 15 September 1992
[11] A.M. Shahab, Sang Penyebar Berita Proklamasi RI, op cit, hlm 5
[12] Lihat wawancara Solihin Salam dengan Asad Shahab, dimuat dalam Majalah Amanah tahun 1999 (berupa fotokopi dimana nomor majalah tak terdeteksi)
[13] Muhammad Yamin, 1960. Tafsiran Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Jakarta: Deparlu, hlm. 75
[14] Djenal Sidik Suraputra, 1991. Revolusi Indonesia dan Hukum Internasional. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, hlm. 5
[15] Catatan Asad Shahab dan Bung Karno, naskah tulisan ini tanpa tanda tahun.
[16] Mohammad Hatta, 2011. Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi. Jakarta: Kompas, hlm. 93-94
[17] Majalah Pantja Raja 1 Januari 1946. Lihat juga Pramoedya Ananta Toer, 1999. Kronik Revolusi Indonesia Bagian 1 (1945) Jakarta: KPG, hlm. 242
[18] Karena tempat ini memiliki nilai sejarah maka untuk mempertahankan tempat itu, rumah itu dibeli dengan keputusan pimpinan APB untuk Kantor Berita APB pada tanggal 16 Oktober 1952. Pembelian itu dilakukan di depan Notaris Raden Kadiman dengan akte No. 95 tanggal 21 Juni 1953.(APB, Sejarah dan Perjuangannya, halaman 10)
[19] Solihin Salam, 1986. APB: Sejarah dan Perjuangannya. Jakarta: Panitia Sejarah APB, hlm 105
[20] Harian Angkatan Bersenjata, op cit
[21] Zulfikar Ghazali, 1995. Sejarah Lokal: Kumpulan Makalah Diskusi. Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional (Indonesia). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, hlm. 33
[22] Lihat Majalah Pembina, Volume 6, Masalah 3. Jakarta: Jajasan Lembaga Penjelidikan Islam Pembina, 1968, hlm. 30
[23] Majalah Pembina, Ibid
[24] Rosihan Anwar, 2002. In Memoriam: Mengenang Yang Wafat. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, hlm 356.
[25] Lihat Eric Tagliacozzo (ed), 2009. Southeast Asia and the Middle East: Islam, Movement, and the Longue Duree. Singapore: NUS, hlm 268
[26] A.M Shahab, op cit, hlm. 49
[27] Catatan Asad Shahab dan Bung Karno, ibid
[28] Paparan narasumber Abdul Muthalib Shahab (putra Asad Shahab) dalam Program TV One bertajuk Indonesia dalam Peristiwa, dengan tema “Peran Media dan Diplomasi Dalam Proklamasi”. Ditayangkan pada 27 Mei 2018.
[29] Abdul Muthalib, op cit, hlm 89-90
[30] Abdul Muthalib, ibid, hlm. 87
[31] Lihat Wacana, Jurnal Ilmu Pengetahuan Budaya, volume 9 nomor 2, Oktober 2007. Depok: Lembaga Untuk Transformasi Sosial, hlm 168
[32] Lihat K.H. Saifuddin Zuhri, 2013. Berangkat Dari Pesantren. Yogyakarta: LKiS, hlm. 421
[33] A.M. Shahab, op cit, hal. xii
[34] Keterangan Bung Hatta pada Majalah Akher Sa’ah di Kairo pada tanggak 23/12/1949 sekembalinya dari KMB, dikutip dari Panitia Peringatan HUT Ke-22 Perjanjian Persahabatan Indonesia-Mesir Jakarta, Tahun 1978; Sekitar Perjanjian Persahabatan Indonesia-Mesir Tahun 1947; 1978;
[35] A.M. Shahab, op cit, hal. xxi
[36] A.M. Shahab, ibid, hlm 10
[37] Lihat catatan M. Asad Shahab tentang kronologi pembubaran APB dalam A. M. Shahab, Sang Penyebar Berita Proklamasi RI, hlm. 117-119
[38] Harian Angkatan Bersenjata Selasa 15 September 1992
[39] Lihat surat Dr. Roeslan Abdulgani bertanggal 27 November 1985, dengan judul “Mengenang Perjuangan Bapak H. Asad Shahab Dengan APB-nya”, yang ditujukan untuk pimpinan Harian Berita Buana
[40] Petikan surat wartawan senior, alm. Rosihan Anwar, kepada Asad Shahab pada 9 September 1974, sebagai balasan ucapan selamat dan tanda mata dari Asad Shahab untuk pernikahan putri Rosihan Anwar pada 17 Juli 1974.
[41] V. Lieberman & M.C. Ricklefs (editor), 2010. The Encyclopedia of Indonesia In The Pacific War. Handbook of Oriental Studies, Section Three Southeast Asia. Leiden: Koninklijke Brill NV. Hlm 587-588
[42] Lihat paparan Asad Shahab kepada Solihin Salam dimuat dalam Majalah Amanah edisi tahun 1999, op cit, dengan judul “H.M Asad Shahab”
@Hurri Junisar 2019
